Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Mencoba Mengungkapkan Rasa


__ADS_3

Pov: Jack


"Masuk." jawabku sedikit kesal, niat chatting dengan gadis pujaanku terganggu.


"Hai, Jack, apa aku mengganggumu." Zed berdiri di depan pintu.


"Zed, masuklah, tidak sama sekali."


"Aku mau bicara, maaf kalo tadi aku agak kasar."


"Tak apalah."


Zed menatapku sekilas, lalu merebahkan tubuhnya di sofa.


"Sepertinya kau punya masalah, Zed?"


"Ya, ayah meneleponku, katanya mama marah karena di rumah terus didatangi Wartawan, bahkan hingga mereka bermalam. Otomatis kakaku jadi terganggu, selama ini dia tak suka pada orang asing."


"Maafkan, aku Zed, segera akan aku urus. Sampaikan permohonan maaf ini pada keluargamu."


"Apa malam ini kita jadi pulang?"


"Ya, bereskan saja barang-barangmu, jam tujuh kita chek out dari hotel ini."


"Jack."


"Ya, apa?"


Zed menunduk, gadis itu terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


"Masih mau di sini?"


Dia menggeleng.


"Kita ngopi dulu yuk, kepalaku agak berat." kuraih tangannya.


"Kemana?"


"Ke cafe lah."


"Tapi apa dengan pakaian seperti itu."


Dia menunjuk badanku yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek.


"Tak apalah, orang ganteng ya akan Tetap terlihat mempesona apapun yang dia pakai."


"Haish! Pedenya."


"Bukan pede, Zed, tapi ini realita."


Dia mendengus kesal, aku suka melihat kilatan matanya saat marah, dan bahagia.


Ah, Zed tak pernah kehilangan pesona di mataku.


Kami beriringan menuju kafe.


Aku memesan dua latte.


Zed mengangguk, sikapnya cukup manis hari ini.

__ADS_1


Kami bicara banyak, ternyata dia gadis yang memiliki kepribadian ganda, kadang baik, ramah, kadang pula bisa meledak amarahnya jika aku salah mengartikannya sesuatu yang dia isyaratkan.


Tapi, caranya bicara terlihat jauh berbeda dengan saat chatt denganku. Gadis ini sangat sopan, menjaga jarak, bahkan terkesan masih polos.


Terbayang kembali bagaimana liarnya Zed, saat bercinta lewat dunia maya.


"Bertahan di sana Jack. Aku suka, oh... Jack!" erangnya syahdu, masih terngiang ditelingaku.


Hanya sekedar chatt, tapi itu membuat kelelakianku bangkit.


Aku merindukanmu, Jack! Ayolah, apa. Yang kau inginkan malam ini?"


Pesan itu yang akan dikirimkan olehnya jika kamu tak saling menyapa dalam tempo yang lumayan lama.


Tapi di sini, wajah polos itu terlihat merona saat aku bertanya tentang kekasih padanya.


"Kau sudah punya pacar, Zed?"


Dia menggeleng.


"Pernah jatuh cinta?"


Lagi-lagi dia menggeleng.


"Lalu bagaimana dengan si Syaif?"


"Syaif?"


"Ya, Kami berteman baik, Jack, dia satu-satunya orang yang paling mengerti kondisiku, sekarang kamu tau kan bagaimana menyebalkannya aku?"


"Yakin cuma itu?"


"Ya, tapi aku kadang takut kalau Syaif ninggalin aku."


"Aku butuh dia, cuma dia yang paling memahami sisi terdalamku, dia tau bagaimana hidupku."


Matanya menerawang jauh, mungkin sedang mengingat sosok tegap itu.


Darahku berdesir, seandainya dia tau aku tak nyaman saat dia menyebutkan nama pria itu.


"Syaif terlalu baik untuk jadi temanku, dia selalu rela melakukan apa saja demi melihat aku tertawa."


"Dia pahlawan dong buat kamu?"


"Lebih dari sekedar pahlawan."


Kini aku yang mendengus kesal.


"Syaif, bisa jadi teman, kakak, bisa jadi apa saja yang kupinta." suara Zed terdengar parau.


"Kenapa kau tak memintanya jadi kekasih?"


Dia menggeleng.


"Padahal ayah berharap kami bisa berjodoh." ujarnya polos.


Terbayang wajah om Hanif, tunggulah om, jangan dulu mengambil kesimpulan hanya Syaif yang bisa membahagiakan anakmu.


Aku Jack Nichol pun bisa lebih dari itu.

__ADS_1


Kuhela nafas berat.


"Kata ayah, Syaif laki-laki baik, seribu satu orang yang seperti dia. Beruntunglah wanita yang bisa mendapatkannya.


Kurang ajar! Racun bisa yang disebarkan pria berbadan tetap itu ternyata sudah menjalari otak Zed, dan calon mertuaku itu.


Rasanya aku punya lawan yang cukup berat kali ini, Syaif ya Syaif punya pesona luar biasa di mata keluarga wanita impianku ini.


Merebut perhatian mereka tentu bukan hal yang mudah.


"Aku ... aku sebenarnya takut kalau Syaif jauh, makanya aku tak mengizinkan dia ikut pelatihan nasional, tahun ini." Zed menundukkan kepala.


"Begitu hebatnya dia di mata kamu dan om Hanif, aku jadi iri."


"Maksudnya?"


"Aku berharap kamu pun bisa menganggapku sepenting itu, Zed."


"Sepenting apa?"


"Sepenting hembusan nafasmu, hingga kau merasa lebih baik mati jika harus kehilanganku."


"Jangan konyol Jack, aku tak ingin bercanda kali ini."


"Apa wajahku menunjukkan jika aku sedang humor saat ini? Ayolah Zed, bukalah hatimu padaku sedikit saja."


"Apa ini artinya kau sedang merayuku?"


"Terserah apa istilahnya, pokoknya aku mau kau merekomendasikan aku pada ayahmu. Agar bocah konyol itu ada saingan."


"Siapa bocah konyol? Syaif maksudmu?"


Aku mengangguk.


Zed tertawa, geligi putih itu terlihat menarik. Dia menutup mulutnya.


Terlihat manis, sangat manis.


Suasan sedikit mencair, Zed terlihat nyaman bersamaku.


Saatnya aku mengatakan tentang perasaanku padanya dengan jujur. Semoga diberikan kelancaran dan dia bisa menerimaku jadi kekasihnya bukan hanya di dunia maya.


"Zed, aku mau mengatakan sesuatu padamu."


"Dari tadi kau bicara terus, Jack."


"Bukan itu maksudnya, ini hal serius tentang kau dan aku." kuraih jemari lentik itu.


Dia tak menolak.


"Zed, aku... aku mencintaimu." bisikku, tapi ucapan itu tercekat di tenggorokan.


Berat rasanya.


Sejurus kami terdiam, hanya remasan lembut yang kuberikan padanya.


Gadis itu pun menundukkan wajahnya, ada semburat merah di pipi ranum itu.


"Hai, Jack. Kau di sini rupanya." seorang gadis berparas jelita berdiri diantara Zed dan aku.

__ADS_1


Nadia! Dia Nadia, kenapa gadis ini justru datang di waktu yang tidak tepat.


 


__ADS_2