
Pov: Zee
Syaifku
"Kakak ada apa?" kubuka pintu kamar kak Dilara.
"Aku memanggil mama, buka kamu." sigap kak Dilara menutup laptopnya.
"Tapi mama sedang tak di rumah kak, mama mengambil obat kakak."
Dia menatapku dengan kebencian penuh.
"Seandainya aku tak begini aku yang akan duduk di sana jadi sekretaris itu, bukan kamu." dengusnya kesal.
Aku tak menjawab, bisa panjang urusannya jika aku menimpali ucapannya.
"Kakak mau apa?"
Aku mendekat padanya.
"Sudahlah, aku hanya mau mama, bukan kamu juga ayah, kalian menyebalkan."
"Kakak boleh marah sama aku, tapi jangan sama ayah, dia sayang sama kakak."
"Ayah? Dia ayahmu, bukan ayahku. Kau merebutnya dariku, Gadiza, kau tau itu?"
"Kak, apa aku...?" kerongkonganku tercekat.
"Ya, kenapa kamu ada, kamu musibah buat kami, gara-gara kamu kami kehilangan semuanya."
Aku tersentak. Amarah kakak meluap hari ini.
"Tapi kak, apa aku salah disayangi ayah? Aku juga anaknya kan? Aku berhak dapat itu, katakan padaku apa salahku pada kalian?"
"Kau bukan an...!"
"Dilara! Sayang cukup, jangan hiraukan anak kurang ajar ini."
Mama datang tiba-tiba, dia memeluk kak Dilara.
"Tapi ma, aku hanya bertanya."
"Tanya apa kamu? Sudah pergi jangan ganggu kakakmu."
Mama mendorongku keluar kamar.
Terhuyung aku kembali ke kamarku, kepala berdenyut tak karuan, pening rasanya.
Sementara dadaku berdebur tak tentu, sesak dan sangat sakit.
Kuatkah aku menjalani hidup ini?
Drrtt!
Ponselku berbunyi.
Ah, Syaif terlihat senyum dengan tenangnya.
Kami biasa video call.
"Hai jelek."
"Syaif, aku sedang tak ingin becanda."
__ADS_1
"Hm, siapa yang becanda, aku jujur kok, kamu jelek."
"Syaif!"
"Oke Zee, kenapa? Sakitkah?"
"Tidak, kak Dilara tadi ngambek dia marah padaku."
"Itu biasa kan?"
"Iya, tapi aku tetap sakit hati Syaif."
"Sini aku obatin, pake ini." dia memonyongkan bibirnya.
"Ogah."
"Maunya apa?"
"Aku mau nonton."
"Boleh, tapi nanti malam minggu saja ya, malam ini aku harus latihan, bulan depan kau masuk karantina, Zee."
"Karantina? Apa itu artinya kita ga bisa ketemu, If?"
"Ya begitulah."
"Aku nggak mau."
"Kenapa gak mau?"
"Pokoknya aku gak mau, Syaif."
"Tuan putri, aku calon atlet nasional sebentar lagi ikut kejuaraan internasional, harus latihan sungguh-sungguh."
"Siapa suruh kamu jadi atlet?" aku terisak.
Menyebalkan!
Jangan pergi If. Aku butuh kamu, siapa yang akan menyeka air mata ini. Kemana aku bersandar saat selelah ini?
Pukul delapan malam, dia tiba tepat waktu, itulah Syaif, pandai menepati janji.
"Ayo." aku menarik tangannya.
"Nanti dulu, Zee, aku pamit Om Hanif."
"Gak, udah kok tadi aku pamit sama ayah sebelum kamu datang."
"Jah, aku blom datang kamu udah pamit, trus kalau aku gagal datang gimana?"
"Aku yakin kamu datang."
"Seyakin itu?"
"Iya."
"Kalau aku gak dateng?"
"Aku nonton aja."
"Sama siapa?"
"Demit juga boleh."
Dia tertawa, terlihat menarik, gayanya casual dengan tubuh sispek, tegap, macho, dadanya bidang, nyaman sekali saat aku bersandar di sana.
__ADS_1
Dia mengajakku naik mobil sedan hitam milik ayahnya.
Dia lebih suka naik motor, tapi ketika aku sakit dia akan lebih memilih Membawa mobil ayahnya. Katanya agar aku tak masuk angin. Perhatian banget kan?
Syaif bukan kekasihku, tapi aku takut kehilangan dia, tak bisa jauh jauh dari pria baik ini.
Syaif bisa kuajak apa saja, nonton, makan, curhat, tanpa harus ada yang ditutupi.
"Bengong Neng." dia menjawil daguku.
"Engak kok, aku lagi mikir keras nih."
"Udah dewasa artinya, kamu sering mikir keras."
"Aku mikirin kamu."
Syaif tertawa.
"Mikirin aku?"
"Ya, aku takut kamu pergi."
"Zee, dengerin aku, suatu saat kita pasti berpisah, aku ga bisa terus di dekat kamu, kecuali kamu mau jadi itu!"
"Jadi apa?"
"Jadi istriku." dia terkekeh.
Aku manyun.
"Harus ya jadi istrimu kalau mau terus ada di sini?" aku meletakan kepala di dadanya. Rasanya tenang luar biasa.
"Iya lah, kalau kamu pacar atau istri orang mana bisa kita sedekat ini, bisa dijotos pacarmu aku, Zee."
"Tapi nanti aku bilang sama pacarku, Bang ini Syaif, dia temanku, jangan marah ya, aku mau peluk dia."
Kini Syaif tergelak hebat.
"Mana ada, Non, laki-laki yang membiarkan pacarnya dipeluk cowok lain." dia menoyor dahiku. Mengacak poni dan rambutku.
"Kalau kita bukan jodoh gimana?" kutatap mata hitam itu.
"Aku bakal bikin kamu jadi jodoh aku.'
"Kalau gak bisa?"
"Aku bisain."
"Dih maksa."
"Harus, jodoh kayak kamu harus dipaksa."
Aku tertawa juga, kudekap tubuh hangat itu.
"Jangan tinggalkan aku ya, If, walaupun aku bukan jodohmu."
"Lucu ya, kita ngomongin jodoh, kek yang kuasa aja."
"Heeh." Syaif mengusap pipiku.
"Banyak makan Zee, kamu terlalu kurus, bikin cowok hilang nafsu."
"Syaif!" aku menyerbunya dengan cubitan.
Yuk di follow akun Mangatoonku, jangan lupa Fb ku ya gaess, kamu bakal nemuin cerita menarik yang lainnya.
__ADS_1
Terima kaaih dukungannya.