Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Termakan Gosip


__ADS_3

Pov: Zee


Aku terbangun saat hari sudah beranjak tengah malam.


Badanku serasa remuk. Kuambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ada banyak pesan masuk, serta panggilan tak terjawab dari ayah dan Syaif, serta beberapa temanku.


Ayah, maafkan Zee, mungkin saat ini ayah sangat khawatir.


Syaif, kalau saja ini bukan tengah malam, tentu aku akan menelponmu sekarang juga.


"Zee, kamu lihat acara televisi hari ini?" Pesan dari Syaif kubaca.


Tak berapa lama beberapa link dari portal berita online dikirimkan padaku, juga beberapa video acara gosip di televisi.


'Terkurung satu jam dalam lift, ternyata wanita ini adalah kekasih pewaris tunggal perusahaan properti ternama di Indonesia'


'Bukan dari kalangan Jets set, ini dia sosok 'Gadiza Zidni' wanita yang dikabarkan tengah dekat dengan CEO muda sebuah perusahaan ternama'


'Inilah penampakan calon pendamping pewaris putra tunggal William Nochol'


'Bikin Baper, inilah Potret yang menunjukkan betapa sayangnya Jack Nichol pada kekasihnya'


Aku tertegun.


Kenapa jadi begini? Dari mana awak media itu tau hingga sedetail itu tentang hidupku.


Rumah, sekolah, hingga poto masa kecilku bertebaran dalam halaman utama.


Tanganku bergetar, sedahsyat itukah pengaruh seorang Jack Nichol? Lalu mengapa mereka menyangka dan berani menyatakan aku kekasih bahkan calon istrinya?


Lalu sebuah video kubuka.


Aku tertegun, dalam video itu terlihat Jack sangat marah. Seorang pria yang ternyata manajer hotel begitu ketakutan.

__ADS_1


Air mataku jatuh, begitu mendengar apa yang dia ucapkan.


"Walaupun nyawamu kau berikan tak akan mampu menggantikan seorang Zedku."


Benarkah aku seberarti itu untukmu, Jack?


Wajahnya terlihat tulus saat mengucapkan kalimat itu, aneh, ada rasa terharu saat mendengarnya.


Aku beranjak menuju sofa di mana sosok Jack tengah terlelap di sana.


Kau putra tunggal seorang konglomerat, mengapa mau melibatkan diri dengan duniaku, Hidupku, Jack?


Aku menatap wajahnya. Terbayang lagi di mana dia mengatakan kalimat-kalimat itu pada wartawan.


"Dia calon istriku!"


Apa maksudmu? Apa kau akan menjadikan aku permainan cintamu, Jack?


Aku menyelimuti tubuhnya. Mungkin bisa sebagai rasa terima kasih atas apa yang sudah dia lakukan padaku.


Tak sengaja tangan kami bersentuhan, dia membuka matanya.


"Ada apa Zed? Apa kau membutuhkan sesuatu?" cowok itu bangkit dengan cepat.


Aku menggeleng.


"Lapar?"


"Tidak."


"Apa aku mendengkur hingga kamu bangun?"


"Tidak Jack."

__ADS_1


"Lalu kenapa?"


"Apa maksudnya ini?" Kusodorkan ponselku.


Jack tergelak.


"Sudahlah, abaikan saja, anggap saja anggap kita bersedekah pada awak media." ujarnya, terlihat santai.


"Maksudmu?"


"Ya media butuh berita yang bisa mendongkrak rating mereka, dengan berita ini lumayan kan, mereka mendulang View."


"Kau bisa begitu, karena sudah terbiasa dengan keberadaan mereka, tapi bagaimana denganku? Lihat saja, mereka sampe nyari alamat dan mengorek masa kecilku."


Jack tergelak saat melihat foto-foto masa kecilku bertebaran di media sosial.


"Ini serius kamu, Zed?"


Aku manyun.


"Lucu, dan sedikit menggemaskan, tapi tunggu, apa tanda ini masih ada?" jarinya menunjuk pada sebuah tanda lahir di atas perutku.


Semuanya terlihat di foto saat aku dan ayah di pantai.


Aku tak menjawab.


"Boleh aku melihatnya sekarang?"


"Jack!"


Dia tertawa. Aneh tak ada beban sekali di rautnya saat ini.


 

__ADS_1


__ADS_2