
Pov: Jack
"Pak, Nona Zidni menunggu anda." terdengar ketukan di pintu. Lalu suara Frans dengan napas tak beraturan.
"Oke, aku segera datang." jawabku.
Kini deburan di dadaku laksana ombak besar yang tak tertahan.
Sekian lama berkencan lewat e-mail akhirnya kami bisa bertemu.
Zed! Seperti apa rupamu? Secantik siluet yang kau kirimkan padaku? Atau lebih mempesona dari itu?
Tanganku bergetar saat memegang hendel pintu. Konyol memang!
Zed! Kau membuat pria pongah ini tak berdaya.
"Mana dia?' mataku meneliti semua ruangan.
Tidak ada Zed, tapi nanti dulu.
Ya Tuhan! Gadis yang tengah duduk, dengan wajah menunduk itu bukannya dia? Oh tidak!
Zed kah dia? Oh my God! Ini bukan mimpi?
Bukankah dia? Kuraba saku jas segera. Uang lima puluh ribu darinya masih ada di sana.
Inikah caramu mempertemukan kami, Tuhan? Menarik, sangat menarik!
"Hai, kau lagi!' gadis itu berseru.
Aku seperti sedang membaca pesannya, terbayang betapa manis dan menggairahkannya dia zaat mendesah ketika kami bercinta secara online.
Gadis itu menggigit bibir, mata bulat berkedip, lalu menyibakkan rambutnya yang tergerai panjang.
Dia berkulit hitam manis, bukan putih seperti dugaanku.
Tapi, hidung mungilnya terlihat lucu, dan gigi kelinci itu, oh tidak! Bayangkan kami bercinta memenuhi otakku.
Zed!
"Sudah kubilang, sisa uangnya nanti saja." ucapnya, kesal tapi kini tak sekasar tadi pagi.
__ADS_1
"Hust! Zee, dia bos besar, sopanlah sedikit padanya." Laras memberi kode.
Gadis yang dipanggil Zee itu terlihat bingung, dia mengerutkan dahi.
Tapi tunggu! Wajahnya sembab, apa Zed tadi menangis. Kenapa?
"Maafkan saya, Pak Bos, kukira anda mencari kerja juga." bisiknya.
Aku menatapnya lekat, tak akan kubiarkan waktu ini sia-sia, sekian lama aku menunggu perjumpaan ini.
"Pak, itu nona Zee, kenapa anda malah bengong?" Laras menepuk bahuku.
Astaga!
"Suruh dia ke ruanganku, Laras."
Bagai orang linglung aku berjalan kembali masuk ruangan pribadiku.
Tak berapa lama.
Pintu diketuk.
"Masuk."
"Pak, apa anda mau menghukum saya? Demi Tuhan, jangan sekarang, saya sedang malas debat, apalagi untuk membela diri."
"Aku tidak marah, mulai besok kamu saya terima kerja di sini, jadi sekertaris pribadi pengganti Laras."
"Serius pak?" mata bulat itu menatapku, seolah tak percaya.
"Iya, serius, saya tidak suka main-mian. Apalagi untuk hal penting macam ini."
"Syukurlah, anda baik sekali pak, terima kasih." ucapnya berkali-kali.
Ruat wajahnya terlihat lucu.
Hei! Rasa apa ini? Aku begitu bahagia saat melihat wajah Zed berseri.
Ya, aku benar-benar telah jatuh cinta padanya.
Zed! Tahukah kau jika aku Jack Lee, teman kencan online-mu?
"Peluk aku Jack, jangan lepaskan sebelum aku yang memintanya."
__ADS_1
Bisikkan menggoda itu datang kembali, hampir saja aku lepas kontrol!
Kenapa saat menatap wajah manis itu, bayangan saat kami bercinta memenuhi otakku? Gila, ini kegilaaan yang nyata.
"Pak, apa hari ini saya mau diwawancara lagi?"
"Oh, tidak, Zed, dan eh Zee." aku terbata.
Mengapa ditelingaku seolah dia berkata. "Jack, apakah kau masih ingin mencumbuku?"
Oh gila Jack!
"Kalau begitu bisa saya pamit sekarang?" tanyanya penuh harap.
"Bisa-bisa, eh tunggu dulu, Zed!"
"Zee, namaku Zee, bukan Zed!"
"Oh, maaf!"
"Tak apa, seseorang kadang memang salah memanggil namaku. Kadang aku dipanggil Zid, Zed, oh itu cukup seksi, dan terdengar manis." ujarnya.
Tuhan! Kenapa dia begitu tau isi hatiku.
Kami mungkin jodoh!
"Kalau begitu saya permisi pak. Besok saya bisa mulai kerja kah?"
"Tentu Zed. Maaf, Zee."
"Terima kasih pak Bos." Besok saya datang awal waktu.
"Aku menunggumu."
"Tapi pak, saya suka panggilan anda, Zed!" dia mengedipkan matanya.
Tuhan! Seksi sekali, seolah memintaku untuk menyergap dan membawanya ke alam hayal seperti biasa.
Jack. Sadarlah!
Tanpa bicara lagi, gadis itu pergi meninggalkanku. Tapi nanti! Oh tidak nomor ponselnya? Zed!
Dia sudah menghilang.
__ADS_1
Bodohnya aku.