
Pov: Zee
"Aku di depan."
Pesan Syaif kuterima.
"Tunggu If, aku membereskan meja Pak Boss," balasku, menyisipkan emot senyum di akhir pesanku.
"Oke." balasnya, emot hati menyertai pesannya.
Ah, Syaif memang selalu sabar.
Aku bergegas keluar ruangan, menuju tempat di mana sahabat sejati itu menungguku.
Benar saja dia tengah mematung di samping pos sekuriti.
Tubuh tegapnya terlihat memesona dakam balutan T shirt dan jeans biru, casual. Pas sekali, aku menghela napas, ternyata dia tumbuh dan menjadi segagah ini.
Ah, apa kau baru melihatnya Zee?
Hati kecilku tertawa melihat kebodohan sempurnaku.
Pantesan atlet jadi pilihan profesi untuknya, Syaif punya kemampuan untuk melakukan hal itu.
"Hai."
"Udah beres?"
Aku mengangguk.
"Pucat amat, belum makan ya?" dia mengusap dahiku.
Wajah Jack melintas, apa dia cemburu melihat kedekatan kami?
"Tadi cuma ngemil ini." kutunjukan kemasan Snack kentang goreng padanya.
"Itu tak cukup, Zee, kamu butuh karbohidrat, kalsium, protein, Gizi dan lain-lain." Syaif menatapku gemas.
"Sejak kapan kamu jadi ahli gizi?"
"Sejak wanita di sampingku ini mulai lalai akan kesehatan tubuhnya."
"Oh gitu ya?"
"Heeh, udah ayo kita makan dulu."
"If, aku mau makan ramen pedas, kepalaku berdenyut ria sekarang."
"Tidak ada Ramen pedas kali ini, kamu harus makan nasi. Perutmu butuh itu."
"Syaif!" aku merajuk.
"Tidak Zee." dia menjalankan mobil perlahan.
"Ayolah. Hanya ramen yang bisa mengembalikan mood dan semangatku."
"Hm!"
Dia menarik napas berat. Memgacak poni lalu menjentik bibirku dengan jarinya.
"Sakit."
Dia mengusapnya tanpa bicara. Tatap mata itu begitu menyenangkan, damai dan teduh.
Syaif! Kau Syaifku.
🌸 🌸 🌸
Pov: Syaif
Kami tiba di sebuah resto ramen pavorite Zee, wajahnya terlihat ceria, dan aku bahagia melihatnya begini.
Tuhan!
Bahagiaku sesederhana ini ternyata.
"Level lima ya." gadis itu mengangkat lima jarinya.
"Dua." balasku.
__ADS_1
"Lima." protesnya.
"Iya, lima." aku pasrah.
Lagi-lagi dia tersenyum, manis! Sangat manis.
Hatiku berdebar melihatnya, kenapa gadis nakal ini berubah menjadi semenarik ini sekarang?
Dulu dia pecicilan, cungkring, dadanya juga rata.
Tapi sekarang? Bibir miliknya menjadi seribu kali lebih menarik.
Gerak dan nada bicaranya sering membuatku menahan napas, dia tidak sedang menggodaku. Tapi aku tak kuat melihat kesempurnaan dirinya yang muncul dengan perlahan, seiring rasa aneh yang tumbuh di hati ini untuknya.
Zee!
Kamu tak secantik Dilara, tapi pesona luar biasamu membuat aku dan Jack tak berdaya.
Benar Adanya 'Tak ada persahabatan sejati antara pria dan wanita'
Aku kalah dan gagal menjaga rasa itu.
Zee lahap menyantap ramen yang disajikan pelayan.
Bibirnya memerah sempurna. Butiran keringat membasahi dahi dan ujung hidungnya.
Aku menelan saliva.
Kuulurkan tissue padanya. Dia menggeleng.
Nakal! Dia meminta aku yang mengusapnya.
Hah!
Entahlah, baru kali ini aku gugup di hadapan wanita yang kini tengah asik makan ramen pedas level lima yang rasanya pedas gila.
"Makan, If."
Dia menyodorkan sesuap mie padaku.
Aku menggeleng, menyeruput mocca late yang masih hangat.
Lalu tangannya menarik cangkir itu dari tanganku. Seperti biasa dia mengambil alih cangkirku.
"Mantap!" desisnya.
Aku mengelap sudut bibirnya.
Dia memajukan bibir beberapa senti, manis dan menggoda. Apalagi dalam keadaan basah dan merah efek pedas ramen yang dimakannya.
Aku termagu menyaksikan pemandangan indah ini.
Dari apa dia tercipta hingga menjadi seindah ini?
Atau ini hanya alih dari rasaku padanya. Rasa cinta luar biasa.
Ah, dulu dia tak semenarik ini, biasa saja, tapi sekarang? Tuhan, kenapa begini?
Dadaku bergemuruh hebat, apalagi saat Zee tersenyum manis padaku, dan mendekatkan tubuhnya padaku, aliran darah ini terasa menghangat, jantungku pun berdetak lebih kencang.
Tapi apa dia merasakannya juga?
"Apa liat-liat?" Zee mengangkat alisnya, " belum pernah liat cewek cantik ya?"
Aku melengos, sedikit syok karena sepertinya Zee tau isi hatiku, tapi yang kuucapkan lain lagi.
"Cantik apaan? Slengean, nakal begini, sok cantik,"
"Syaif, bisa tidak bilang iya, biar aku seneng, kamu ih," rajuknya, bibirnya manyun, seksi sekali gadis ini.
Ya ampun, Zee, kamu cantik, cantik banget malah, aku ... aku! tak sanggup kulanjutkan isi hatiku itu.
"Iya, nona, kamu cantik, bidadari aja kalah, kalau jauh," ujarku, menarik bahunya.
"Jangan bidadari apa, If, yang lain aja, Kate Midelton kek, atau Lisa Blackpink gitu," rajuknya lagi.
"Bidadari itu udah paling cantik, gak ada lawan lagi, Zee,"
"Justru karena itu, aku jadi mau, ketauan kan kamu bohongnya," dia cemberut lagi.
__ADS_1
"Serba salah, gak dipuji marah, dipuji nawar dan nyangka macem-macem," kuteguk sisa kopi milikku.
"Abisnya, mujinya kurang ikhlas," sungut Zee.
"Astaga, Zee, benar-benar deh kamu,"
Zee menarik tanganku, dan menggengamnya, sementara mulutnya sibuk mengunyah ramen.
Zee! Rasakan sedikit saja.
Aku menghela napas.
"Syaif," panggilnya, wajah Zee berubah, dia memegang perut lalu mengernyit.
"Apa? Jangan bilang lambungmu kambuh."
"Sayangnya iya." gadis itu menunduk, tangannya memegang perut.
"Serius kamu?" tanyaku khawatir.
"Iya, aku serius, sakit tau," keluhnya, meringis.
"Zee, sudah kubilang kan!" kudekap tubuh mungil itu.
"Sakit If." rintihnya.
Mukanya pucat seketika, gadis itu menggigit bibir untuk menahan sakit.
Aku panik luar biasa.
"Apa sakitnya terasa sekali?"
Dia mengangguk.
"Kau bawa obat lambungmu kan?"
dia menggeleng.
"Astagfirullah, Zee, kamu bandel sih, apa kataku," kugaruk kepala yang tiba-tiba terasa gatal.
"Syaif, sakit," rintihnya lagi.
"Tunggu di sini, jangan kemana-mana," kataku, dan secepat kilat aku berlari menuju apotek yang kebetulan tak jauh dari kafe yang kami tempati.
kurang dari sepuluh menit aku kembali, kusodorkan obat lambung padanya.
"Cepatlah minum," kuberikan botol air mineral padanya.
Dia mengangguk.
"Lain kali tak kuijinkan kau menyantap makanan sialan ini." kudorong mangkuk ramen itu kesal.
Zee tak menjawab. Dia menyusupkan wajah di dadaku. Napas yang terhela pelan, menelisik pori pori kulitku.
Kuusap kepala itu pelan, dia mendesah.
"If, makasih ya," lirihnya.
Tuhan!
Dunia serasa menghangat. Penuh warna dan rasa, aku tak bisa menggambarkannya
Jika ada tanya, doa apa yang kau pinta saat ini, aku akan menjawabnya sekarang "Jadikan dia milikku selamanya."
"Kalian romantis sekali." Pria yang duduk di sebelah kami berkomentar. Matanya dipenuhi kagum luar biasa pada kami.
Aku tersenyum, wajah Zee merona.
"Kekasih atau sudah suami istri?" pasangan pria itu menatap lekat.
"Masih angan-angan mbak, saya jagain jodoh orang." balasku, iseng. Zee mencubit perutku.
"Syaif, apa-apaan sih, kamu," dia merengut, tapi aku suka melihatnya begini, lebih cantik dan menggemaskan.
Aku pura-pura tergelak demi menahan gejolak hati yang semakin membabi-buta.
Pasangan itu terlihat bingung.
Sama mbak, mas, aku juga bingung.
__ADS_1
Dia Zee, wanita yang baik yang tak bisa kumiliki hati dan cintanya.
Â