
Pov: Zee
Hari pertama masuk kantor rasanya seperti awal masuk dulu.
Bedanya kini semua mata tertuju padaku, Seolah-olah mereka berkata "Tak tahu malu sekali gadis itu, setelah kejadian memalukan dia masih mau kerja di perusahaan Jeremmy"
"Zee, selamat pagi." Kak Laras menyambutku dengan senyuman paling manis yang dimilikinya.
"Pagi juga Kak."
"Diantar Syaif?"
"Iya kak."
"Kemana bocah itu sekarang?"
"Dia langsung pulang kak, katanya harus nganter ibu belanja bulanan."
"Anak itu!"
"Aku kerja di tempatku kemarin kak?"
"Iya, Zee. Tapi hari ini bos menyuruhmu menghadap padanya terlebih dahulu."
"Tapi kak?"
"Zee, ini masalah kerjaan, soal Jack dan yang lainnya itu hal pribadi, dan Tuan Jeremmy tau itu."
"Apa dia masih menerimaku disini?"
"Sebagai karyawan iya, tapi untuk yang lain kakak kurang tau, tergantung dari caramu meraih simpati dan memperlakukannya."
"Kak!" Aku masih diliputi keraguan.
"Semangat sayang, ingat ini pekerjaan yang banyak diincar oleh orang di luar sana. Kau beruntung bisa diterima di sini."
Aku mengangguk.
__ADS_1
Demi keluargaku, ayah, Mama dan Kak Dilara, semua membutuhkan aku saat ini, masalah suka atau tidak tuan Jeremmy padaku, itu terserah nanti.
Jodoh adalah ketentuan Tuhan, jika Jack memang pria yang ditakdirkan untuk menjadi imamku, jangankan tuan Jeremmy, kami sendiri pun tak akan bisa menghalanginya.
"Nona Zee, Tuan Jeremmy memanggil anda." suara Firman mengusik lamunanku.
"Ayo semangat!" kak Laras mengangkat lengannya. Aku tersenyum.
Dengan hati berdebar, kulangkahkan kaki menuju ruangan bos besar kami.
Tuan Jeremmy Nichol!
Dulu ruangan ini diisi oleh Jack. Kini dia entah kemana, kabarnya tak kuketahui.
Ku ketik pintu perlahan.
"Masuk." suara bariton menggema.
Aku membuka pintu dengan jantung berdegup kencang.
"Silahkan duduk." pria itu berkata tegas. Dia menunjuk kursi di hadapannya.
"Kamu Gadiza Zidni?" tanyanya, bola mata hitam itu lekat menatap, meneliti sekujur tubuhku.
Risih rasanya saat mata kami bertatapan.
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini padaku.
"Apa kau siap kerja di sini kembali tanpa Putraku?"
"Siap pak!"
"Jangan harap kau dapat keringanan seperti saat Jack ada di sini."
"Saya tak pernah meminta keringanan itu pak, putra anda yang memberikannya." balasku.
Dia tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kinerjamu yang akan kulihat bukan penampilan atau pun raut wajah yang kau punya. Jadi tak usah bermanis-manis muka dihadapanku, Gadiza." ucapnya tegas.
Menohok jantungku.
"Saya tak punya penampilan menarik, saya bersyukur jika bapak mau melihat kinerja saya, soal manis muka tergantung siapa yang melihatnya, jika kebencian yang menghalangi pandangan seseorang, semanis apapun penampilan saya maka itu tidak akan terlihat." jawabku berusaha santai.
Sedangkan telapak tanganku berkeringat.
Raut muka pria itu sedikit berubah, tak setegang semula.
"Bagus kalau begitu. Silakan bekerja seperti biasa, klien yang kemarin ingin berbicara denganmu, temuilah setelah kuberikan berkas terbaru." pria setengah tua yang masih nampak gagah itu mempersilahkanku keluar.
"Apa sudah cukup, Pak?" tanyaku. Rasanya bisa kena asma jika berlama-lama di sini.
Pandangan tuan Jeremmy benar-benar mematikan. Aura orang nomor satu di perusahaan ini begitu kentara, benar kata Syaif, kak Laras adalah orang hebat bisa menaklukkan pria yang hatinya sekeras baja.
Dan kini, aku ada di sini, berhadapan langsung dengannya.
Aku masih tak percaya jika pria ini adalah ayahnya Jack, kekasihku. Dan itu artinya dia adalah calon mertuaku.
Zee! Jangan banyak berhayal, fokus saja oada pekerjaanmu sekarang!
"Zed, hubungi Laras untuk berkas yang harus kamu pelajari. Aku tak mau punya sekretaris yang hanya tau jadwal kerjalu tanpa tau hal-hal penting tugas pokoknya."
Kembali dia memanggilku.
Zed! Hah! Apa dia juga tertular oleh Jack, hingga memanggilku dengan panggilan aneh itu.
Jack! Aku merindukannya pagi ini.
Aku keluar ruangan, diiringi tatapan tajam Tuan Jeremmy.
Entah apa kesannya setelah pertemuan pertama kami ini.
Aku pun tak peduli, saat ini aku hanya ingin bekerja demi kelangsungan hidup keluargaku. Masalah pribadi akan kukesampingkan terlebih dahulu.
__ADS_1