
Pov Jack
"Pakai ini." kuletakan dua buah paper bag di atas meja.
"Apa ini?" mata bulat itu mengerling curiga.
"Buka saja."
Zed membuka bungkusan yang Kusodorkan.
"Aku gak mau pake ini."
"Zed, kamu itu sekretarisku, baik buruknya penampilan kamu itu akan punya imbas padaku."
"Tapi itu bukan berarti kamu terus-terusan ngatur apalagi memberikanku hadiah kayak gini Jack, aku gak nyaman tau."
"Hello siapa bilang ini hadiah? Aku berikan ini agar kamu lebih semangat bekerja, lebih bisa meyakinkan orang yang kita temui dengan konsep bisnis yang kita tawarkan pada mereka. Kalau perlu gaji kamu aku potong nanti." aku sedikit geram dengan sikap keras kepala kelinci kecil ini.
"Oke kalau begitu, tapi ingat jangan memberikan aku apapun, sebelum aku yang memintanya."
Aku mengangguk.
"Bersiaplah, kita akan bertemu klien pukul sembilan pagi ini.
Gadis manis itu tak menjawab.
👇👇
Tak kusangka, gadis ini pandai merangkai kata, hingga dua klienku manggut-manggut dengan pemaparan yang dikemukakan olehnya.
Aku tak berhenti menatap wajahnya. Menggoda sekali, apalagi saat dia berdiri dan menjelaskan konsep real estate yang akan kami bangun sebagai proyek pertamaku sebagai CEO di perusahaan yang Dady pimpin.
Tak sia-sia aku memilih dia, gayanya persis Laras, aku bahkan melihat ada sosok dan tatap mata milik Laras dalam tubuhnya.
Kenapa mereka begitu mirip sekarang?
"Untuk lebih jelasnya kita akan dengar langsung dari bapak Jack Nichol selaku direktur utama, silahkan Pak." Zed memberikanku waktu untuk bicara lagi.
Gila, dia mau menjebak atau mengetes kemampuanku sebagai pimpinan.
Padahal tanpa aku bicara pun para klien sepertinya sudah puas dengan apa yang dia tuturkan.
"Semuanya sudah dipaparkan dengan jelas oleh Nona Zed, adapun jika tuan-tuan ini mau menambahkan konsep baru, kami tunggu dan itu akan kita pertimbangan bersama." aku berusaha bersikap tenang, dewasa dan meyakinkan.
"Oke, Pak Jack, kami yakin akan kemampuan perusahaan yang bapak pimpin, ini memang kerja sama yang pertama kali, tapi kami sudah sering mendengar tentang kesolidan, serta keseriusan, dalam penanganan proyek juga nama baik perusahaan yang bapak pimpin." Pak Herman tersenyum puas.
"Kami percaya sepenuhnya pada perusahaan bapak." tegasnya.
Aku dan Zed berpandangan. Lalu tersenyum hampir bersamaan.
Baru kali ini dia tersenyum setulus itu padaku.
"Kalau begitu kerja sama kita akan segera ditindak lanjuti, setelah ini kita bicarakan hal-hal yang lebih urgen pada pelaksanaan proyek kita ke depan." pak Herman menjabat tanganku.
"Kami ucapkan terima kasih, bisa bekerja sama dengan bapak, sampaikan salam kami pada Tuan Jeremy Nichol, tentu dia bangga sekali pada Anda, pak."
Aku kaget dengan ucapan pak Herman.
Tapi segera aku mengangguk.
"Segera saya sampaikan." jawabku.
"Dan anda beruntung punya sekretaris seperti Nona Zed, Zee atau Zed, saya cukup bingung, tadi Nona Zee memperkenalkan diri begitu." dia mengerling pada Zed.
"Oh, ya tentu, namanya Zee, itu panggilan sayang saya." ujarku lepas kontrol.
Zed melotot mendengarnya.
"Semoga kalian jodoh." Pak Herman menatap kami bergantian.
__ADS_1
"Aamiin." jawabku cepat.
Zed, menginjak kakiku.
Galaknya Laras kini menempel juga padanya.
Pak Herman pamit meninggalkan ruang rapat.
Aku mendekati Zed.
"Terima kasih untuk hari ini." aku mengulurkan tangan.
Dia menyambut, wajahnya mulai ramah.
"Sama-sama."
"Kau hebat, Zed."
"Kau juga, Jack, penampilanmu hari ini terlihat beda." ujarnya terdengar tulus.
"Beda ya, tapi kau hari ini terlihat lebih beda, jujur kau gak nyangka kamu punya kemampuan publik speaking yang baik."
"Aku belajar dari kak Laras." jawabnya.
"Dia guru yang baik."
"Tentu saja."
"Tapi benar kan aku tadi tidak gugup?" tanyaku.
"Ya, kamu cukup keren, tapi tunggu, kenapa tadi kamu melihatku terus-terusan?"
"Kapan lagi aku bisa sepuas itu memandangmu, Zed." aku tertawa kecil.
"Menyebalkan." bibirnya manyun, Dia mencubit pinggangku.
"Maaf Jack, ah kukira kamu, Syaif." wajahnya terlihat menyesal.
Ah, Zed, kukira kau mulai menganggapku dekat, ternyata pria itu yang ada di pikiranmu sekarang.
Aku ke kamar dulu, Jack, kabar baik ini harus segera kusampaikan pada Syaif dan ayah, mereka pasti senang mendengarnya.
Aku mengangguk.
Syaif lagi. Nama itu sepertinya harus dan akan lebih sering kudengar.
Tapi tak apalah, dia cukup membuatku senang hari ini.
Zed berjalan cepat, aku menatapnya hingga tubuh mungil itu menghilang.
Lain kali aku harus bersikap lebih manis padanya.
Ponselku berbunyi.
"Hallo sayang." suara Mom terdengar ceria.
"Hai juga Mom."
"Kamu baik-baik saja kan? Lalu bagaimana hasil pertemuan hari ini?"
"Semuanya lancar, Mom. Terima kasih doanya, sampaikan pada Dady tugas pertamanya berhasil kulaksanakan dengan baik."
"Sukurlah. Kau memang anak Momy yang hebat."
"Tau wnggak Mom, sekretaris pengganti Laras juga luar biasa, dia bisa direkom pada Dad untuk jadi sekretaris pribadiku, walaupun Laras kembali ke kantor nanti."
"Sehebat itukah dia?"
"Tentu saja mom, kapan aku salah menilai Orang? pokonya Zed itu wanita hebat."
__ADS_1
"Hm! Sepertinya Momy mencium aroma orang yang sedang jatuh cinta."
Aku tersenyum.
Pembicaraan pun kami akhiri dengan saling mendoakan, aku bersyukur punya Mom yang terus memberikan dukungan, seburuk apapun perilakuku dulu, tapi Momy selalu ada di sisiku.
Aku menghubungi Zed, tapi ponselnya tak aktif, apa dia langsung tidur?
Tak berapa lama terdengar keributan, para karyawan terlihat panik.
"Ada apa ini?" tanyaku penasaran.
"Itu pak, lift yang menuju lantai 12 macet."
"Lantai dua belas? Siapa yang ada di dalamnya?" pikiranku mulai tak karuan.
"Ada lima orang pak, sepasang suami istri dengan dua anaknya, dan satu orang wanita muda."
"Bisa saya tau siapa mereka, soalnya teman saya di lantai dua belas dan barusan naik lift."
"Silahkan pak, masuk saja ke ruang operator CCTV, mari saya antar."
Bergegas aku mengikuti karyawan pria itu. Sedangkan hati mulai dilanda kecemasan luar biasa, wajah Gadis itu terus terlihat di mataku.
Semoga saja bukan kau Zed.
"Maaf pak, apa bapak sudah dapat izin dari pihak hotel?" pria berseragam menatapku.
"Hubungkan aku dengan manajer hotel ini, katakan padanya pak Jack Nichol ingin bicara."
"Baik pak."
Tak berapa lama.
"Oke pak, silahkan masuk ke ruangan ini, pak manajer minta maaf, nanti Beliau akan menghubungi bapak."
Aku mengangguk.
"Cepatlah, aku mau tau siapa yang di lift itu, temanku belum kembali ke kamarnya."
"Baik pak, ini."
Dia menunjukkan sebuah monitor.
Tuhan!
Gadis itu di sana, tengah memeluk seorang bocah perempuan, entah anak siapa?
"Zed!" aku berteriak.
"Itu teman anda pak?"
"Sudah berapa lama mereka terkurung disana?"
"Kurang lebih dua puluh menit pak."
"Dua puluh menit, dan kalian maaih tak berbuat sesuatu? Gila! Kalian bermain-main dengan nyawa manusia, bagaimana jika yang disana itu anakmu, atau istrimu? Bentakku, emosi mulai naik.
"Kami sedang mengusahakannya. pak, teknisi lift sudah kami panggil."
Dadaku berdebar hebat. Wajah Zed terlihat pucat.
"Panggil menejermu sekarang juga, katakan padanya, keluarkan mereka dari sana secepatnya, jika terjadi sesuatu pada Zedku, akan kuhancuran hotel ini." kugebrak meja dengan keras.
Wajah para karyawan itu terlihat ketakutan.
Zed! Betahanlah. Kau akan baik-baik saja.
Â
__ADS_1