
Pov: Jack
Kesal rasanya melihat pihak hotel yang terlihat nyantai menangani kejadian ini. Padahal dari CCTV aku bisa melihat bagaimana kalut dan paniknya Zed dan pasangan suami istri itu.
Kamu pasti kuat, Zed.
Kulihat dia memberikan minuman pada nocah kecil itu, oh God, tingkah konyolnya yang selalu kutertawakan kini berguna, botol minuman usang bergambar Tweety itu selalu dibawa kemana dia pergi.
Katanya itu hadiah ulang tahun dari Mamanya, lima belas tahun yang lalu.
Pantes sudah selapuk itu.
Zed, terlihat panik, namun mencoba bersikap wajar, jemarinya pun gemeteran, seandainya aku yang disana akan kuberikan pelukan hangat seperti waktu itu padanya.
Bayi mungil itu mulai menangis kembali, zed terlihat mempermainkan ponselnya.
Apa dia mencoba menghubungiku? Atau Pria berbadan tegap itu?
Kuraih ponsel dari atas meja, kucoba menghubungi nomornya.
Sayang, semuanya sia-sia. Nomor gadis itu tidak aktif dan berada di luar jangkauan.
"Pak, tim pemadam kebakaran sudah datang mereka sedang menuju lokasi." seorang karyawan menatapku.
"Antarkan aku kesana." pintaku.
"Baik pak." dia mengangguk.
Dengan perasaan tak karuan kuikuti laki-laki berkulit hitam ini.
Ada empat orang petugas pemadam kebakaran di sana. Mereka terdengar berbincang serius.
"Tolong pak, secepatnya keluarkan mereka,"
"Apa istri anda ada di dalam pak?"
" Bukan, dia... Dia calon istri." kujawab dengan gagap.
Karyawan hotel saling berbisik, aku tak peduli.
"Baik pak, akan kami usahakan, bapak tenang saja, tunggu dengan sabar, ini sudah menjadi pekerjaan kami."
Tiba-tiba manajer hotel datang Menghampiriku.
"Maafkan kami atas musibah ini Tuan Jack Nichol, kami akan mengganti semua kerugian anda."
__ADS_1
"Kerugian? Menggantinya? Bajingan kau, kau pikir Zedku itu apa? Hingga kau bisa menggantinya, nyawamu pun jika diberikan tak akan bisa menggantikan Zedku, paham!" gertakku. Emosi mulai tak tertahan.
Manajer itu menundukkan kepalanya.
"Ingat baik-baik, jika Zedku, tidak selamat, atau ada hal yang membuatnya terluka, maka jangan sebut aku Jack Nichol, jika tidak bisa membuat kalian membusuk di penjara." telunjukku mengarah pada wajah manajer berwajah oriental ini.
Kini manajer hotel semakin terlihat ketakutan.
"Maafkan kami tuan, semuanya di luar kendali ini benar-benar musibah." jawabannya pelan. Nada suaranya sangat tertekan.
"Hotel macam apa ini? Apa kalian abai oada perawatan lift ini? Dan lihat hasil kelalaian kalian itu, lima nyawa terkurung di sana, aku tidak tau apa Zedku masih hidup atau mati di sana, bangsat!" nafasku terengah.
Dua petugas medis mengahalau kami, mencoba meredam emosiku.
"Sabar pak, semoga mereka baik-baik saja, kami mohon bapak tenang agar proses evakuasi ini berjalan lancar." ujarnya.
"Pergi jauh-jauh dari pandanganku, sebelum Zedku selamat jangan pernah tunjukan wajahmu di depanku, atau akan kutunjukan jika. Hotel yang kau kelola ini nol dalam pelayanan."
Manajer itu berjalan meninggalkan tempat kejadian. Wajahnya pucat pasi.
"Tuan Jack, lihat lifnya sedikit terbuka." teriak operator CCTV.
Aku tersentak lalu mendekati pintu lift yang sedikit terbuka.
"Zed." teriakku tanpa sadar.
"Iya, ini aku, kau baik-baik saja bukan?"
"Aku baik-baik saja, Jack, tapi tidak dengan bayi itu, dia sudah terlihat lemas."
"Tenang sayang, aku di sini, kau dan mereka akan baik-baik saja, tetaplah bersuara, aku ingin mendengarnya."
"Jack, maafkan aku."
"Maaf untuk apa?"
"Aku selalu berpikir buruk tentangmu."
"Tak mengapa Zed, aku sudah biasa diperlakukan begitu."
"Jack!"
"Iya, aku di sini."
"Jangan tinggalkan aku, tetaplah disana."
__ADS_1
"Tak akan pernah Zed, aku di sini menunggumu, kau harus kuat."
Lalu sepi, hanya isak bocah yang terdengar perlahan.
"Mundur dulu pak, sebentar lagi, bapak tenang saja dulu."
Petugas pemadam kebakaran itu menyuruhku mundur.
Lima menit, sepuluh menit kemudian, pintu lift terbuka, petugas medis langsung menghambur masuk, tak berapa lama gadis itu keluar digandeng satu orang petugas.
"Zed!"
"Jack." dia menghambur kepelukanku.
"Tenanglah, ada aku, kau akan baik-baik saja." kuusap rambutnya perlahan. Gadis itu terisak di bahuku, momen itu jadi sasaran empuk awak media, puluhan jepretan kamera mereka tertuju pada kami.
Aku tak lagi perduli, toh wanita pujaanku telah lepas dari bahaya, itu sudah cukup bagiku.
"Jack. Terima kasih." bisiknya lirih, tubuhnya begitu lemas, rupanya dia Sangat shock.
"Tenangkan dulu Zed, ayolah tarik nafas, hembuskan perlahan."
Gadis itu mengikuti perintahku.
"Sudah mendingan kan?"
Dia mengangguk, kembali merapatkan tubuhnya padaku.
"Ayo kembali ke kamar, kau harus istirahat."
"Tuan, nona Zee membutuhkan perawatan untuk memulihkan kesehatannya."
Gadis itu menggeleng.
"Zed, ayo ikut, kau butuh perawatan lanjutan."
"Tidak Jack, aku hanya butuh istirahat dan menenangkan diri."
"Tapi."
"Jack, sekali ini saja, aku mohon."
Aku mengangguk, kugandeng tubuh mungil itu menuju kamarnya.
Terima kasih Tuhan, kau telah mengabulkan doaku hari ini.
__ADS_1
Bersambung gaess, jangan lupa klik like follow ya!