Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Ciuman Pertama


__ADS_3

Pov: Zee


"Zed... aku... Ingin menyatakan sesuatu padamu hari ini." Suara Jack hampir tak terdengar.


"Apa?"


"Aku...!"


"Hai Jack, kau di sini rupanya?"


Seorang gadis berbusana modis, menenteng tas branded berdiri diantara kami.


Lalu memeluk Jack erat, tak lupa ciuman didaratkan pada dua pipinya.


Aku memalingkan wajah. Rasa tak nyaman menjalari hati, menyaksikan dua manusia itu berpelukan mesra di depan mata.


"Hai, Nad, kamu di sini juga."


"Iya aku ada janji sama teman Papa. Kami sudah dua malam menginap di sini."


"Dua malam? Kok baru ketemu sekarang ya? Aku sudah seminggu di sini?"


"Seminggu? Di sni, sama dia?" Nadia melirikku.


"Oh, iya kenalin ini Zed, sekretarisku."


"Oh, iya aku ingat sekarang, dia cewek yang ada di infotainmen itu kan?" Nadia kembali melirikku.


"Zed, kenalkan ini Nadia temanku."


Kami bersalaman, Nadia terlihat akrab dengan Jack, mereka bicara tentang banyak hal, khususnya luar negeri, tempat mereka mencari ilmu, dan aku merasa menjadi monyet budeg, yang hanya menganggukan kepala.


Sesekali Nadia melendot manja pada Jack.


Mukaku serasa terbakar, ada hawa panas seketika.


Apakah aku cemburu? Hai Zed, siapa kamu? Dia Jack Nichol, punya hak apa kamu mencemburuinya?


"Maaf aku kembali ke kamar." tanpa menunggu Jawaban Jack, aku bergegas menuju kamar.


Sebelum tiba, air mata tak bisa kutahan, aku menangis.


Benarkah aku menangis karena seorang Jack Nichol? Ada apa ini? Ya Tuhan!


Tak berapa lama pintu kamarku di Ketuk.


"Zed, buka pintunya." Suara Jack terdengar.


Ngapain kesini? Urus saja gadis bule itu kalian pasangan serasi. Ingin rasanya kalimat itu kulontarkan saat ini, tapi tenggorokanku tercekat.


"Masuklah." kuhapus air mata yang membasahi pipi.


Jack berdiri dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Apa kau sakit?"


"Tidak."


"Kenapa kau pergi begitu saja tadi."


"Aku merasa gak nyaman, kalian sepertinya teman baik." kilahku.


"Atau, apa kau cemburu, Zed?" Jack menatapku lekat.


"Tidak." aku memalingkan wajah.


"Ayolah, akui saja Zed, aku senang kalau kau cemburu.'


"Siapa yang cemburu? Geer kamu."


"Hm!"


"Nadia cantik, kalian serasi kok." pipiku terasa panas saat mengucapkan itu, ada sakit di dada yang tak bisa kujelaskan.


Jack mendekat.


Aku mundur.


Dia terus merangksek hingga tubuhku menempel di dinding.


"Mau apa kamu?"


"Mundur Jack, menjauh dariku." aku menggertaknya.


Entah setan mana yang merasuki pria itu dalam sekejap bibirku sudah dilumatnya.


Tubuhku kaku, seumur hidup baru ini merasakan bagaimana rasanya di cium bibir oleh seseorang pria.


Nafas Jack begitu memburu, ingin aku berteriak menyuruh pria itu menghentikan aksi gilanya, tapi tubuhku menolaknya.


Dia mendekapku erat, bibir kami menyatu.


"Jack." desahku parau.


Dia hanya bergumam, terus melumat bibirku, sesekali digigitnya bibir bawahku dengan lembut.


Aku begitu menikmatinya, entahlah, ciuman Jack kali imi terasa hangat dan membuat seluruh ragaku seperti di suntik suplemen pembangkit gairah.


Bahkan, tak sadar aku membalas ciuman yang dia berikan.


Dunia serasa berhenti berputar, aku tak ingat apa-apa, hanya Jack saat ini yang ada di hatiku.


"Hm!" lenguhnya. Dia mulai merangsek mencium leherku.


Semetara kedua tangannya meremas pinggangku.


Suasana semakin tak terkendali.

__ADS_1


"Jack." akhirnya kudorong tubuh itu. Jack melepaskan pelukannya.


"Zed!" Jack kembali mendekatiku.


"Menjauhlah, Jack, aku mohon." aku hanya malu jika dia melihat ekspresi bahagia dari wajahku akibat ciuman pertama yang diberikannya hari ini.


Hangatnya masih menjalari tubuhku.


Aku memalingkan wajah, apa yang terjadi tadi, mengapa seperti ini?


"Maafkan aku, Zed, aku tak bermaksud kurang ajar, sumpah."


"Keluar dari kamarku, Jack, aku mohon."


"Tapi Zed."


"Keluar kataku."


"Oke, aku keluar sekarang."


Dia keluar dengan tubuh lunglai. Aku membantingkan tubuh ke atas kasur.


Mengapa begini Jack, aku tak mau jatuh cinta padamu. Aku tak mau Jack!


Ayah, aku kalah ayah, ternyata bukan Syaif laki-laki yang membuatku jatuh cinta, tapi dia, dia, aku jatuh cinta padanya.


Jack Nichol, pria kaya itu, telah berhasil membuatku selemah ini.


Syaif! Tolong aku, jangan biarkan aku mencintai dia, aku ingin jadi istrimu, seperti kata ayah.


Wajah dua pria itu menari di mataku.


Syaif, Jack! Mereka seolah berkata " Ayo Zee, siapa yang terbaik untukmu?"


Kuraba bibir ini, oh, masih hangat dan masih kurasakan bagaimana lembutnya ciuman dan gigitan yang tadi Jack berikan.


Jack!


Apa yang kau berikan padaku hari ini? Harapan untuk bahagia atau kau akan menyeretku ke lembah duka yang kembali harus kurasa?


Atau ini hanya permainanmu saja? Dan bodohnya aku karena tak menolak apa yang kau berikan padaku hari ini.


Aku lelah menunggu waktu di mana kami akan kembali.


"Zed, bersiaplah, jam tujuh malam aku menunggumu di mobil."


Pesan Jack, kubaca setelah aku membereskan pakaian dan memasukkannya ke dalam koper.


Aku tak membalasnya, dalam hatiku berpikir bagaimana aku bisa bertemu kembali dengan pria yang tadi menciumku? Apa yang harus kulakukan?


Jack! Seandainya bisa aku ingin menghilang dari hadapanmu untuk sementara.


 

__ADS_1


__ADS_2