
POV: Zee
"Zee, jangan lupa kalau lewat toko bawakan Ayah makan siang."
Pesan mama masuk via WA, karena akhir-akhir ini maag-nya ayah sering kambuh, lupa makan, dan banyak pikiran jadi faktor utama penyakit itu datang menghampirinya.
Mama begitu khawatir pada Ayah, tapi tidak padaku, buktinya mama tak pernah menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, sedang apa atau mau apa, tapi .... ah sudahlah ini hidup, Zee, nikmati saja.
"Iya."
"Jangan iya iya tapi enggak Zee, mama gak bisa kasih bekal tadi pagi, kakakmu Dilara badannya hangat. Mama gak bisa ninggalin dia."
Suara Mama terdengar kalut, ya kalau sudah berhubungan dengan Kak Dilara pasti mama akan begitu, panik, kalut, khawatir, cemas dan takut.
Tapi jika aku yang ... ah, Zee sudahlah, itu kan hal yang lazim dalam hidupmu, batinku terus berkecamuk.
Entah lah, biasanya aku santai menyikapi semua perlakuan mama, tak apalah, bukankah aku punya Ayah, yang begitu dan teramat sayang padaku, dan lagi pula aku punya ... Syaif!
Ah, raut si konyol itu kini bertengger di mataku.
"Zee, kamu dengar kan kata-kata mama?"
"Iya, Ma iya." balasku cepat, agar mama sedikit tenang.
Ah, rumah makan Padang harus menyeberang rupanya, letaknya sih tidak begitu jauh dari toko kelontongan milik Ayah.
Rumah makan langganan kami, semenjak dulu aku sering diajak makan di sana, agar bisa makan sepotong rendang atau ayam bakar yang aromanya benar-benar menggugah selera.
"Ingat ya, Zee, kalau mamamu tanya, bilang kalau kita belum makan," tegas ayah, saat kami beranjak untuk pulang.
Ayah, begitu banyak hal baik yang kau lakukan padaku, dan itu tanpa sepengetahuan mama, karena ayah tau mama pasti marah kalau tau kami makan di luar, sedangkan di rumah mama sudah menyisakan sepotong dadar telur, dan sedikit ayam goreng sisa kak Dilara untukku.
"Nanti kalau toko kelontongan kita laris, ayah akan belikan ayam goreng setiap hari untuk kamu, anak gadis kesayangan ayah," ucap pria baik itu, ketika melihat hanya ada tulang ayam di piring bekas makan kak Dilara, sementara untukku hanya disisakan kerupuk dan kecap saja.
"ini juga enak ayah, aku suka," ucapku, agar ayah tak khawatir.
Pandangan matanya penuh rasa iba, tangan itu membelai rambutku penuh kasih sayang.
"Ayah tau, kamu anak yang tak banyak menuntut, Zee, apapun yang ada pasti kamu makan, tapi kamu juga butuh gizi, butuh vitamin, mineral, dan semua zat-zat yang akan menyehatkan tubuh, kalau makan pake kerupuk terus bisa-bisa nanti otak kamu melempem kayak kerupuk, hehe ...." Ayah terkekeh.
"Kata siapa melempem? yang ada nanti aku bisa terbang ayah, kan kerupuk enteng, ringan, dan wushhh ... aku terbang," kuperagakan kedua tanganku layaknya sayap burung.
Ayah tertawa melihatnya.
__ADS_1
"Anak gadis ayah, kamu memang luar biasa, ayah bangga padamu," katanya, mengecup keningku.
"Aku juga bangga pada ayah, aku sayang ayah," kupeluk tubuhnya.
Jujur saja, terkadang aku takut, jika suatu saat aku benar-benar kehilangan pria baik ini, dan itu artinya aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
"Bawakan ayahmu makan siang, Gadiza Zidni," tiba-tiba terdengar lengkingan suara cempreng mama yang langsung membuyarkan lamunanku.
Hampir saja lupa, kalau tadi aku harus mampir ke rumah makan padang untuk membeli jatah makan siang untuk ayah.
Pasti Ayah suka kubawakan makan siang dengan menu ayam bakar plus sambel cabe ijo kesukaannya, walau jika mama tau bakal ngomel tanpa jeda padaku.
Kasian, sebulan ini ayah hanya makan sayur bayam dan tempe goreng. Apa salahnya kali ini kubawakan menu pavoritnya.
Terbayang wajah sumringah ayah yang bakal kutemui siang ini.
"Ciiiit...!" Bunyi rem berdecit, hampir saja sebuah sedan mewah melindas tubuhku.
"Hey, kau pikir ini jalan bapak moyangmu." gertakku, sambil kuketuk pintu mobil yang menepi.
"Kamu bosen hidup ya? Konyol masih muda mau bunuh diri," rutuknya.
"Kucing garong impor, siapa yang mau bunuh diri? Lu pikir gue pengecut, pake bunuh diri segala?" Mataku mendelik padanya.
Norak banget gayanya, lebay!
"Apa liat-liat, belum pernah liat cewek cakep?" tanyaku kasar.
"Haha... pede banget, lu, pake ngerasa cakep segala," pemuda itu tertawa mengejek.
"Heh, pake ketawa, lu belum tau aja siapa gue, jelas gue ngerasa cakep, tiap hari ayahku bilang begitu, Syaif juga, lu aja kagak kenal gue," aku bersungut-sungut, kesal rasanya melihat reaksi cowok belagu seperti dia.
Cowok itu mengusap hidung mancungnya dengan ujung telunjuk.
Dih, jorok banget dia!
Dari raut muka dan hidung bangirnya aku tau dia cowok blasteran, ditambah suaranya pun berlogat ala-ala Inggris gitu.
"Sini bayar uang kaget buat gue. Lu udah bikin gue jantungan," aku menengadahkan tangan.
Tanpa berkata lagi si cowok melemparkan uang seratus ribu ke mukaku, tanpa permisi lagi mobilnya melaju meninggalkanku yang mengumpat panjang pendek.
"Sialan dia kira gue pengemis, awas aja loe, gue inget plat mobil mewah loe, Brengsek!"
__ADS_1
------
"Kok manyun?" Ayah meneliti wajahku.
"Tadi ketemu cowok gila," sungutku.
"Gila apa ganteng?"
"Ganteng sih iya, cuma kelakuannya itu loh, Yah, nyebelin, sok kaya banget dia," jawabku, nyeruput teh botol dingin.
"Wah, anak gadis ayah sudah pintar menyimpulkan watak seseorang sekarang,"
"Bukan gitu yah, ah ya sudahlah, jangan dibahas lagi."
"Boleh ayah makan ini?" tangan ayah menyentuh bungkusan nasi yang kubawa.
"Bolehlah, ayah, Zee janji gak kasih tau mama, lagian ayah pasti kangen sambal cabe ijo kesukaan ayah kan?"
Pria itu mengangguk.
"Setelah itu ayah minum air hangat ya, dan ingat jangan terlalu banyak secukupnya saja."
"Siap bu dokter." Ayah mengangkat jempol.
Aku terkekeh geli.
"Zee, gimana lamaran kerjanya?"
"Tenang yah, besok ada wawancara, doain lulus ya." aku bersandar di punggung ayah.
"Selalu sayang, buat kamu anak gadis kesayangan ayah." ujarnya mengelus rambutku.
"Hmm!" aku berbalik memeluk tubuh yang mulai ringkih ini.
Seharusnya ayah sudah tak harus bekerja, di usianya yang menjelang 60 tahun, ditambah hipertensi dan maag yang bercokol di tubuhnya membuat raut mukanya semakin terlihat tua.
Rasa takut itu datang lagi, takut jika tiba waktunya pria baik ini pergi.
"Umur tidak bisa kita terka, Zee, siapa tau kita duluan yang meninggal, bukan ayahmu," nasehat Syaif terngiang di telingaku.
Semoga lamaranku jadi sekretaris di kantor pengembang properti itu berjalan mulus. Akan kupinta ayah untuk berhenti bekerja jika gajiku cukup menanggung hidup kedua orang tua dan kakak perempuanku Dilara.
doakan, Zee, Ayah!
__ADS_1