
Maaf ya kalau baru sempat post bab baru!
***
Pov: Zee
"Kamu di sini saja ya aku bicara dengan para polisi itu," ujar Syaif, aku masih menggenggam lengan kokoh itu.
"Apa tidak berbahaya bagimu?"
"Tidak Zee, aku saksi saja, kamu tenang di sini, jaga Jack, oke," pintanya, tersenyum manis padaku, lali jemari itu mengusap poni yang berantakan di dahiku.
"Syaif, jangan lama-lama," pintaku lagi.
"Iya, paling beberapa pertanyaan saja, aku pergi dulu ya,"
Aku mengangguk.
Setelah Syaif pergi, suasana benar-benar hening, Tuan Jeremy dan momy-nya Jack kembali menemui dokter, entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya kondisi Jack tidak baik-baik saja.
Aku menatap tubuh Jack dari balik kaca, pilu begitu menyayat hati, Nadia, Kak Dilara, dan entah siapa lagi gadis-gadis spesialmu, mengapa begitu banyak perempuan di sisimu, Jack?
Tapi mengapa aku begitu sulit melupakanmu, walau pun teramat sakit menahan cinta di hati ini padamu, aku tersiksa dengan perasaan ini, sangat dan teramat, Jack.
Mengapa begitu banyak hal yang kau rahasiakan dariku? Padahal aku ingat kita pernah bicara jika tak akan ada hal yang akan kita sembunyikan bukan?
Jack, jujur saja seberapa berartinya aku bagimu? atau tidak sama sekali.
"Nona sendirian?" tanya seorang perawat pria padaku, dia perawat yang bertugas khusus menangani Jack, sudah sekian kali aku melihatnya masuk ke ruangan ini.
"Iya, yang lain tengah di ruang dokter," jawabku.
"Berdoa saja agar pasien cepat sadar, sepertinya terlalu banyak kehilangan darah, dan luka tusuknya lumayan dalam, untung saja tidak masuk ke organ vitalnya," terang perawat itu.
"Bukankah tadi sudah mendapatkan donor dari teman saya,"
"Iya, tapi tidak serta merta bisa langsung pulih, malam ini akan operasi, doakan saja pasien aka mampu melewati masa kritisnya,"
"Apakah kindisinya benar-benar gawat?" tanya, khawatir.
"Ya, sangat gawat, tapi kami akan terus berupaya untuk kesembuhan pasien, yang terpenting keluarga sabar, kuat dan tetap memberikan dukungan penuh pada pasien dan kami yang tengah menanganinya,"
"Baiklah, semoga Jack bisa melewati semuanya, terima kasih, tolong rawat dia dengan baik, saya ... saya," lidahku mendadak kelu. mataku berkaca-kaca.
"Tenang nona, semua akan baik-baik saja," perawat itu menepuk bahuku, lalu memasuki ruangan Jack, dia mengganti tabung infusan, lalu menyuntikan sesuatu pada Jack.
Sedangkan pria tampan itu masih tak sadarkan diri.
Seandainya dia sadar dan baik-baik saja, pasti aku akan memarahinya.
"Jack, sok jago banget kamu, apa tidak bisa kamu mengajak teman datang ke sana, minimal kamu lapor polisi atau ...." mataku kini benar-benar basah.
Seandainya kami tak sedang dalam kondisi tak saling menyapa tentu kejadian ini tak akan terjadi, tapi ... ah sudahlah!
Momy-nya Jack kembali dengan sang Suami, mereka kembali tersenyum ramah padaku.
"Bagaimana Pak, apa Jack akan segera dioprasi?" tanyaku tak sabar ingin segera mendengar kabar tentang kelanjutan pengobatannya.
"Harusnya iya, tapi Jack masih terlalu lemah untuk operasi, harus menunggu sedikit pulih terlebih dahulu, operasi pun banyak prosedur yang harus diikuti, Zed," jawab pak Jeremy.
"Yang sabar ya, Sayang, Jack kita akan baik-baik saja," Momy-nya Jack merengkuhku, kami berpelukan.
Dua Wanita yang begitu mencintaimu tengah begitu khawatir, Jack, lihat lah!
Tapi Benarkah hanya dua wanita? Bagaimana di luar sana, pasti ada banyak wanita, gadis-gadis yang kini tengah sama khawatirnya dengan kami, dan kak Dilara pun pasti punya rasa yang sama, dadaku sesak seketika.
"Jack pasti sembuh, karena ingin segera melihatmu, Sayang," bisik perempuan itu.
Aku tertegun
Bukan aku tante, tapi ada wanita lain, mereka sudah begitu dekat, aku hanya gadis sepintas Jack saja.
"Zed membawa banyak perubahan pada anak kita, dia akan jadi gadis yang tepat untuk Jack, kami doakan kalian berjodoh," Pak Jeremy tersenyum ramah.
__ADS_1
"Aamiin," Momy-nya Jack menjawab, aku hanya diam, entah harus berkata apa.
"Jangan lupa telpon kantor, katakan kamu akan cuti untuk beberapa hari, Zed, atau untuk sementara waktu carilah orang yang bisa menghendel pekerjaan kamu di sana," saran pak Jeremy.
"Baik, Pak, saya sudah bicara dengan Susan, dia akan menggantikan tugas saya sementara waktu,"
"Bagus, kamu hebat, dalam kondisi seperti ini, masih ingat dengan pekerjaan, Zed," pak Jeremy tersenyum bangga.
"Kalian ini, pantas cocok sekali, ternyata sama-sama pekerja keras, dalam kondisi begini, masih membicarakan pekerjaan, luar biasa," tukas Momy-nya Jack, pak Jeremy berpaling pada istrinya.
"Pekerjaan itu kan hajatnya orang banyak, lagi pula kami punya banyak kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan, kalau lalai sedikit saja imbasnya para karyawan lain yang akan merasakannya, itu tidak baik juga, Sayang," dia mengusap punggung istrinya.
Sikapnya benar-benar mirip Jack, spontan, tapi manis luar biasa, sungguh anak dan ayah yang serasi.
Tak berapa lama Pak Jeremy menerima telpon dan bicara dengan istrinya, wajah mereka berubah drastis, tak seperti tadi, ada apa ini? Siapa yang menelpon tadi? Apakah itu dari dokter yang menangani Jack?
"Apa itu dari dokter?" tanyaku pada Momy-nya Jack.
Perempuan itu menggelengkan kepala, dia mau berkata sesuatu tapi pak Jeremy memberikan kode agar tak bicara apapun, aku melihatnya dengan heran, ada apa ini?
Lalu Syaif tiba, wajahnya nampak tenang, aku senang melihatnya.
"Bagaimana If?"
"Tenang Zee, semua baik-baik saja, jangan khawatir," Syaif mengusap kepalaku.
"Kamu temannya Jack?" tanya Momy-nya Jack.
"Dia yang menolong Jack, namanya Syaif, adiknya Laras," jelas pak Jeremy, menerangkan pada istrinya.
"Oh ini Syaif, Jack sering bicara tentang kamu, terima kasih sudah jadi teman baik anak tante," ucapnya pada Syaif.
Pria baik itu hanya mengangguk sopan.
Momy-nya Jack menatap kami bergantian.
"Zee itu sahabatnya Syaif, mereka berteman sedari kecil, makanya sikap Jack berubah drastis karena dia dekat dengan dua orang ini, paham kan, Sayang?" pak Jeremy lagi-lagi menjelaskan pada istrinya.
Kini aku dan Jack yang berpandangan, Jack kembali tersenyum, tangannya menggenggam erat jemariku.
Sekian jam berlalu, kami hanya fokus pada Jack, namun aku melihat raut pak Jeremy yang sepertinya sangat gelisah.
Pikiranku menerawang tak tentu arah, semua berkecamuk tak karuan, tak bisa kugambarkan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, aku merasa sangat khawatir dan takut untuk memikirkan hal lainnya, apalagi menyangkut Jack.
Pak Jeremy bukan orang sembarangan, bisa duduk dan bercakap dengannya seperti ini adalah hal yang luar biasa, apalagi dia mendukung hubunganku dengan anaknya, itu tak pernah kusangka sedikit pun, dan di kantor para karyawan pun sudah mengetahui dan menganggapku karyawan spesial pak Jeremy, serentak penghormatan dan sikap berbeda kini aku dapatkan di sana, walaupun aku tak memintanya.
"Istirahat dulu, Zed, kamu terlihat lelah," Pak Jeremy menatapku khawatir.
Aku menggeleng.
"Benar Zee, kamu harus istirahat, kalau kamu sakit bahaya, siapa yang akan menjaga Jack nanti," tukas Syaif, setuju dengan saran pak Jeremy.
"Tapi aku masih ingin di sini, If," protesku.
"Malam ini kami yang akan menjaganya, istirahat lah, Sayang, kembali lah besok," pinta Momy-nya Jack, dia menatapku penuh rasa iba, aku tak tau mengapa.
"Ayolah, Zee, kita pulang dulu, istirahat, besok pagi kuantar kembali kamu ke sini," tawar Syaif.
Aku terdiam, lalu bangkit ke arah kaca, menatap tubuh Jack yang masih terbaring tak berdaya.
"Aku pulang dulu ya, kamu baik-baik, lekas sehat, lekas pulih, aku janji tidak akan marah lagi, Jack," kuusap kaca dengan pelan seolah tengah menyentuh tubuhnya. dadaku sesak teramat berat beban ini.
Momy-nya Jack mendekat.
"Pulang lah, Sayang, tante janji akan menjaga Jack untukmu, sabar lah, semua yang kami lakukan untuk kebaikan kalian berdua, suatu saat kamu pasti mengerti, jangan membenci kami, berjanjilah, Zee," Momy-nya Jack mendekapku erat.
Aku tak tau mengapa dan ada apa? Sedangkan aku hanya mampu membalas pelukannya.
Dan akhirnya Syaif menuntunku ke luar dari ruangan itu, diiringi tatapan iba Momy-nya Jack, dan Pak Jeremy memalingkan wajahnya.
***
Malam itu aku tak bisa tidur cepat, pikiran buruk tentang Jack terus menghantuiku.
__ADS_1
"Mau pergi kemana kamu, Jack?" tanyaku cemas.
Sebuah pesawat nampak ada di belakangnya, pesawat pribadi, mungkin pesawat sewaan atau bisa juga milik pak Jeremy, ayahnya Jack.
pria berpakaian rapi itu tak menjawab, tapi tetap melanjutkan langkahnya.
Aku mengejarnya dengan panik.
"Kamu mau pergi kemana Jack? Kenapa meninggalkanku, apa salahku padamu, Jack?" aku mulai menangis, takut jika dia benar-benar pergi.
Tapi Jack terus melangkah, menaiki tangga pesawat, aku mengejarnya, dua orang petugas menahan langkahku.
"Jack, aku ikut, Jack ...." Aku berteriak ibarat orang gila.
Tapi perlahan pesawat bergerak, baling-balingnya berputar, dan perlahan naik hingga semakin tinggi, Jack tak terlihat lagi. dia sudahlah pergi entah kemana.
"Jack ...!" dan aku pun terbangun, penuh bercucuran di dahi dan hampir seluruh pori-poriku.
Astagfirullah, aku mimpi buruk.
Kutatap jam yang ada di meja rias kamarku, pukul lima tiga puluh, sigap aku bangun, sholat, lalu mandi, dan berpakaian lengkap.
Pukul enam tiga puluh aku menelpon Syaif, tapi dia tak aktif.
Ah, kemana anak itu, bikin aku makin kalut saja.
pukul tujuh pagi, aku putuskan untuk pergi ke rumah sakit tanpa Syaif.
Setengah berlari aku menyusuri lorong rumah sakit, menaiki lift agar bisa ke ruang ICU di mana Jack dirawat.
Namun aku terhenyak saat ruangan itu kosong, tak ada Jack-ku di sana.
"Jack dimana kamu?" aku bicara sendiri.
"Apa kamu pindah ruangan?" bisikku.
Segera kutemui petugas dan bertanya pada mereka.
"Saya mau bertanya, dipindahkan ke ruang apa pasien atas nama Jack Nickol, Sus?" tanyaku terengah-engah. nafasku tak beraturan.
"Pasien yang mana, Nona?"
"Jack Nickol, pasien yang kemarin masuk ICU,"
"Tidak ada pasien dengan nama Jack Nickol di sini," tukasnya.
"Jack Nickol, pasien di ruang itu," kutunjuk ruang ICU.
"Tidak ada, ruang itu kosong, sudah seminggu lalu, karena tengah direnovasi," tegasnya lagi.
"Apa? kosong? jangan main-main, Sus, kemarin Jack di sana, aku juga menjaganya, dia putra pak Jeremy, aku pacar ... ah, jelaskan yang benar, suster," kataku panik.
"Tidak ada, Nona, tidak ada pasien atas nama Jack Nickol di sini, kami tak tau apa-apa," tukas rekan di sebelahnnya.
Ada apa ini sebenarnya? tubuhku bergetar hebat, bingung, panik dan takut, aku takut mimpi itu nyata.
Syaif, aku harus menelponnya.
Dan dengan tangan bergetar aku meraih ponsel dari tas kecil yang aku bawa, kutekan nomor Syaif segera, berharap dia bisa kuhubungi segera, dan benar saja dia mengangkatnya.
"Hallo Zee, kamu di mana?" Suaranya cemas.
"Syaif, tolong aku, Jack-ku hilang, If, hilang!" aku berteriak kencang, tak kupedulikan tatapan orang-orang di sekitarku.
"Apa maksudmu, Zee?"
"Jack tidak ada di sini, Syaif, dia pergi, dia hilang," aku histeris, pandanganku mendadak kabur, tubuhku bergelar hebat, lututku goyah, semua menjadi putih tiba-tiba.
"Zee, hallo!" sayup masih terdengar suara Syaif di saluran telpon.
lalu aku ambruk tak sadarkan diri.
bersambung
__ADS_1