
Pov: Syaif
Saat aku tiba, Nadia sudah ada di sanaitu menungguku dengan gelisah.
"Syaif, kenapa lama sekali?" tanyanya, suaranya serak.
"Maaf Nat, tadi aku bicara banyak dengan kakakku, jadi maaf kalau telat," terangku, harusnya tadi aku memngirimkan pesan agar dia tak khawatir saat aku terlambat datang, jujur saja aku sangat merasa bersalah padanya.
Nadia mengangguk setelah aku menjelaskan mengapa aku datang terlambat.
"Kakakmu pasti tidak suka kalau kamu datang untuk menemuiku kan?" gadis itu memalingkan wajahnya, raut itu digelayuti awan duka.
Bagaimana tidak, Nadia adalah korban perkosaan, dia akan menanggung trauma berat selama hidupnya, sedangkan orang tuanya tak memberikan dukungan penuh padanya, hanya sekedar pencitraan di depan media.
Orang tua mana yang membiarkan masalah besar seperti pelecehan yang berujung pemerkosaan dilarang untuk dibawa ke jalur hukum hanya karena takut jika nama baik mereka akan hancur.
Aku saja geram saat Nadia mengatakan jika papanya menolak untuk melaporkan Anto CS ke pihak ang berwajib.
Aku juga bingung, kenapa gadis yang dekat denganku selalu saja harus punya masalah berat, Zee, dan sekarang Nadia.
"Tidak sama sekali, kak Laras hanya khawatir jika aku terllau banyak bergaul dengan kaum yang kelas sosialnya lebih tinggi seperti kamu, Nat,"
"Jika saja aku bisa memilih, aku ingin punya keluarga yang harmonis, baik seperrti keluargamu, walau pun aku harus hidup sederhana, bahkan miskin, If," lirihnya.
Itulah hidup, Nat, orang yang hidupnya kekurangan rela bekerja menguras tenaga, bahkan rela melakukan hal-hal di luar nalar agar bisa hidup berkecukupan sepertimu, dan kamu justrupunya keinginan hidup biasa karena kekurangan kasih sayang, manusiawi sekali.
"Sudahlah, jangan bahas itu, kita langsung ke intinya saja, apa yang mau kau katakan padaku?"
"Sebenarnya aku tak tau harus berkata apa, karena om Jeremmy melarangku berkata pada siapapun akan masalah ini, juga papa dan mamaku, tapi aku terus kepikiran Zee, pastinya dia cemas, khawatir saat ini, aku ikut merasakan apa yang dia rasakan, If, makanya aku memintamu untuk bertemu sebelum aku pergi,"
__ADS_1
"Pergi? Kamu mau pergi kemana? Apakah kau akan menyusul Jack?" aku memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
"Ya, setidaknya kalau aku ada di sisi Jack aku bisa menguatkan dia, dan aku berusaha memberikan informasi tentang keberadan Jack padamu dan Zee nantinya,"
"Apakah ini kemauan pak Jeremmy?"
"Tidak, awalnya om Jeremmy menolakku, tapi aku berusaha agar dia memakluminya, aku dan Jack adalah sahabat baik, Jack terkena musibah itu gara-gara aku, mana bisa aku tenang tanpa melihat kondisinya," papar Nadia.
"Kalau boleh tau, kemana pak Jeremy membawa Jack? Zee sangat khawatir sekali pada Jack, aku tak bisa mengatakan apapun padanya,"
"Untuk saat ini aku tak tau, If, om Jeremmy sama sekali tak mengatakan mereka pergi kemana, papaku pun hanya berkata jika om Jeremmy mengizinkan aku menemani Jack, aku akan mengabarimu jika aku sudah bisa bertemu Jack nanti,"
"Lalu apa alasannya pak Jeremmy membawa Jack pergi tanpa memberitahu kami, padahal aku lihat dia sudah melunak pada Zee, sikapnya pun normal saja,"
"Aku tak tau banyak, tapi satu hal yang aku tau, gara-gara perkelahian antara Jack dan Anto, dan permasalahan yang menimpaku akhirnya polisi menutup beberapa club malam milik Anto CS yang ternyata di dalamnya dijadikan tempat penjualan narkoba dalam partai besar, perdagangan manusia, prostitusi dan lain sebagainya, dan katanya Anto hanya pemilik di atas kertas saja, sedangkan pemilik asli club-club malam mewah itu adalah rekan kerja pak Jeremmy sendiri, entah siapa namanya, Emm---Riyadi gitu kalau tidak salah, tapi aku tak tau pasti, dan mereka sekarang mengincar Jack karena dianggap biang keladi dari semua masalah yang menimpa mereka," Nadia menarik nafas panjang.
Nama itu tak asing bagiku, tapi aku tak bisa mengingatnya.
"Satu lagi, karena masalah itu salah satu club malam yang dikelola Anto ternyata gudang pembuatan narkoba, jadi kamu paham sekarang, yang dihadapi Jack bukan hanya Anto tapi mafia, bos narkoba yang punya jaringan besar di Indonesia, ini bukan masalah biasa, dan papaku sudah mencabut laporan yang aku buat pada pihak kepolisian, aku sudah kalah sebelum bertanding, Syaif," mata Nadia basah.
Aku menepuk pundaknya perlahan.
"Yakin Nat, akan ada keadilan untukmu, tidak sekarang mungkin nanti, para pria bajingan itu pasti dihantui rasa bersalah padamu, kamu yang kuat, yang sabar menghadapi cobaan ini," aku menguatkannya.
"Jack saja rela mati demi kehormatanku, tapi kenapa tidak dengan papaku, Syaif? Kenapa papa hanya takut kehilangan harta dan nama baiknya dibandingkan denganku, putri mereka satu-satunya ini," Nadia mulai tersedu.
Dengan rasa iba, aku meraih tangannya, jemari gadis itu terasa dingin, berkeringat.
"Tatap wajahku, Nadia, kamu akan kuat, akan baik-baik saja, aku, Jack dan Zee akan terus mendukungmu, kita cari cara agar para bedebah itu bisa menyadari kesalahan mereka dan menerima balasan atas perbuatannya, kirimkan saja nama dan apa saja yang kau tau tentang mereka padaku,"
__ADS_1
"Tidak If, sudahlah, aku tak mau ada korban lagi," Nadia terisak, gadis itu menyeka air matanya dengan ujung lengannya.
"Aku tak akan bertindak sebodoh Jack, Nat, percaya padaku, aku hanya ingin membuat mereka jera, bisa lebih menghormati wanita, dan tidak berbuat seperti itu lagi pada perempuan lain," tegasku.
Nadia mengangkat wajahnya, mata sayu itu menatapku lekat, lalu dia memeluk tubuhku erat.
Aku terperangah sesaat, lalu mengusap punggung Nadia perlahan, tak tau harus berbuat dan bicara apa, aku tak pernah memeluk perempuan selain ibu, kak Laras dan Zee saja.
"Terima kasih, Syaif, aku tak tau harus bagaimana, aku takut hal buruk terjadi pada Jack, aku hanya punya dia di dunia ini, hanya Jack yang menyayangiku dengan tulus, hanya dia yang mengerti perasaan dan isi hatiku," lirih gadis itu dalam sedu sedan panjangnya.
Tiba-tiba wajah Zee melintas, seperrti inikah perasaan Zee padaku, dia takut aku pergi darinya, walau pun sudah ada Jack sebagai belahan hatinya.
Nadia pun tak jauh beda nasibnya dengan Zee, hanya saja Nadia hidup bergelimang harta hingga orang awam tak tau sedih dan derita hatinya, namun, itulah mungkin yang lebih membuat Nadia menjadi lebuih terpuruk, hingga mentalnya down.
Zee masih beruntung dia punya ayah yang sangat sayang padanya, ada ibu, ayah dan kak Laras juga yang sama sayangnya pada Zee, ah, kenapa Zee tak bisa lepas dari pikiranku, dan saat ini, betapa aku ingin memeluknya, dan berkata jika masih ada perempuan yang ternyata lebih kurang beruntung darinya, dan dia kini tengah ada dalam pelukanku.
"Bisakah aku percaya padamu, Syaif, seperti aku percaya pada Jack?"
"Aku dididik oleh kedua orang tuaku untuk tak jadi pecundang, pembohong dan pengecut, aku menghargai wanita selayaknya aku menghargai ibu dan kakak perempuanku, Nadia."
"Beruntung sekali gadis yang bisa jadi pasanganmu nanti, Syaif," Nadia semakin erat memeluk tubuhku.
Benarkah itu, Nat, tapi mengapa Zee justru memilih hati yang lain?
"Syaif, jangan rusak persahabatan kalian dengan rasa cinta yang akhirnya akan melukai kamu dan Zee, buang jauh-jauh rasa itu, kakak tau Zee sanagt mencintai Jack, akan sulit bagi perempuan untuk menerima cinta lain di tengah rasa cintanya yang begitu besar pada seseorang, If, cukup dengan menjadi Syaif, sahabatnya, oarang yang dia percaya bisa jadi sandaran saat Zee membutuhkannya, itu lebih terhormat dan lebih berharga dari apa pun," kata-kata Kak Laras terdengar kembali.
Kutepis segera perasaan yang merusak hatiku itu.
Bersambung.
__ADS_1