Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Aku Mau Zee, Mom!


__ADS_3

Pov: Jack


Aku tersadar saat samar-samar kudengara percakapan dua orang yang tak lain adalah perawat yang tengah mengecek kondisiku, saat kugerakan tangan dan berusaha membuka mata.


Akan tetapi terasa sangat berat, sendi-sendiku seakan tak berfungsi, ragaku seakan remuk redam, dada ini pun sesak dan berat, apalagi kepala ini, pening di bagian muka, ada apa ini?


Ruangan bercat putih dengan aroma khas medis, serta selang-selang yang ada di tubuhku membuat aku sadar, tengah di mana aku sekarang, belum lagi dua perawat yang kini menatapku takjub.


Kugerakan kembali tanganku, perawat itu berseru kegirangan, lalu mereka memanggil nama seseorang yang sangat kukenal, Mommy-ku.


"Jack! Ya Tuhan, kamu sudah sadar, alhamdullilah," serunya penuh kegembiraan.


Sebetulnya apa yang tengah terjadi padaku, mengapa aku terbaring lemah tak berdaya di sini.


"Kenapa aku ada di sini, Mom?" tanyaku, tenggorokan dan bibirku terasa sangat kering.


"Stt! tenang dulu, Sayang, nanti Mommy ceritakan, ssekarang minum dulu ya," Mommy menyodorkan botol air putih dan membantu memasukan sedotannya ke dalam mulutku.


"Lekas pulih, anak kesayangan mommy, lekas membaik, jangan buat mommy lhawatir begini, mommy takut kamu kenapa-napa," perempuan dengan raut cemas itu memegang tanganku erat, meletakan telapak tanganku di pipinya.


"Mom, its oke, aku baik-baik saja," kataku, sambil terus mengingat-ingat apa yang terjadi padaku belakangan ini, hingga harus dirawat


"Mommy takut hal buruk terjadi padamu, kamu tau kan bagaimana arti kamu buat mommy?" tanya dengan mata basah.


Aku mengangguk, mengusap air mata yang jatuh perlahan di pipinya.


"Please, Jack! Jangan berbuat sesuatu hal yang konyol dan membahayakan seperti itu lagi, pikirkan hal yang akan kamu lakukan, mommy tak tau harus bagaimana, sedangkan mommy tak bisa menjagamu setiap waktu, seandainya saat itu kamu tak pergi dari rumah, pasti semua ini tak terjadi," keluhnya.


Aku tertegun, mencoba mengingat apa yang terjadi, kini perlahan bayangan itu muncul di benakku, bagaimana saat Nadia mengadu padaku, dan aku mendatangi klub malam milik Anto, dan perkelahian sengit itu tak bisa kuhindari, dan seraut wajah cantik melintas.


"Zee, mana Zee, Mom, aku mau bertemu Zee sekarang," kucoba untuk bangkit, dengan sigap Mommy melarangnya.


"Jack, tahan, jangan bangun dulu, kamu masih lemas, baru saja sadar, tenang dulu, ya, Sayang," pintanya, kaget dengan ekpresiku yang seakan baru sadar akan satu hal.


Ya, aku ingat semuanya sekarang, Zee, aku ingin Zee ada di sini sekarang, aku mau ada didekatnya, dia akan jadi obat paling mujarab bagiku, dengan hadirnya Zee pasti rasa sakit di sekujur tubuh ini akan hilang.


"Zee tidak ada di sini, Sayang, tenang lah dulu," pinta mommy lagi.


"Aku mau Zee, Mom, please, aku akan sembuh kalau dia ada di sini," lirihku.


"Oke, nanti mom akan bicara pada dad ya, tapi sekarang kamu tenang dulu, fokus saja pada kesehatan dan pemulihanmu,"


"Kenapa harus bicara pada Daddy, Mom? Mana ponselku, biar aku yang menelpon Zee sekarang, aku kangen gadis itu, Mom, kami sudah sangat lama tak bicara, dia marah padaku secara tiba-tiba, aku mau menjelaskan semuanya pada Zee, dia pasti khawatir padaku,"


"Mommy tau, Sayang, Zee sudah melihat kondisimu,"


"Berikan ponselku, Mom, aku mohon, aku akan memintanya datang untuk menjagaku, aku tak mau jauh-jauh dari Zee, please, Mom," aku mengiba padanya, semoga mommy mendengarkannya.


"Jack, Mom tidak tau harus berkata apa padamu, kita tunggu Daddy saja ya,"

__ADS_1


"Kenapa harus menunggu Daddy, Mom, aku hanya ingin bicara [ada Zee, kalau memang mom melarang dia datang ke tempat ini,"


Mommy sepertinya sangat kebingungan, rautnya panik, aku semakin tak memahaminya, apa Dad melarang Mommy untuk mengijinkan bicara pada Zee?


"Jika Zee tidak boleh kuhubungi, biarkan aku menelpon Syaif, aku mau bicara padanya, ayolah, Mom, ini Syaif, bukan Zee,"


"Jack, ponselmu tidak ada pada mommy, Sayang, harus bagaimana Mommy menjelaskan ini padamu?"


"Apa yang harus dijelaskan, Mom, katakan padaku ada apa?"


"Kita ... kita sekarang di luar negeri, dad membawamu ke sini demi keselamatanmu, demi nyawamu, pahami itu, Jack,"


"Tapi kenapa, Mom, kenapa dengan nyawaku?"


"Bos Anto seorang mafia Jack, dia pengedar Narkoba, mereka punya jaringan internasional, mereka kartel narkoba, klub malam itu hanya topeng saja, dan sekarang mereka terancam usahanya gara-gara keributan denganmu di klub malam waktu itu, kini kamu dianggap sebagai penyebab usaha mereka dilirik kepolisian, mommy juga kurang paham, nanti biar dady-mu yang menjelaskannya, cuma Mom minta saat ini, kamu tidak berhubungan dengan siapapun, itu pesan dady-mu,"


Ya Tuhan!


"Kenapa justru kita lari, Mom, harusnya kita hadapi semuanya,"


"Daddy-mu lebih punya perhitungan, dia orang bisnis Jack, tau betul siapa yang dia lawan, kita bukan lari, tapi menghindar, menunggu kesempatan baik, Dad ingin kamu sembuh dulu, tolong pahami sikapnya, kamu harta kami satu-satunya," lirih Mommy.


Aku tak bisa berkata-kata lagi.


Jika Dad menghindari mereka itu artinya musuh yang tengah dihadapi bukan orang sembarangan.


Tapi bagaimana dengan Zee, kalau mereka tau hubunganku dengannya Zee pun akan jadi sasaran mereka juga.


"Mommy akan katakan itu pada Dad, tapi pegang kata-katamu tadi," pinta Mom.


Aku mengangguk.


Terdengar ketukan di pintu, seorang perawat masuk dan berkata.


"Ada tamu, Nyonya,"


"Siapa?"


"Saya tidak tau, tapi dia punya kartu rekomendasi kunjungan untuk pasien atas nama Jack Nichol yang ditandatangani langsung oleh tuan Jeremmy," ujarnya.


Aku terdiam, penasaran pada orang yang dimaksud perawat itu.


Mungkinkah itu Zee, tapi rasanya mustahil, ah seandainya saja itu Zee, Tuhan tunjukkan keajaiban itu padaku sekarang.


"Persilahkan masuk saja," jawab Mommy.


Tak berapa lama suster keluar lagi, dan kembali dengan seseorang yang sangat kukenal.


Nadia!

__ADS_1


Gadis itu langsung memeluk tubuhku erat, tangisnya pecah.


"Jack, maafkan aku, semuanya karena aku sampe kamu harus seperti ini," ujarnya dalam isak pilu.


Tampak sekali rasa bersalah dalam setiap perkataannya.


Mungkin Nadia berpikir semua yang terjadi padaku adalah karenanya, tapi aku tak pernah berpikir seperti itu, bagiku Nadia berhak mendapatkan pembelaan.


" Sudahlah Nat, ini sudah takdir, suratan Tuhan, bukan karena kamu atau apapun, aku sudah membaik, kamu tenang saja," kuusap punggungnya perlahan.


"Aku takut sesuatu terjadi padamu, jika kamu pergi aku bagaimana Jack, hanya kamu orang yang peduli padaku, pada kehormatan dan harga diriku," lirihnya, pilu.


"Stt, jangan bicara seperti itu, aku baik-baik saja, kamu lihat kan?"


Nadia mengangkat wajahnya, lalu memelukku kembali.


"Cepatlah sembuh, aku sangat takut, Jack,"


"Aku sudah sembuh, Nat, kamu harus bersemangat, kita akan beri hukuman pada mereka,"


"Jack, jangan bicarakan itu lagi, Mom tidak suka itu," tukas Mom padaku.


Nadia menundukkan wajahnya dalam.


"Mom, sebagai perempuan harusnya mom lebih paham pada kondisi Nadia, dia butuh dukungan kita, ayolah," pintaku.


"Tapi Mom takut hal buruk terjadi padamu, Jack,"


"Jangan takut pada apapun jika kita ada di jalan benar, Mom harusnya bangga jika aku mati dalam keadaan membela seorang wanita,"


"Jack, sudahlah, benar kata tante, kamu tak usah bahas itu lagi, aku akan berusaha melupakannya," ucap Nadia.


"Tidak akan, Nat, aku akan lakukan semuanya agar kamu mendapatkan keadilan, ingat itu, tak ada yang akan bisa melarangnya," tegasku.


Mommy memandangku.


"Mom, percaya padaku, aku tak bisa diam saat perempuan direndahkan, dilecehkan, diinjak-injak harga dirinya, karena mom juga perempuan," kuraih tangan mommy, menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Tapi mommy tak mau ada hal buruk terjadi padamu, Sayang, pasti akan menyakitkan sekali untuk mommy,"


"Aku janji akan lebih berhati-hati, Mom,"


Mommy menciumku.


"Mommy bangga padamu, Jack," bisiknya, aku tersenyum mendengarnya.


"Nad, bagaimana kabar Zee, apa kamu bertemu dengannya? Atau Syaif, paling tidak kamu tau kabar Zee darinya," tanyaku pada Nadia.


Gadis itu menatap Mommy, lalu berpaling padaku, sepertinya dia sangat takut untuk bicara perihal Zee saat ini.

__ADS_1


Dan aku melihat mommy memberikan kode pada Nadia untuk tak bicara apapun.


__ADS_2