Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Cinta Bukan pada Tempatnya Memang Menyakitkan


__ADS_3

Pov: Syaif


Zee menghambur ke pelukan ayahnya saat tiba di tokonya, pria paruh baya itu mengusap punggung dan kepalanya penuh kasih, mat pria itu basah, seolah ikut merasakan duka yang tengah melanda putri kesayangannya.


Sebagai laki-laki aku mati-matian menahan agar tak ikut menangis di sana.


"Sabar, Sayang, anggap ini ujian TUhan, karena Tuhan tau kamu adalah perempuan kuat, perempuan hebat, hingga Dia terus menjimu, untuk mengukur seberapa hebatnya kadar syukur dan imanmu," bisik om Hanif.


Zee mengusap air matanya, "apa aku akan sekuat itu, ayah?"


"Pasti, anak ayah pasti akan kuat, ayah tau siapa kamu, kita pernah melewati hal yang lebih sulit dari pada hanya sekedar percintaan seperrti ini, kamu tau bukan?"


Zee mengangguk, mungkin dia mengingat betapa buruknya kisah masa kecilnya dulu.


"Kamu pasti kuat, karena ada banyak laki-laki hebat di sisimu, ada ayah juga Syaif, iya kan, If?" Om Hanif berpaling padaku.


Aku mengangguk cepat, tersenyum pada Zee.


"Terima kasihku untuk kalian," katanya.


Aku dan Om Hanif tersenyum lalu mengangguk bersamaan, sambil berkata, "sama-sama, Nona manis,"


Zee tersenyum melihat kami


"Kompak bener kalian," katanya, tersipu.


"Iyalah, laki-laki jantan kek kami ini harus kompak, iya enggak Om?"


"Pastinya, If, eh iya, ngomong-ngomong tadi katanya kalian bawa nasi padang, mana bungkusan yang kalian bawa, kita makan yuk, om sudah lapar ini," Om Hanif mengerrti dengan pesan yang kukirimkan padanya sebelum kami tiba di toko kelontongannya ini, untuk mengakali agar Zee mau diajak makan bersama kami.


"Tenang, Om, ada kok, Zee, mana bungkusannya? Kita makan bareng yu!"


Zee memandangku, segera kukedipkan mata agar dia tak banyak protes, gadis itu manut.


Kami pun makan bersama, aku dan Om Hanif berusaha agar Zee tersenyum dan bisa melupakan hari-hari gelapnya, melupakan jika Jack kini entah dimana keberadaannya.


dan sepertinya usaha kami berhasil, wajah Zee berangsur ceria, mata sembab itu kini mulai berbinar kembali.


****

__ADS_1


"Syaif, ini aku Nadia, maaf aku pakai nomor baru, bisa tidak kita bertemu?"


Sebuah pesan masuk ke ponselku, rupanya dari Nadia.


Pantas saja nomor yang lama miliknya tak bisa kuhubungi, saat kudatangi rumahnya pun dalam kondisi ssespi, sementara kak Laras tak bisa membantu banyak, yang dia tau pak Jeremmy tengah mengambil cuti dengan alasan kepentingan keluarga, sebagai bawahan tentu saja kak Laras tak bisa bertanya banyak hal, saat pak Jeremmy memintanya untuk menggantikan tugasnya di kantor.


dan yang aku tak bisa pahami, pak Jeremi meminta agar Zee tetap bekerja seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi diantara Zee dan Jack putranya.


"Oke, diaman kita bisa bertemu?" balasku cepat.


"Kita bertemu di kafe saja, sebentar aku kirimkan lokasinya padamu,"


lalu tak berapa lama Nadia pun mengirimkan lokasi di mana kami bisa bertemu.


"Baiklah, aku tiba dalam tiga puluh menit, Nadia,"


Dengan tergesa aku mandi dan berganti pakaian, sebetulnya aku ada jadwal latihan taekondo malam ini, tapi bertemu dengan nadia adalah hal yang lebih penting dari apapun, karena dari Nadia aku bisa mendapatkan informasi tentang permasalah Jack, hingga keluarganya pergi secara diam-diam seperti ini.


"Mau kemana kamu?" tanya kak Laras


"Ada perlu bentaran, Kak,"


"Enggak kak, bentaran doang, temen ngajak ketemuan,"


"Siapa, Zee?"


"Bukan, Nadia, temennya Jack," jawabku jujur, aku tak biasa bohong pada keluarga.


"Jangan terlalu sering bertemu dia, kakak khawatir setelah apa yang terjadi pada Jack,"


"Siap kakak sayang,"


"Jangan lupa bujuk Zee agar tetap bisa bekerja, kakak butuh dia di kantor soalnya, If, lagi pula sekarang saatnya lah untuk bisa membuktikan pada tuan Jeremmy kalau Zee adalah perempuan hebat yang layak untuk jadi menantunya,"


Aku terdiam mendengar ucapan kak Laras, dan seolah paham akan hati dan perasaanku, kak Laras mendekat, lalu mengusap bahuku perlahan.


"Kakak tau bagaimana perasaanmu pada Zee, tapi kamu tidak bisa memaksakan apa yang ada di sini pada Zee, Sayang," katanya menyentuh dadaku.


Aku tersenyum kecut.

__ADS_1


"Syaif, jangan rusak persahabatan kalian dengan rasa cinta yang akhirnya akan melukai kamu dan Zee, buang jauh-jauh rasa itu, kakak tau Zee sangat mencintai Jack, akan sulit bagi perempuan untuk menerima cinta lain di tengah rasa cintanya yang begitu besar pada seseorang, If, cukup dengan menjadi Syaif, sahabatnya, orang yang dia percaya bisa jadi sandaran saat Zee membutuhkannya, itu lebih terhormat dan lebih berharga dari apa pun,"


Kutatap wajah kakak perempuanku itu, lalu kuanggukan kepala perlahan.


"Kakak percaya padamu, kamu laki-laki yang hebat, Zee punya hak untuk menentukan pilihannya, tidk didasari oleh iba, atau takut ditinggalkan olehmu, oleh kebaikanmu, cinta bukan itu Syaif, cinta itu adalah pengorbanan tanpa batas yang siap diberikan pada orang yang kita sayangi, kamu paham kan maksud kakak?"


lagi-lagi aku mengangguk.


"Kamu adik kakak yang paling manis, kakak bangga padamu," katanya, memelukku.


Aku tau dia pun ikut terluka saat sadar jika cinta adik kesayangannya ini hanyalah rasa sepihak saja.


"Tuhan pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu, karena kamu orang baik, If, percaya sama kakak, begitu pun dengan Zee, kakak lebih senang melihat kalian dekat dengan ikatan sahabat saja, jangan ada yang lainnya, buang rasa ingin memiliki Zee jauh-jauh, ingat pesan kakak ini, If," dia memelukku erat.


Untuk pertama kalinya aku menangis dibahu kakak perempuanku itu, Seorang atlet taekwondo berpestasi, akhirnya harus kalah, menangis oleh urusan perasaan, asmara, dan cintanya, kamu sudah kalah, sekarang, Syaif!


Ya, aku kalah, kalah oleh perasan gila yang kian hari kian merasuki otak dan pikiranku, rasa yang mungkin bisa menghancurkan persahabatan yang sudah sekian puluh tahun terjalin bersamanya.


Dan kak Laras tau betul, jika aku tengah ada dalam fase yang benar-benar mengkhawatirkan.


"Bagaimana bisa ini terjadi, Kak, aku tidak tau harus berbuat apa, aku ... aku ...." tenggorokkanku seakan tercekat, tak bisa lagi kulanjutkan perkataan itu.


"Kakak akan bantu kamu untuk menghapus rasa itu, belajar ikhlas melepaskan pada apa yang kta tidak berhak untuk memilikinya, seorang atlet harus sportif dalam segala hal, kalah menang adalah prestasinya, mengakui kekalahan setelah usaha dan latihan untuk kemenangan lebih bagus dibandingkan dengan kemenangan yang diiringi kecurangan,"


"Apa aku bisa kak?"


"Tentu saja bisa, Sayang, bisa, kamu kami didik untuk jadi lelaki sportif, jangan mencari celah saat Jack tidak ada, Jangan gunakan kesempatan ini untuk bisa meraih simpati Zee untuk bisa jatuh cinta padamu, ingat itu adalah hal yang memalukan, bukan cinta dan simpati Zee yang akan kau dapatkan, tapi kekecewaan dia yang ujungnya akan merugikan dirimu sendiri, kalau kau benar-benar mencintai Zee, bantu dia bangkit, bantu dia untuk bisa tegar dalam menghadapi apapun, dan ingat bantu dia agar tetap percaya jika Jack akan kembali dan mereka akan bahagia," tegas kak Laras.


Aku terdiam lama, hingga ahirnya kuangkat wajah dan berkata tegas padanya.


"Aku pasti bisa, Kak,"


"Pasti, If, pasti," kaka Laras kembali memelukku.


"Aih, ada apa ini, adek kakak peluk-pelukan sambil menangis," suara ibu terdengar, kami buru-buru menyeka air mata.


Kak Laras tersenyum padaku, sebagai kode jika dia akan mampu menjelaskan hal ini pada ibu nanti.


Aku membalas senyumnya, hatiku lapang sekarang.

__ADS_1


Zee, maafkan aku, untuk rasa gila yang mungin tidak pernah kau duga ini.


__ADS_2