CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 32


__ADS_3

Bisma dan Andini telah kembali. Mereka menjalani aktifitas seperti biasanya. Berangkat kekantor sama-sama dan saat dikantor Andini tetap profesional dengan tetap memanggil Bisma dengan sebutan pak.


Saat Andini memasuki ruangan Alex untuk menyerahkan beberapa dokumen yang harus diperiksa, Alex menyuruh Andini duduk sambil menunggunya.


"Apa kamu benar-benar menyukainya?" Tanya Alex.


"Apa harus aku menjawabnya." Jawab Andini.


"Jika dia menyakitimu aku menerimamu sebagai pelarianmu!" Sambung Alex.


Andini menatapnya dengan sinis.


"Hehehe aku hanya bercanda, tapi jika itu terjadi datanglah aku menyambutmu dengan lapang dada." Alex tertawa.


"Jika sudah selesai aku akan mengantarnya kepada pak Bisma!" Ujar Andini.


"Bahkan kamu memanggilnya dengan sebutan 'pak'. Ehem apa kalian sudah melakukan itu?" Alex masih saja terlihat kepo.


"Mengapa kamu tidak tanya langsung kepada bosmu?" Andini menarik berkas dari tangan Alex dan menuju keruangan Bisma.


"Habislah harapanku jika kalian sudah melakukan itu." Sambil memegang dadanya Alex sok dramatis.


Saat masuk diruangan Andini mengetuk pintu dan langsung membukanya. Bisma sedang menelfon dan saat melihat Andini dia langsung menyudahi panggilannya.


"Bukan Sarah! Lihat panggilan keluarku. Aku menelfon pengacara Sunan." Bisma dengan sedikit berlari memperlihatkan panggilan keluarnya kepada Andini.

__ADS_1


"Hemm aku tidak sedang memata-mataimu pak, aku datang mengantar dokumen keuangan." Sahut Andini menahan tawanya melihat Bisma begitu ketakutan saat ia mendapatinya menelfon.


Bisma menyimpan dokumen dimeja dan menarik tubuh Andini kedalan dekapannya.


"Aku benar-benar takut kehilanganmu istriku."


"Mas, orang lain akan mendapati kita sedang berpelukan." Sahut Andini. Bisma bukannya melepaskan pelukannya dia malah menarik kepala Andini dan mencium bibir Andini. Andini melotot tapi dia tidak berani menolak Bisma untuk melakukan itu dikantornya. Tidak sampai disitu Bisma mulai meraba tubuh Andini tetapi Andini berhasil menahan tangan Bisma untuk melakukan itu.


"Mas apa kamu sudah gila?" Ucap Andini saat dia berhasil keluar dari dekapan bisma. Bisma mengusap bibir Andini dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu istriku!" Bisma tersenyum tanpa mempedulikan Andini yang begitu panik karena takut ada orang lain yang datang keruangan itu.


"Aku akan pergi, jangan lupa makan siang." Ujar Andini.


"Bos dan karyawan tidak diperbolehkan makan siang bersama pak Bisma." Andini merapikan dasi Bisma yang terlihat miring.


"Jangan bercanda, kamu istriku. Ayo duduk aku akan memesan makanan." Perintah Bisma dengan senyumannya. Andini mengiyakan ajakan Bisma untuk menemaninya makan.


***


Dilain tempat Sarah yang begitu gelisah karena nomornya selalu direject dan pesannya tak pernah dibalas oleh Bisma. Sebenarnya Sarah tidak pergi keluar kota dia masih berada didekat Bisma.


"Apa Bisma benar-benar menyukai gadis kampung itu? Harusnya aku bertindak lebih tegas bukannya berpura-pura baik didepan gadis itu. Kamu pikir kamu siapa yang bisa merebut kekasihku! Aku yang duluan mendapatkan Bisma maka aku tidak akan melepaskannya. Lihat saja aku akan mengambil kembali milikku!" Ucap Sarah.


Sarah bekerja diperusahan temannya Bisma dan Bismalah orang yang mencarikan pekerjaan untuk Sarah. Bisma diam-diam masih berhubungan dengan Sarah tetapi dia bisa menutupi hubungannya rapat-rapat dari pengacara Sunan. Tak muda bagi Bisma melupakan Sarah yang telah bertahun-tahun bersamanya. Walupun dia tahu Sarah telah membohonginya tentang masalah identitas orang tuanya. Tetapi setelah Andini mengetahui hubungannya dengan Sarah, Bisma mulai menghindari Sarah secara perlahan.

__ADS_1


Sarah kembali menelfon Bisma dan kebetulan Bisma sedang meletakan ponselnya diatas meja saat bisma dan Andini sedang makan siang bersama. Mata Andini dan Bisma tertuju pada layar ponsel dengan nama ' Sarah' yang tertera. Andini terlihat santai dan terus melanjutkan makan. Bisma terlihat berkeringat dan kebingungan hingga suara ponselnya berhenti berbunyi. Andini tak berbicara apapun seperti tidak sedang terjadi sesuatu yang menegangkan diantara mereka.


Mengapa situasi ini seperti ingin membunuhku! Tapi istriku begitu santainya duduk dihadapanku.


"Aku tidak mengangkatnya kan?" Ucap Bisma menatap Andini yang duduk santai dihadapannya.


Andini mengambil tisu dan mengusap keringat yang ada di wajah Bisma.


"Jangan lupa sholat dzuhur, jika mas Bisma masih sibuk setelah pulang kantor aku akan naik taksi pulang." Sahut Andini. Dia tidak mau menjawab pertanyaan mengenai Sarah dan hanya menjawab dengan jawaban lain.


"Aku akan bertemu klien. Aku pergi tidak sendiri ada Alex dan Naura yang menemaniku. Jika kamu mau ikut juga boleh agar kamu tahu aku tidak berbohong!" Bisma masih terbata-bata didepan Andini.


"Aku akan menunggumu dirumah mas." Jawab Andini sambil tersenyun.


"Terima kasih telah percaya kepadaku Istriku, aku akan menyuruh supir kantor mengantarmu!"


"Baiklah." Jawab Andini dan dia membersihkan mulutnya mengunakan tisu.


Karena mereka makan siang diruangan Bisma, Andini langsung berpamitan setelah makan siang.


"Aku mencintamu Andini." Ucap Bisma saat Andini ingin berdiri.


"Benarkah? Sepertinya aku tidak yakin dengan ucapanmu mas!" Sahut Andini dengan wajah serius lalu pergi meninggalkan Bisma dengan wajah terkejut dengan jawaban Andini.


"Ha lihat dia? Tenang, santai tapi seperti ingin membunuhku dengan jawabannya. Sepertinya aku kehilangan kepercayaannya. Apa yang aku lakukan? Ahh..." Batin Bisma.

__ADS_1


__ADS_2