
Pov: Zee
Sekilas mata kami bertatapan. Ah, sepertinya aku kenal dengannya, tapi dimana? Wajahnya terasa familiar bagiku.
Apa dia kerabat ayah, atau ibu? Atau mungkin rekan yang pernah kutemui?
"Zed, proyek yang akan kita kelola di sini khusus akan ditangani oleh Tuan Yanuar, kita hanya sebatas penyuplai barang dan nanti dilanjutkan dengan sistem pemasarannya, selama ini aku sudah lihat ide kamu dibidang marketing itu cukup bagus." Tuan Jeremmy menatapku, seolah memberikan kesempatan bicara padaku.
"Begini pak, maaf kalau saya kurang sopan, setelah saya cermati, pangsa pasar disini kebanyakan buruh dan para ASN yang gajinya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, jika rumah ini dibuat khusus untuk pangsa pasar seperti mereka kita harus siap pula dengan konsep rumah minimalis, asri dan nyaman."
Tuan Jeremmy tersenyum dia menganggukkan kepalanya.
"Boleh saya lanjutkan?" mereka mengiyakan hampir bersamaan.
"Harga rumah pun harus disesuaikan dengan kondisi keuangan mereka, tidak terlalu mahal, terjangkau, jika rumah ini akan menggunakan sistem kredit untuk cicilan pun seharusnya tidak memberatkan mereka."
"Apa itu tidak merugikan perusahaan?" Tuan Yanuar menghisap rokok kretek yang baru saja disulutnya.
"Jika jumlah rumah yang kita kelola bisa terjual sesuai target ataua bahkan lebih, maka tidak akan ada istilah rugi, Pak."
"Aku mengajukan perumahan elite, untuk kaum menengah ke atas." Nada suara Tuan Yanuar seolah tidak setuju usulanku.
"Jelaskan Zed, aku akan mengikuti apa yang kau usulkan." Tuan Jeremmy kembali menyerahkan semuanya padaku. Aku heran, mengapa hari ini dia seolah begitu percaya padaku.
"Bapak sudah kenal kawasan ini? Seberapa jauh memahami dan keinginan warganya?"
"Untuk apa pulak aku harus pahami keadaan mereka," ketusnya.
"Tuan kita ini kan pedagang, kita mencari selera para pria penikmat dagangan kita, apa bapak bisa berdagang ikan di tengah masyarakat yang mata pencaharian nelayan? Atau bapak berjualan beras pada masyarakat yang mayoritas bertani? Tentu tidak bukan?"
Tuan Yanuar terdiam.
"Mengejar keuntungan besar tapi sedikit atau keuntungan yang sedikit tapi mengalir secara terus menerus? Selain itu itung-itung beramal pak, keinginan punya rumah sendiri bagi para buruh itu adalah satu impian besar, jika bapak bisa mewujudkannya otomatis bagi mereka bapak adalah dewa penolong."
__ADS_1
"Benar Yanuar, apa salahnya kita sesekali beramal, harta tidak kita bawa mati, harusnya kita malu sama nona Zed, dia masih bisa berpikir untuk beramal,padahal dia juga masih dalam kondisi yang jauh dari kemewahan." Tuan Jeremmy bergantian menatapku dan Tuan Yanuar.
Pria itu tak menjawab.
"Semuanya tergantung kamu, Yanuar, jika kau menolak saran Nona Zed, maka aku sendiri yang akan meneruskan proyek ini."
"Baik, aku terima semuanya. Tolong Nona Zed kirim padaku konsepnya segera akan kupelajari kembali bersama tim perusahaanku."
"Ini semuanya sudah di sini pak." kusodorkan map merah yang konsep dan perencanaan perumahan yang akan kami tanda tangani.
"Masih meragukan sekretarisku ini Yanuar?" Pak Jeremmy tersenyum bangga.
Sorot matanya memancarkan kepuasan padaku.
"Aku mengakuinya Jeremmy. Kau memang pintar mencari pegawai."
"Dia bukan sembarang pegawai, dia calon menantuku." pria itu berbisik pada tuan Yanuar, tapi aku masih mendengarnya.
Tuhan, benarkah ini?
🌸 🌸 🌸
Pov: Syaif
"If, jangan lupa obat ibu di apotek Sehat harus diambil sore ini."
Pesan ibu kuterima.
Sore ini kondisi apotek ramai sekali, aku harus antri dan masuk barisan.
Setelah hampir dua puluh menit, barulah aku bisa mendekati pelayan.
Namun gadis di depanku terlibat percekcokan dengan pelayan apotek tersebut.
__ADS_1
"Mbaknya gak bisa beli obat sembarangan, harus ada resep dokter, itu obat tidur dosis tinggi, hanya diberikan oada pasien tertentu, saya tidak mau bertanggung jawab." pelayan berkaca mata itu terdengar kesal.
"Saya beli mbak, bukan minta," Wanita muda di depanku tak kalah ngotot.
"Sudah saya jelaskan bukan? Saya tak melayani pembeli tanpa resep dokter untuk obat itu."
"Hayolah mbak, ini ketiga kalinya saya ditolak di apotek."
"Nah itu mbaknya tau."
"Saya mohon mbak, ini urgen banget." Wanita itu memelas.
"Maaf mbak, bisa mundur saya mau ambil obat dulu," kusela perdebatan tanpa ujung itu dengan kesal.
"Iya mas, ini mbaknya ngotot banget."
"Maaf tapi saya butuh obat itu."
"Kalau gitu mbak harus minta resep dokter dulu."
"Dokter tak mau memberikan itu.' mata sipit itu mengiba.
Lalu mundur dan pergi begitu saja. Aku langsung memberikan resep pada pelayan itu.
"Mbak tolong ini resep untuk ibu saya. Mohon disegerakan."
Tak berapa lama aku sudah bisa mendapatkan obat yang kumau.
Sigap aku kembali ke mobil karena ibu pun telah menelponku lagi.
Baru saja hasilnya hendak menyalakan mesin mobil, terdengar suara hantaman dari belakang bodi mobilku.
Tak berapa lama seorang gadis menghampiriku dengan wajah penuh penyesalan.
__ADS_1
Dia lagi, Ya ampun apa lagi ini?
Bersambung.