
Pov: Zee
Berkali-kali aku mematut didepan cermin, memoles sedikit bedak dan lipstik di bibirku.
Tak lupa deodorant serta minyak wangi. Semua kata-kata Syaif kemarin terngiang kembali pagi ini.
Dasar bawel!
Aku mencoba berjalan anggun dengan sepatu berhak tinggi. Susah rasanya.
Kenapa pula harus high heels, padahal lebih enak sneaker!
Mondar-mandir, mencoba berbagai gaya berjalan, hasilnya aku kek orang dungu, ngakak sendiri.
"Sudah siap sayang?" wajah ayah muncul dari balik pintu.
"Beres jendral."Aku mengangkat jempol.
"Mau ayah panggilkan taksi?"
"Taksi mahal ayah, aku udah minta mas Joko, Ojek online langgananku untuk nganterin hari ini."
"Masa calon sekretaris diantar ojek?"
"Ayah kan baru calon, belum tentu diterima."
"Anak gadis ayah pasti diterima."
"Aamiin." aku memeluknya.
"Terima kasih banyak ayah." bisikku.
"Sama-sama sayang, ayolah, buktikan pada dunia jika Gadiza Zidni kesayangan ayah bisa jadi wanita hebat."
Aku kembali memeluknya erat.
Tuhan! Ijinkan kali ini aku membuat pria hebat ini tersenyum.
Berikan aku kesempatan untuk memberinya sejumput kebahagiaan di sisa usianya.
Kabulkan ya Tuhan! Aamiin.
__ADS_1
Langkahku tergesa memasuki gedung perkantoran elit di bilangan Jakarta Selatan.
Setelah bertanya sana sini akhirnya aku tiba di sebuah ruangan, di sana nampak ada sekitar puluhan orang perempuan yang bermaksud sama denganku. Melamar pekerjaan!
Semuanya cantik-cantik, dandanan mereka modern, dengan pakaian super seksi, maklum saja ini pekerjaan jadi sekretaris pribadi.
Kulirik penampilanku hari ini, tak ada yang istimewa, kecuali sedikit make up yang kucoba diselaraskan dengan pakain, heels dan rok hitam yang kupakai justru terasa menyiksa.
Bergegas aku berjalan masuk ke ruangan itu.
"Bruk!" saking tergesanya aku menubruk sosok tinggi dihadapanku.
"Ya Allah, maaf ya."
Pria itu tak menjawab.
Saat aku mengangkat wajah untuk melihat rupanya, tiba-tiba aku teringat seseorang.
"Tunggu-tunggu! Elu cowok yang waktu itu hampir nabrak gue kan?"
Lagi-lagi, dia tak menjawab.
"Ngapain juga loe ada di sini? Sial banget hidup gue harus ketemu sama loe lagi." aku merutuk kesal.
"Oh iya, ini duit loe, gue bukan pengemis, enak aja loe main lempar duit ke muka gue, tapi gocap dulu ya, gocapnya buat makan siang plus ongkos gue pulang, nanti kalo gue gajian pasti gue bayar lagi sisanya." kuulurkan selembar lima puluh ribu padanya.
Si cowok melengos. Sombong bener gayanya, gue jadi pengen nampol muka mulusnya.
Namun tak menyerah kuselipkan uang itu ke kantong jasnya.
Ketika dia mau beraksi, segera kutinggalkan tempat itu dan berlari kembali ke ruangan di mana aku akan di wawancara.
Lagian ngapain tuh cowok nyebelin ada di sini? Apa dia juga ngelamar kerja? Atau jangan-jangan dia yang punya nih kantor? Amit-amit deh gue harus punya bos sombong kayak itu orang.
Tapi jujur, muka dia memang tampan!
Haish! Zee. Sadarlah, ini bukan film Korea.
"Nomor tujuh belas, silahkan masuk." terdengar suara lewat microphon.
Aku melirik nomorku.
Deg, itu nomor gue ternyata.
__ADS_1
Perlahan aku masuk ruangan besar, di sana nampak dua orang laki-laki, dan satu orang perempuan.
Ah, itu kak Laras, aku kenal dari foto yang dikirimkan Syaif.
Omegot! Muka kak Laras beda banget sama Syaif? Penuh wibawa, dan berkharisma. Pantas saja jadi sekretaris pilihan, mau cuti saja susah, dan dia berhak menentukan siapa yang akan menggantikannya.
Aku jadi berdebar.
Dalam ruangan itu ada lagi satu ruangan yang tertutup. Mungkin bos besar, pikirku.
"Kamu Zee kan?" kak Laras menyipitkan mata.
Aku mengangguk, hilang harapan jika kakak Syaif bisa meloloskanku masuk di perusahaan ini, dari suaranya aku tau wanita seperti ini tak suka nepotisme.
"Apa motivasimu melamar kerja ini?"
"Nyari duit kak, eh mbak, Bu." jawabku terbata.
"Nyari duit? Hanya itu?" suaranya meninggi.
"Ya saya pengen nyenengin ayah yang udah tua, kalau saya bisa kerja saya akan minta ayah berhenti kerja, biar istirahat kesian udah tua."
"Ini wawancara kerja bukan acara amal, jadi kamu gak usah jualan ayah kamu demi mendapatkan simpati dari kami agar bisa diterima kerja di sini." gertak seorang pria berumur 35 tahun, padaku. Dari sorot matanya aku tau dia tengah mengejek.
"Maaf, jikq keinginan seorang anak untuk membahagiakan ayah yang dicintainya bapak anggap sebuah lembaga lelucon, detik ini juga saya mengundurkan diri." jawabku emosi.
"Silahkan."
"Saya kecewa sama perusahaan besar seperti ini justru menempatkan orang-orang seperti anda, minim empati, dan ingat! Ayah saya adalah nyawa dalam kehidupan saya, saya tidak akan menjualnya untuk apapun, jika bisa nyawa saya sendiri lah yang akan saya berikan untuk kelangsungan hidupnya." tandasku, meninggalkan ruangan yang memuakan itu.
"Zee, tunggu, setidaknya pikirkan dulu." Kak Laras menajajari langkahku.
"Maaf kak, saya tidak bisa bekerja di tempat yang tidak menghargai prinsip orang lain."
"Zee, Syaif sangat berharap kamu bisa diterima di sini."
"Begitu pun ayah saya kak, tapi saya yakin ayah pun akan paham jika tau kondisi yang sebenarnya."
"Kakak harap kamu bisa memikirkannya kembali."
"Terima kasih kak," gontai kutinggalkan Kak Laras yang termagu.
__ADS_1