Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Dia Hidupku


__ADS_3

Pov: Jack


"Zed."


Sepi.


Tak berapa lama.


"Ya, im here."


"I miss u honey."


"Miss you too, Beb." balasnya cepat.


Aku membayangkan yang membalas pesan ini adalah Zee, dengan raut wajah seimut tadi pagi saat kami bertemu di kantor.


Ah, gairahku naik beberapa oktaf.


"Zed, i'll hug u now."


"Jack, hug me please, aku pun sangat merindukanmu."


Aneh memang, tadi pagi dia terlihat biasa, tapi jika sudah main lewat chat, akan berubah jadi cewek agresif dalam hal bercinta.


Tak kusia-siakan kesempatan ini, seperti biasa kami akan bercinta lewat udara, ya, dunia maya telah mengikat erat rasa ini.


Lenguh dan desahan Zed, menjadi irama indah yang membuat gelora birahiku menggelegar.


"Jangan hentikan di sana, Jack, ayolah, aku masih ingin." desahnya, dengan napas memburu.


Hanya tulisan, tapi seolah itu bisikan suaranya.


Kali ini aku semakin bergairah karena tau wujud asli gadis yang tengah bercinta online denganku.


"Oh, Zed! Ya, teruslah bertahan di sana, aku suka!" setengah menjerit, kuketik kalimat itu, dengan napas tersenggal.


Zed, mencumbu daerah paling sensitif di tubuhku.


Zee, Zed! Mereka telah membuat Mr Jack Nichol jatuh hati, bahkan aku menggilainya, sehari saja kulewatkan tanpa ngobrol dan bercinta dengannya, hidupku terasa hampa.


Zed telah jadi candu bagiku.


"Apa aku terlalu agresif malam ini?"


"Ya, tapi aku suka."


"Zed, kau terlihat lelah, ada sesuatu dengan hari ini?" aku memancingnya.


"Ya, aku melewati hari ini dengan lumayan lelah, banyak hal yang membuatku kecewa."


Rasanya ingin aku memeluknya kembali, mengelus kepalanya, dan merebahkan di dadaku.


"Tenanglah, Zed, ada aku di sini, semua akan baik-baik saja."


Tapi Lagi-lagi itu hanya dalam ilusiku saja.


Melintas raut wajah Zee yang bermata sembab seperti tadi pagi, itukah yang membuatnya kecewa?


Ingin sekali aku menanyakan itu, tapi percuma saja, Zed tidak akan menjawabnya.


Oke Zed! Kita ikuti saja alurnya. Asal aku tetap bisa terus bersamamu.

__ADS_1


Seperti biasa Zed menutup obrolan dengan mengirimkan siluet seksinya.


"Tidurlah cinta, besok kau harus bekerja."


Dia tak membalasnya.


 


"Tumben ngantor sepagi ini?" Laras menatapku, heran.


"Laras, jangan terlalu menyepelekanku. Sekali saja lihat aku ini seperti bosmu, layaknya kamu memperlakukan Dady-ku."


"Oh, aku selalu menganggap anda bosku, hati kecil anda saja yang menolaknya."


"Laras, sesungguhnya kamu tidak pantas jadi sekretaris, terlalu kaku, coba kalau kau jadi Polisi."


Dia menatapku tajam, seperti hendak menelan tubuhku.


"Mana nona Zee, apa dia sudah datang?" kualihkan perhatiannya.


"Sudah kuduga, Nona Zee lah penyebabnya." Laras tersenyum, baru kali ini sejak kami bertemu, wanita hamil ini tersenyum.


"Ah, kamu memang pantas jadi polisi, ahli Forensik kriminal, bisa menganalisa isi hati manusia."


"Dia belum datang. Beri hukuman padanya, jangan terlalu kau manjakan dia." Laras mendengus.


Hello! Hanya dia yang memanggilku dengan nada tidak sopan seperti ini.


Dad! Ijinkan aku memecatnya segera.


"Perintahkan nona Zee untuk menghadapku."


Baru saja selesai kalimat itu.


Ya Tuhan, suara merdu itu!


Dan! Wanita manis itu tengah berdiri persis di hadapanku. Darahku berdesir, desahan napas Zed terngiang di telingaku.


" Oh, Jack! Teruskan, teruskan sayang!"


"Pak!"


Suara Laras membuyarkan pikiran kotorku.


"Oh, tidak, kamu tidak telat, Zed! Kamilah yang datang awal waktu." ujarku.


Laras mendengus kesal.


"Ikut ke ruanganku, Zed!"


Dan gadis itu mengekor di belakangku.


"Zed?" Laras berseru ke arahku.


"Zee maksudku, Laras."


"Kupikir itu panggilan sayangmu padanya."


"Haish! Kamu tuh, mau kupecat?"


"Coba saja kalau berani?"

__ADS_1


Tuhan! Bisa kah jauhkan vampir itu dariku hari ini saja?


Wanita itu seolah tau jika hari ini aku hanya ingin menatap wajah manis gadis itu dan tak ada yang menganggunya.


 


"Kenapa telat?"


"Jarak rumah saya lumayan pak."


"Oh, jauh maksud kamu?"


Zed mengangguk.


"Maaf pak, apa saya akan disanksi?"


Aku tertawa.


Memberimu hukuman, Zed! Come on, itu konyol!


Yang ada aku ingin memeluk dan menciumi sekujur tubuhmu seperti tadi malam.


"Tidak!"


"Lalu kenapa saya dipanggil?"


"Bereskan ruanganku, Zed!"


"Membereskan ruangan? Apa itu tugas sekretaris juga?"


Aku tergagap.


"Tidak, bukan itu maksudnya, hari ini masih ada Laras. Jadi pekerjaanmu tak banyak, tidak salah kan jika aku memintamu membereskan ruangan dan meja kerja hari ini?"


"Begitu ya?"


"Hm!"


"Baiklah, mulai dari mana saya bekerja?" tanyanya bingung.


"Bereskan File itu, susun sesuai warna mapnya."


"Baiklah pak Bos."


"Zed, bisakah kau memanggilku Jack saja?"


"Jack? Tapi... "


"Jika kita sedang berdua begini saja, aku mohon."


"Boleh, akan saya coba pak, eh Jack."


Tangan gadis itu terlihat cekatan, raut wajahnya berseri.


Aku menikmatinya, menikmati pemandangan indah itu pagi ini.


Tuhan, aku mohon jangan renggut bahagia sederhana ini dariku, hari ini, besok, dan hingga nanti, saat aku bisa membawa gadis ini ke pelaminan.


"Zed, carilah apartemen yang lebih dekat dengan kantor, aku yang akan membayarnya." kata-kata itu meluncur begitu saja.


"Apa pak, eh Jack?" kini Zed terlihat bingung.

__ADS_1


Mungkin aku salah berkata.


 


__ADS_2