
Pov: Zee
Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima belas lebih 48 menit.
Aku membereskan berkas yang baru saja kuketik dan siap diberikan pada pak Jeremmy.
Kerja sama pembangunan Real estate di sebuah kota kecil di bilangan Tangerang Selatan.
Kak Laras masih berbincang dengan pak bos hari ini, dia mengajakku pulang bareng hari ini.
Selama aku bekerja sebagai sekretaris pribadi tuan Jeremmy semuanya berjalan lancar. Dia tak pernah mengeluh apapun, aku berusaha bekerja semaksimal mungkin.
Tak ada lelah dan capek apalagi mengeluh di rumus kerjaku, itu yang diajarkan kak Laras, tuan Jeremmy sangat membenci itu.
Lima bulan berlalu dan semuanya baik-baik saja. Aku di sini berusaha memberikan pelayanan terbaik. Sepertinya dia pun menyukai semua pekerjaanku. Walau tak pernah ada pujian yang diberikan padaku.
Kata kak Laras, jika boss tak memasang wajah kesal itu artinya dia puas dengan pekerjaan pekerjanya.
Tuan Jeremmy jarang sekali memuji kelebihan seseorang, tapi dia akan memberikan hal lain sebagai apresiasi pada karyawan di perusahaannya.
Tingkahnya mirip Jack, bahkan saat dia tersenyum. Geligi putih persis apa yang dimiliki putranya.
Bahkan cara duduk dan bekerja mirip sekali dengan Jack.
Tuhan, kapan otak ini tak memikirkannya? Aku tak bisa lepas dari sosok menyebalkan itu.
Demi totalitas pekerjaan aku harus rela bekerja dengan mengenang masa masa indah di kantor ini dengannya.
Bagaimana dia memperlakukanku saat pertama kali bekerja.
"Jangan terlalu capek, Zed!"
"Istirahatlah, Zedku."
"Zed, ini saatnya kau makan."
Tuhan, semua yang dia ucapkan terngiang kembali.
Dan setia hari aku harus bertemu Ayahnya dengan raut dan sikap yang hampir mirip dengannya.
Luar biasa ujianmu, Tuhan!
Aku menghela napas, sosok tanpan itu seolah menari-nari di mataku.
"Zed, percuma kau tak akan bisa melupakanku." seolah dia berkata seperti itu.
Pergilah, konyol! Aku tak mau memikirkanmu lagi.
__ADS_1
"Zee, ditunggu di ruangan Pak Boss sekarang." Kak Laras mengedipkan mata, sesaat setelah dia keluar ruangan Tuan Jeremmy.
Aku terhenyak, ah hampir saja bolpoint yang tengah kupegang terjatuh.
"Baik Kak."
"Kenapa bengong? Kangen Syaif apa putra nya pak Bos?" Kak Laras tersenyum.
"Hm! Kakak." aku cemberut.
"Sudahlah, cepat temui boss besar kita. Mungkin mau naik gaji." canda kak Laras.
Aku tersenyum membalas candanya.
Segera bergegas masuk ruang CEO perusahaan Properti ternama ini.
Dengan dada dipenuhi debaran-debaran aneh.
Setelah itu kuketuk pintu dan terdengar kata Masuk dari dalam.
Aku masuk, sedangkan Pak Jeremmy masih serius di depan laptopnya.
Aku tak berani menganggunya, kutunggu hingga dia selesai dengan pekerjaannya. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami apa yang diinginkan oleh orang nomor satu di perusahaan ini.
"Nona Zee!"
"Panggil saja Bapak, jangan kau tambahkan macam-macam." ujarnya tegas.
"Baik pak." aku mengangguk.
"Nona Zee, berkemaslah, sore ini anda ikut dengan saya untuk rapat di luar kota."
"Di luar kota, hari ini pak?"
"Ya," jawabnya kembali fokus ke layar laptopnya.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, untuk mengisi ganti pakaian."
"Tidak usah pulang, pake saja ini, cari mall terdekat, mulai saat ini anda berhak menggunakan fasilitas perusahaan, ingat gunakan dengan sebaik-baiknya."
"Tapi pak," aku masih ragu.
"Tidak ada tapi, jam tujuh belas kita berangkat, persiapan dari sekarang berkas kerja sama kita dengan perusahaan milik Tuan Wibisono."
"Baik pak, segera saya siapkan."
"Nona Zee, belilah apapun yang anda butuhkan untuk acara besok, ingat jangan mengecewakan."
__ADS_1
Aku mengangguk.
Lalu pamit setelah mengucapkan terima kasih.
Masih tak percaya aku diberikan kartu kredit milik perusahaan yang selama ini jadi harapan dan kebanggaan semua pegawai di sini. Karena akan diberikan hanya pada orang yang sangat dipercaya oleh tuan Jeremmy.
Kini aku memilikinya. Oh my God! Ini akan jadi kabar bagus buat ayah mama, dan kakak. Mereka pasti bahagia.
Lihat aku sekarang ayah! Aku Zee. Gadis kecilmu dulu.
Segera kugunakan dan waktu dengan sebaik-baiknya. Mulai dari menelpon keluarga, membeli perlengkapan yang harus kubawa untuk tiga hari di luar kota nanti. Serta beberapa potong pakaian ganti, tak seberapa mahal, kupilih yang nyaman untuk saat dipakai.
Setelah beres, Tuan Jeremmy menyuruhku menuju mobilnya di parkiran.
Ah, bagaimana melewati perjalanan sejauh itu dengan seorang bos besar, dan yang membuatku sungkan dia adalah ayahnya Jack.
Lelaki yang kini memenuhi otakku.
"Masuklah," Tuan Jeremmy membukakan pintu.
Aku semakin kikuk.
"Masuklah, Zed, kenapa malah bengong?'
"Terima kasih banyak pak."
Mata pria berumur 50 tahun itu tersenyum.
Baru kali ini tuan Jeremmy tersenyum di depanku.
Dan kali ini dia tak menggunakan sopir pribadinya.
"Tuan menyetir sendiri?"
"Ya, kenapa?"
Aku menggeleng.
"Ini perjalanan jarak jauh, kalau nyetir sendiri aku bisa stop dimana saja yang kumau." ujarnya, menyalakan mesin mobil.
Mobil melaju perlahan.
Kami terdiam, aku tak berani bicara banyak.
Dia pun fokus dengan jalan yang mulai padat.
Bersambung.
Apa yang akan terjadi pada Zee dan calon mertuanya? Ikuti terus kisahnya.
__ADS_1
Pict by: Shopia Baequni
Jangan lupa vote ya gaess!