Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Kecewa


__ADS_3

Pov: Zee


"Zee, ingat ya besok kamu ada wawancara."


Pesan Syaif dengan emot senyum masuk pukul 17.30.


"Iya bawel, iya." balasku.


Tak berapa lama dia menelpon.


"Zee, gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya ya."


"Ya ampun Syaif, iyalah, aku akan berusaha sebaik mungkin besok."


"Tapi kamu tuh slengean Zee, ingat pulak besok pake pakaian rapi, dandan, rambut disisir, trus pake minyak wangi juga."


"Yaelah,Syaif, gue cewek tau! pasti dong dandan kalau ada acara penting dalam hidup gue."


"Tapi gue kenal siapa loe Zee, inget gak pas wisuda? Orang-orang sibuk nyalon, lah elu mandi juga kagak, iya kan?"


"Segitunya lu sama gue, kagak lah, gue mandi cuma ga kebayaan, lagian wisuda itu kan gak wajib pake kebaya If, gak keliatan pula itu kebaya yang mereka beli mahal-mahal." aku terkekeh.


"Ya udah, janji ya, jangan kecewain aku, buat tuh bosnya ka Laras jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat kamu." kini giliran Syaif yang tergelak.


"Eh, bilang sama Kak Laras, makasih kesempatannya, aku gak bisa balas apa-apa."


"Diterima aja belom, Non."

__ADS_1


"Iya ya." kami tertawa berbarengan.


"Ya udah If, gue belom mandi nih, off dulu ya cuayang."


"Pantesan baunya sampe sini."


"Bau apa?"


"Ikan asin."


"Loe dah mirip tuh sama artis yang alay di televisi."


"Amit-amit deh. Udah mandi sana. Bye cintaku." ujarnya sambil tertawa geli.


Aku tak sempat membalas lagi, bocah songong itu keburu menutup telponnya.


Syaif, teman masa kecilku, kami tak pernah ribut, dia laki-laki yang penuh pengertian walau kadang agak cerewet.


Padanya aku tak segan menceritakan apa saja masalah hidup, bahkan hal yang paling pribadi sekalipun.


Hanya Syaif yang tau, betapa aku sedih saat Mama selalu membandingkan aku dan Kak Dilara.


Aku anak bontot yang selalu mendapatkan barang-barang bekas limpahan dari kakak perempuanku yang cantik.


"Ma aku mau boneka itu!" kutunjuk boneka besar di sebuah toko.


"Gak usah, Zee, banyak di rumah boneka kakakmu." jawab mama tanpa melihat raut wajahku.

__ADS_1


Berbeda jika Kakak yang memintanya, apapun akan dikabulkan mama.


Ulang tahun yang meriah, sepeda baru, hingga motor matic model terbaru pun diberikan oleh mama saat kakak baru menginjak masa SMA.


Itu pula yang akhirnya jadi musibah besar bagi kakak. Saat menjemputku kak Dilara tertabrak mobil pick up, hingga dua kakinya harus diamputasi.


Dia depresi, saat menghadapi kenyataan hidup yang sangat pahit, berkali-kali mau bunuh diri, dan aku kembali jadi tumbal dalam musibah itu.


"Yang sial itu kamu Zee, tapi kenapa gue yang harus menanggungnya? Coba saat itu gue gak jemput elu. Gak bakal gue kehilangan kaki mulus gue tau!" gertaknya dengan mata penuh amarah padaku.


Aku tak bisa menjawabnya, bukankah hari itu aku tak meminta kakak untuk menjemputku? Sejak kapan pula kakak peduli padaku?


Kak Dilara, ya, dia simbol wanita cantik, kulitnya mulus, bibirnya seksi, mata bening dan dagu runcing sempurna.


Rambut hitam tergerai panjang, suara merdu, dan satu lagi kak Dilara punya otak encer banget, dia jago matematika, jago bahasa. Dan yang lainnya. Jika saja dia tak mengalami kecelakaan mungkin kakakku ini sudah jadi bintang film.


Dan mama? Ya, mama pun sama, sering meluapkan kekesalan itu padaku.


"Mengapa bukan kamu yang kecelakaan hari itu Zee?"


Entahlah, aku selalu mendengar kalimat itu jika mama menatapku saat marah.


Rasanya sakit hingga ke tulang sum-sum. Tapi aku harus menerima semuanya. Kata ayah, anak yang sabar pasti hidupnya bahagia. Semoga saja ayah.


Hanya Ayah yang bisa memahami isi hatiku, namun tak bisa berbuat banyak karena mama lebih dominan dalam keluarga.


Raut wajah ayah selalu penuh kasih, tangan, dada dan bahunya begitu hangat saat merengkuhku ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Zee, buatkan teh hangat buat mama." suara mama menggelegar, membuyarkan semua lamunanku.


 


__ADS_2