Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Bahagiaku itu Kamu


__ADS_3

Pov: Jack


"Sepagi ini kau sudah mau berangkat ke kantor, Sayang?" Momy menatapku heran.


"Iya, Mom, haruslah, biar Dady bangga pada anak semata wayangnya ini."


"Ya Lord, thanks!" Momy berteriak gembira, mendekap tubuhku.


"Mom, biasa aja kenapa sih? Aku sudah dewasa sekarang."


"Momy heran, apa yang membuatmu berubah secepat ini?"


"Rahasia!"


"Jangan bilang kamu sedang jatuh cinta, sayang?"


"Kalau iya kenapa Mom? Gak boleh?"


"Cepatlah kenalkan gadis itu pada Momy."


"Sabar ya, Mom, belum waktunya."


Wajah wanita cantik itu sedikit kecewa, namun segera kupeluk tubuhnya.


"Secepatnya mom, aku sedang menyiapkan waktu yang tepat agar dia siap ketemu Mom."


"Oke, Momy akan sabar menunggunya." bisiknya.


Kami tersenyum bersamaan.


Ah Mom kau belum tau betapa menariknya calon menantumu itu.



Semangatku untuk masuk kantor dan bekerja begitu menggila setelah Zed bekerja sebagai sekretaris pribadiku.

__ADS_1


Aneh, Laras belum juga cuti, sabarnya dia membimbing Zed dalam bekerja.


Sikapnya berbeda saat bertemu denganku.


"Laras, aku bingung, bosmu itu aku atau Zed? Kau terlihat sangat ramah padanya."


"Aku ramah pada setiap orang, kecuali mahluk manja tak punya sikap seperti anda."


"Apa? Aku tak punya sikap katamu?"


"Ya, anda terlalu manja, andai bukan anak dari seorang pengusaha kaya, saat ini aku yakin anda akan menjadi sampah." sungutnya.


Busyet! Mulut wanita ini tajam sekali! Aku doakan anaknya mirip denganku.


"Kejam amat kau. Aku kan sudah bekerja keras akhir-akhir ini, apa kau tak melihatnya?"


"Kau bekerja bukan untuk dirimu, tapi karena dia." Laras melirik Zed, yang tengah asyik mengetik jadwal meetingku.


Ya ampun! Dia cenayang rupanya, selalu tau apa yang ada di hatiku.


"Kapan anda mau sadar, jika anda adalah harapan satu-satunya ayah anda."


"Bekerjalah dari dan dengan hati." Laras meninggalkanku yang termagu.


Apa maksudnya? Heran nih cewek hamil omongannya pedas laksana saos cabai.


"Pak, ini jadwalnya, kerjaan saya sudah beres, dan sudah waktunya saya pulang."


"Tunggu, Zed, bisa aku mau mengantarmu pulang?" aku berharap dia mau menerima tawaranku.


"Maaf, saya harus mengambil hasil chek up media ayah saya ke klinik, mungkin akan memakan waktu yang lumayan lama." kembali gadis itu menolaknya.


"Tak apa, Zed, aku bisa menemanimu."


"Lain kali saja pak."

__ADS_1


"Jack, panggil aku Jack."


"Oke Jack, maafkan, mungkin besok saja."


"Baik, aku pegang janjimu, besok akan kuantar kau pulang."


Zed mengangguk, lalu membereskan mejanya.


"Aku pulang Jack."


"Hai, tunggu, ini bonus yang kujanjikan padamu minggu ini."


"Bonus karena kerjamu bagus." kuserahkan amplop coklat padanya.


"Belilah, beberapa potong pakaian Zed, minggu depan kau harus ikut denganku keluar kota."


Gadis itu tak menjawab, dia membuka amplop dan menghitung jumlahnya.


"Ini terlalu banyak, Jack."


"Tak apalah, plis jangan kau tolak, aku harap kau tampil sempurna saat mendampingiku."


"Tapi..."


"Aku mohon." kurapatkan kedua belah telapak tangan.


"Baiklah, tapi cukup kali ini saja."


"Oke." lega rasanya. Dia tak menolak pemberianku.


Lalu pamit meninggalkanku yang terus menatap tubuh mungil miliknya.


Bersenang-senanglah dengan uang itu, Zed!


Kau berhak mendapatkannya karena kau adalah calon istriku.

__ADS_1


Aku gila bukan?


 


__ADS_2