
Pov: Zee
Saat aku membuka mata, tubuhku tengah terbaring di atas sebuah ranjang dalam ruangan beercat putih, Syaif duduk di sampingku dengan wajah panik.
"Zee, ada apa?" katanya sambil terus mengoleskan minyak kayu putih pada leherku dengan perlahan.
Aku baru teringat jika tadi aku datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Jack pagi ini, namun, hal yang sangat ganjil terjadi, Jak tak ada di ruangannya, dan para perawat itu berkata tak pernah ada pasien yang bernama Jack Nichol di sana, tapi aku ingat betul jika Jack diarawat di ruang ICU.
"Syaif, Jack sudah pergi, dia hilang entah kemana," lirihku, dada ini terasa kembali sesak, air mataku mengalir deras.
"Hilang bagaimana, Zee? Bukankah dia ada di raung ICU itu?" kamu salah masuk atau bagaimana?" Syaif justru bertanya padaku, rupanya dia masih tak paham apa yang terjadi, sepertinya tadi dia hanya fokus pada kondisiku saja.
"Tidak, If, aku tau betul, kamu pikir ada berapa ruang ICU di sebuah rumah sakit? Aku masih hafal betul, kecuali jika yang kualami kemarin hanya mimpi saja, tak ada cerita kalau Jack dibawa ke rumah sakit ini,"
"Apa benar begitu? Siapa orangnya yang membawa Jack pergi, dan apa alasannya? Kenapa mereka tak mengabari kita, khususnya kamu, Zee?" Syaif mengerutkan keningnya.
Aku menggelengkan kepala yang terasa semakin berat saja.
"Kamu istirahat di sini, biar aku yang mencari tau semuanya, rasannya ada yang janggal jika pak Jeremmy membawa Jack pergi tanpa mengabarimu terlebih dahulu," Syaif merapikan pakaianku, perlahan pria itu bangkit, hendak pergi dari ruangan di mana aku terbaring lemas.
"Syaif tunggu! Aku ikut," seruku.
"Zee, kamu masih lemas, tunggu saja di sini, aku pergi sebentar, setelah dapat kabar yang pasti aku segera kembali," ujarnya.
"Tidak mau, aku ikut," rengekku, sambil menggelengkan kepala.
"Zee, ayolah, aku ...."
"Syaif, aku ikut, mana bisa aku istirahat di sini sedangkan pikiranku seperti ini, yang ada aku bisa mati penasaran di sini, lagi pula aku hanya kaget saja tadi, sekarang aku baik-baik saja," aku merayu Syaif.
"Lalu bagai mana kalau kau pingsan lagi jika ada kabar buruk tentang Jack-mu itu?" Syaif mendekat, dia kembali duduk di sampingku.
Aku memasang muka melas, sebagai senjata andalan agar Syaif tak bisa menolak semua permintaanku padanya.
"Aku akan baik-aik saja jika ada kamu, aku akan kuat apapun yang terjadi, bukankah aku pernah mengalami hal yang lebih buruk dari pada sekedar kehilangan kekasih?" tanyaku, dengan suara bergetar dan serak, menatap lekat mata syaif.
Sedangkan kedua bola mataku berkaca, perlahan basah, aku menangis, tak bisa lagi kusembunyikan duka itu darinya.
Pria itu mengangkat daguku, mengusap lelehan air mata dari kedua pipiku.
__ADS_1
"Jangan menangis, Zee, katanya kamu akan kuat jika ada aku di sisimu, dan aku tak akan pernah meninggalkanmu sendirian, sedih seperti ini," Syaif mendekapku kedalam dada kokohnya.
"Mengapa jalan hidupu begini If, kenapa aku tak bisa hidup tenang, bahagia seperti yang lainnya?"
"Belum Zee, anggap ini ujian hidupmu, batu loncatan untuk masuk ke dalam ruang bahagia tanpa batas yang tengah disiapkan Tuhan untukmu, yakini itu," bisiknya.
Aku terdiam, kata-kata Syaif selalu bisa menenangkanku.
"Apa benar begitu?" gumamku, tak yakin.
"Benar sekali, aku berani bertaruh denganmu," tegasnya.
"Jangan pergi jauh-jauh dariku, If, aku bisa mati kalau kamu pergi," lirihku, takut jika suatu saat Syaif akan pergi seperti halnya Jack saat ini.
"Kita akan melewati ini bersama, aku akan terus di sini di sisimu, membersamaimu, hingga kelak kamu sendiri yang memintaku untuk pergi," balasnya, merapikan helaian rambutku yang berantakan, lalu menyelipkannya di telingaku, lalu dua berkata kembali,
"Aku tak akan meninggalkanmu, ingat itu, jangan pernah berpikir macam-macam tentang itu,"
"Tak akan pernah, aku tak akan pernah memintamu untuk pergi," kudekap kembali tubuh kokoh itu, dan kami berpelukan lama, hingga ahirnya aku melepaskannya.
"Kita temui perawat yang kemarin bertugas menjaga Jack, kalau tak salah namanya Gani Arifin, aku baca di papan namanya," tukasku, teringat sesuatu, ya perawat yang kemarin berbincang denganku, mungkin dia akan bisa memberikan penjelasan.
"Saif, mana bisa aku tersenyum dalam kondisi begini, ada-ada saja kamu ini," aku melengos.
"harus, pokoknya harus tersenyum, kalau tidak, lebih baik kita tidak pergi kemana-mana sekarang,"
"Oke, aku tersenyum sekarang," kataku, mencoba tersenyum manis, walau pun berat rasanya.
"Nah begitu dong, kamu cantik kalau tersenyum, jadi harus sering-sering seperti itu, Non, " katanya menjawil daguku.
"Syaif," aku memukul lengannya, dan dia langsung menuntunku keluar dari ruangan itu.
Beberapa pasang mata perawat menata kami, sepertinyamereka menganggap kami adalah pasangan kekasih.
Setelah bertanya pada seorang satpam akhirnya kami tiba di ruang perawat, dan pria berpakaian putih itu terlihat kaget saat melihat kedatangan kami.
Pria itu buru-buru pergi, aku mengejarnya, Syaif berjalan cepat di belakangku.
"Maaf, saya mau bertanya sesuatu, saya mohon jangan pergi, Mas," pintaku penuh harap.
__ADS_1
Pria itu celingukan, sepertinya dia takut jika ada yang melihat kami.
"Maaf Nona, saya buru-buru, ada tugas mendampingi dokter oprasi hari ini, dan kalau yang mau Nona tanyakan adalah perihal pasien bernama Jack Nichol, maka saya tidak akan menjawab apapun," jawabnya tegas.
"Tapi kenapa? Saya hanya mau tau saja, kenapa Jack pergi dari sini, kemana dia sebenarnya, dan siapa yang membawanya pergi?" Mataku berkaca-kaca kembali.
"Iya, mas, tolonglah, kasian dia," Syaif ikut berkata.
"Saya hanya petugas di sini, semua kebijakan rumah sakit, kami tak mau menanggung resiko lebih, mohon maklum adanya," pria itu pun terlihat sangat menyesal karena tak bisa membantu kami.
"Ada apa sebenarnya dengan Jack, Syaif, kenapa bisa begini?" aku menyandarkan tubuh ke dinding, lututku goyah, tak ada lagi harapan untuk mengetahui kabar kemana Jack dibawa pergi.
"Mas, tolonglah, lihat dia, apa mas tidak kasihan padanya?" kudengar Syaif bicara lagi, mencoba merayu Perawat itu.
"Bagaimana ya, Mas, bukannya saya tak kasian, tapi kami hanya menjalankan perintah saja,"
"Sudahlah, If, percuma saja, lebih baik kita pergi," tukasku, putus asa.
Syaif menggenggam tanganku erat.
"Kita akan cari cara lain, kita datangi rumah Jack, mungkin dia dirawat di rumah," ujar Syaif.
Baru saja kami bergerak beberapa langkah, perawat itu memanggil kami.
"Nona, lebih baik tak mencari keberadaan tuan Jack Nickol, karena orang tuanya yang membawa dia keluar dari rumah sakit ini, dan kalau tidak salah mereka akan membawa anaknya ke luar negeri, tapi saya tak tau kemana, hanya itu saja, maaf kalau saya tak bisa membantu banyak," ujarnya pelan, lalu dia meninggalkan kami yang terpaku.
Ternyata pak Jeremy yang membawa Jack pergi, tapi kenapa dia tak bicara padaku, lalu kemana Jack mereka bawa?
Luar negeri? Tapi kemana? Singapura, Amerika, atau Australia? Ah, Pak Jeremy punya banyak koneksi, dia juga punya banyak uang untuk bisa pergi kemana saja.
Aku teringat akan mimpiku tadi malam.
"Jack, akhirnya kamu pergi seperti dalam mimpiku," lirihku dengan bibir bergetar.
Syaif merengkuh bahuku.
Dia tak bicara, membiarkanku bermain dengan benak yang dipenuhi banyak tanya akan seorang Jack Nickol.
Lalu kemana kekasihku pergi, Tuhan?
__ADS_1
Bersambung