
Pov: Jack
"Pulanglah, Sayang, Daddy tidak serius dengan ucapannya kemarin." ujar mommy dengan berurai air mata.
Wanita lembut itu membelai, mengusap rambut dan wajahku berkali-kali.
Sesekali dia menarik napas panjang.
"Tidak, Dad bisa saja becanda, tapi aku tidak."
"Ayolah, Jack, mengalah lah pada Dad mu kali ini."
"Mom,aku laki-laki, punya harga diri, sekali berkata maka tak akan kitarik lagi ucapan itu."
"Kalian sama-sama keras kepala. Mom selalu jadi korban keegoisan kalian." mata bemingnya dipenuhi butiran kristal yang perlahan mengalir di kedua pipi mulusnya.
"Mom, sayangku. Lihatlah aku, aku Jackmu, anak laki-laki kesayangan Mom, akan kubuktikan pada Dad, jika aku bukan laki-laki cengeng, manja, dan tergantung pada harta benda yang dimilikinya. Mom harusnya bangga padaku, aku sekarang sedang mencari jati diri, siapa aku sesungguhnya, bisa apa aku sebagai laki-laki." kuusap air matanya. Lalu kukecup dahi itu lembut.
Mom menatap wajahku.
"Sedewasa itukah Jack, putraku satu-satunya?" mata merah itu berbinar.
"Doakan saja Mom, agar aku bisa melewati semuanya, menyadarkan Dad hingga dia tau harta bukanlah segalanya, di luar sana masih orang yang tetap bahagia walaupun hidupnya jauh dari kemewahan."
"Jack! Tuhan, terima kasih, hari ini Mom baru menyadari jika kau banyak berubah, Sayang. Mom terharu dan bangga padamu." kami berpelukan.
__ADS_1
"Oh iya Mom, aku akan pindah dari sini, dan mencari pekerjaan lain, tapi yang pasti aku tak akan kuat bayar sewa apartemen ini lagi."
"Bicaralah pada Mom kalau kau membutuhkan sesuatu."
"Untuk saat ini sepertinya tidak," ujarku.
"Apa kau sudah makan?"
Aku menggeleng, karena sejak kejadian yang menimpa Zed, napsu makanku hilang entah kemana.
"Ayolah kita makan, mom sengaja bawa makanan kesukaanmu." sigap, wanita baik itu mengambil sebuah tas berukuran sedang, lalu mengeluarkan benda berwarna pink, warna kesayangannya.
"Sini sayang, mom kangen ingin melihat kau makan lahap lagi."
Tangannya kembali menyuapiku, rasanya gagal jadi anak mandiri jika sudah diperlakukan seperti ini terus olehnya.
"Aku rajin olah raga Mom. Aku mau badanku tegap seperti Syaif."
"Siapa Syaif? Apa dia temanmu?"
"Syaif adiknya Laras, sekretaris kesayangan Daddy di kantornya."
"Apa kau kenal dia?"
"Iya, dia sainganku, kami mencintai perempuan yang sama."
"Lalu,siapa yang dipilih gadis beruntung itu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku mom, apa mom meragukan kepiawaianku dalam menaklukan wanita."
"Percaya, Mom percaya padamu. Sebenarnya kau dan Dadmu sama saja. Sering membuat wanita tak berdaya."
Aku terkekeh. Mata Mom menunjukkan jika dia sangat menyayangi Daddku.
Tiba-tiba seraut wajah muncul, dan. Itu bukan wajah Zedku.
Siapa?
Tuhan!
Itu Wajah Dilara, kakaknya Zed yang beberapa hari lalu kutemui di rumah om Hanif.
Kenapa harus dia?
"Jack, ada apa? Kok bengong?"
"Tidak Mom, aku teringat seseorang."
"Apa dia calon mantu Mommy?"
Aku menggeleng.
Tuhan, Mom saja terlihat bingung, apalagi aku yang sama sekali tak mengerti kenapa wajah gadis emosional itu tiba-tiba muncul.
__ADS_1