Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Zed!


__ADS_3

Dia Lagi


POV: Jack Nichol


"Pak, segera masuk ruang rapat, Tuan besar sudah menunggu." Laras sekretaris warisan Dady menghampiriku.


"Hei, lihatlah, aku baru sampai, toleransi sedikitlah padaku, Laras."


Wanita yang tengah hamil itu menggedikan bahu, matanya berkedip dengan bibir sedikit maju.


Tanpa bicara dia melenggang meninggalkanku.


Oh my god! Bisa ya Dady kerja dengan sekretaris seserius dia? Untung saja bulan ini dia akan mengajukan cuti, setidaknya aku bisa bebas dari tugas yang dibebankan olehnya.


"Pak, tuan besar ngasih ultimatum, jika bapak tidak ikut rapat hari ini, maka akan dipindah tugaskan ke Kalimantan."


Lagi, Laras muncul di depanku.


Cewek ini, benar-benar menyebalkan, dan parahnya aku setiap hari harus bertemu dengannya.


Aturan Dady memang benar-benar kejam, dan si Laras ini sudah ketularan Dady-ku. mata dan suaranya pun sama, tajam dan menggelegar persis kek halilintar.


"Mau dipindahkan ke Kalimantan, Pak?" tanya Laras, matanya mendelik tajam.


Astaga, Laras! sikapnya tegas layaknya aku ini bawahannya saja.


"Buset! Ibu kota saja belum pindah, si Dady udah ikutan latah." rutukku.


"Hayolah, Pak, kalau tuan besar marah, maka kami yang akan jadi korbannya, mengertilah!" kini Laras seperti mengiba.


"Oke, Laras, tunggu aku tarik nafas terlebih dahulu." jawabku sedikit kesal.


"Tuan besar sudah menunggu lama, bisa runyam urusannya kalau begini terus," ketus Laras.


"Iya Laras, iya, aku tau, stop bicara lagi, kupingku pengang tau,"


"Ya itu karena bapak ngeyel, susah diatur,"


Aku mendongakkan wajah padanya, perempuan yang tengah hamil itu pun melengos.


Tanpa bicara segera aku memasuki ruang rapat.


Sesungguhnya ini adalah hal yang paling kubenci. Sungguh!


Wajah Dady menahan marah padaku, seandainya tak ada kolega bisnis tentu saja akan kudengar suara lantang miliknya akan menggema di seluruh ruangan ini,seperti biasa saat aku tak bisa memenuhi keinginan yang dia bebankan padaku.


Sorry Dad, untuk kesekian kalinya aku membantah perintahmu.


 


"Hai, Girls, what are doing now?" cepat pesan itu kukirimkan pada seseorang yang sudah lama kukenal walau cuma dalam dunia maya.

__ADS_1


Dia gadis luar biasa, tak pernah menggoda apa lagi merayuku, justru sebaliknya, terkadang aku yang merayunya agar mau membalas pesan yang kukirimkan.



Ya, aku hanya bisa bicara dengannya lewat e-mail, lucu bukan? Sedangkan ada banyak media sosial yang bisa kami gunakan.


Itulah hebatnya dia, gadis yang kukagumi dan diam-diam sering hadir dalam mimpiku, meski selama ini hanya siluet yang dia kirimkan sebagai bukti jika dia benar-benar seorang wanita.


Zidni, nama yang dia sebutkan, tapi aku memanggilnya Zed, menurutku panggilan manis dan cukup seksi.


Sesuai dengan raut siluet yang dikirimnya padaku.


"Im oke." balasnya.


"Zed, kapan kita bisa bertemu?" tanyaku seperti biasa.


"Nanti, waktu itu akan tiba, Jack." balasnya juga, jawaban yang sama persis setiap kali aku meminta bertemu.


Kami bicara banyak, seperti biasa dia selalu bisa menenangkan gundahku, meredam emosi yang meletup dalam dadaku.


Gadis itu seolah tau apa yang ada di hatiku, saat aku berkonflik dengan Dady sekalipun.


Zed, cewek istimewa yang dikirim tuhan untuk meredam hal gila yang akan kulakukan saat sedang emosi.


"Zed, bisakah kau rasakan rindu di setiap kata-kataku?"


"Rindu itu yang kita butuhkan saat ini, agar rasa yang ada di hati kita terjaga." balasnya diakhiri lambang hati.


"Hug me, baby!"


Kami larut dalam rasa, kubayangkan jika saat ini aku sedang memeluk tubuhnya, membelai rambut, mengusap bibir mungil menggoda itu, perlahan mengecupnya lembut.


Zed, mendesah, walau dalam untaian kata.


"Cukup untuk kali ini, Jack." dia menutup chatt kami.


Ah, aku masih ingin mendekap tubuh hangat itu, tapi seperti biasa Zed akan menghentikan komunikasi saat aku benar-benar sudah terlena.


Zed, i love u!


Tapi gadis itu tak membalasnya, sepertinya dia sudah offline.


Kembali Rebahlah aku dalam impian bersamanya, sial, lagi-lagi dia membuatku gila seperti ini.


Kapan aku bisa menemuimu, Zed? Aku tak sabar menunggunya.


Bayangan cantik dan seksinya gadis itu benar-benar sudah menghipnotisku, dan aku pun tak berdaya jika alam bawah sadarku sudah ada dalam pengaruh gila karena membayangkan indahnya bercinta dalam dunia maya dengannya.


"Jack, Ah!" dalam hayalku, terdengar lembutnya ******* Zed, seolah itu benar-benar nyata.


Kuteruskan mencumbu gadis itu dalam hayal dan mimpi indah, aku tak peduli jika yang tengah bercinta denganku saat ini hanyalah bayangan gadis itu saja.

__ADS_1


Zed! Gilakah aku karenamu?


Zed, pandai merangkai kata, dari untaian kalimat yang ditulisnya aku yakin dia gadis penuh kharisma.


Aku tak sabar ingin segera bertemu dengan cewek penuh misteri ini.


Tapi aku harus sabar, untuk mendapatkan berlian butuh proses panjang bukan?


 


"Jack, kenapa harus tinggal di apartemen, Momy ingin kamu pulang." wanita cantik dengan penampilan prima ini menyerahkan secangkir kopi padaku.


"Mom, aku sudah dewasa, dan aku tak mau tiap hari ribut terus sama Dady." kusandarkan tubuh di sofa.


"Sayang, Momy ngerti tapi gak harus juga kamu tinggal di sini."


"Ayolah mom, hello aku masih di Jakarta, Momy bisa datang kapan saja ke sini."


"Kamu itu sama keras kepalanya dengan dady-mu. Momy jadi sebal pada kalian berdua."


Aku buru-buru memeluknya.


"Mom, come on! Im here, its not too far, okey!"


"Okey, Jack, mama setuju kamu tinggal si sini, tapi jangan lupa kunjungi momy setiap akhir pekan, atau lebih bagus lagi seminggu dua kalo kamu datang ke rumah, kasian juga rumah kita, jadi sepi karena gak ada kamu," ucap Mama.


"Tenang, Mom, aku bakal sering datang ke rumah, dengan syarat, jika Dady tidak ada di sana,"


"Jack, sampai kapan kalian mau saling keras kepala begitu? Kalian sama saja, tak ada yang mau mengalah, Momy kadang bingung liatnya," keluh momy.


"Nah itu bagus kan, Mom, artinya aku benar-benar anak Dady, kan?" Aku terkekeh.


"Kamu pikir selama ini apa? Kamu anak siapa? Tukang bakso keliling? atau tukang servis AC rumah kita, ada-ada aja kamu, Jack," Momy merengut.


"Becanda Mom sayang, nah sekarang senyum dong, nanti aku usahain deh,"


"Janji ya," pinta Momy.


Aku mengangguk


Syukurlah kini wajah cantik itu tersenyum.


"Bawakan Momy menantu secepatnya sayang, momy kesepian, berikan cucu-cucu lucu untuk menemani hari-hari momy."


Ya Lord! Apa lagi ini?


Kepalaku terasa berat.


Menantu? Cucu? Ya ampun, Mom, pacarku saja masih tidak jelas, bagaimana aku bisa membawakan menantu dan cucu untukmu?


Gila saja permintaan Momy!

__ADS_1


Wajah Zed melintas, seolah tersenyum padaku.


"Tunggu Mom, sampai aku bisa bertemu dengan gadis misterius itu, aku akan jadikan dia mantu Momy, dan kami akan memberikan banyak cucu yang tampan dan cantik untukmu, Mom,"


__ADS_2