
Pov: Jack
"Maksud kamu apa sih, Jack, ngomong sembarangan ke media kalau gadis itu adalah calon istrimu?" tanpa Basa basi Dad mengutarakan isi hatinya, wajahnya terlihat begitu emosi.
"Itu serius, Dad, aku mencintai gadis itu." Jawabku tak kalah keras.
"Apa kau sudah menyampaikan ini pada kami sebelumnya? Jack dia gadis yang baru saja kau kenal, tak tau asal usulnya."
"Dad, umurku sudah 23 tahun, wajar kan aku memilih wanita yang aku sayangi, karierku sudah Dad yang menentukan. Sekarang aku mohon untuk tidak mengatur akan jodohku."
"Kau harapan kami satu-satunya, apa yang akan dunia katakan jika putra seorang Jeremmy Nichol menikah dengan wanita yang seperti dia, apa kau sudah buta, apa di luar negri sana tidak ada gadis cantik yang bisa kau pacari?" Mata Dad memerah.
"Wanita cantik banyak Dad, tapi wanita seperti Zed, mungkin hanya satu dari sekian ribu wanita yang pernah kutemukan."
"Muka gila, matamu sudah dibutakan oleh cinta,"
"Apa Dad lupa siapa Mom?"
"Jangan bandingkan wanita aneh itu dengan ibumu."
"Kenapa? Mom juga bukan orang kaya kan? Mom bukan dari kalangan borjuis juga, tapi karena Dad mencintainya, Dad rela melakukan apa saja, termasuk keluar dari keluarga besar almarhum kakek."
"Jack! Hentikan, jangan bandingkan ibumu dengan wanita itu."
"Jika Dad menganggap Mom wanita istimewa karena memang mencintainya, begitupun denganku, Zed bagiku adalah segalanya, memisahkan aku dan dia itu artinya dan mereka mencabut nyawaku."
Dady hanya diam, lalu keluar dari apartemenku dengan tergesa.
Sempat kudengar dia menelpon seseorang dan berkata, " Cari tau tentang gadis itu, temukan hingga hal yang tidak pernah orang lain tau."
Apa yang akan Dad lakukan pada Zedku? Apa mencintainya adalah sebuah kesalahan?
Dad, jika kau berani mengusik Zedku, maka tak akan ada lagi seorang Jack Nichol.
Hal yang pernah terjadi pada puluhan tahun silam mungkin akan terulang lagi kali ini.
__ADS_1
❄️ ❄️
Hari ini Momy menelpon, jika Nadia akan datang ke rumah, tentu saja dia ingin bertemu denganku.
"Apa Mami kasih tau dia kalau aku pindah ke apartemen?"
"Tidak, Sayang, Dady mengajaknya makan malam hari ini, makanya Mom mau kamu pulang, setidaknya jangan buat Dady kecewa."
"Oke, Mom, sore ini aku pulang."
"Mom, tunggu, jangan telat ya, Sayang."
Aku tak membalas ucapan Mom, bisa panjang kali lebar urusannya.
👇👇
"Hai Jack, ketemu lagi kita." Nadia menghampiriku.
Seperti biasa dia selalu mendaratkan ciuman di pipi kanan kiri, bukan hal yang aneh lagi baginya.
Matanya coklat, dengan rambut sedikit pirang, mirip mamanya yang blasteran Jerman indo, kami dulu satu sekolah saat SD.
Nadia satu tahun di bawahku, anaknya cerdas dan enerjik, dia pun aktif di kegiatan sosial, ya, dia punya jiwa sosial yang tinggi.
Orangnya mudah ngambek dan sedikit cengeng, jiwa gadis itu mudah tersentuh. Mom sering berkata jika aku dan Nadia mungkin bisa berjodoh suatu hari nanti.
Tapi aku tak punya rasa apapun pada gadis itu.
Sesering apa kami bersentuhan fisik, bahkan kami sering tidur dalam satu ranjang. Itu ketika remaja, saat Nadia ngambek, dan hanya di dekatku dia bisa tertidur.
Aneh, aku sama sekali tak merasakan apa-apa, saat menyentuhnya, beda jika di dekat Zed, baru melihat dia tersenyum saja, jantungku serasa mau copot.
"Hai, mana gadis yang kau bilang pacarmu itu?" mata Nadia mengerling nakal.
"Zed maksudmu?"
__ADS_1
"Heeh."
Aku tak menjawab.
"Kau tak berani ya membawa gadis itu ke mari? Huh Pengecut!" Nadia meleletkan lidah.
"Diam!" gertakku.
"Hm! Marah ya? Tumben, biasanya kan kamu santai orangnya."
"Kalau masalah Zed aku tak bisa santai. Nad."
"Begitu ya?"
"Ya." Jawabku singkat.
"Sebegitu berartinya kah Zed bagimu?"
"Sangat."
"Tumben banget, biasanya kqn kamu cuma jadiin cewek sebagai mainan doang."
"Aih, sotoy amat loe?" aku menoyor kidat Nadia.
"Sakit Jack." dia meringis.
Aku mendengus, dia menampar pipiku pelan.
"Rasain." ujarnya, dengan muka cemberut.
Obrolan kami terhenti saat Dad muncul dan mengajak kami ke ruang tamu.
Ada apa ini?
Bersambung.
__ADS_1