
Pov: Syaif
Dalam perjalan pulang Zee tak banyak bicara, aku pun tak mau mengusiknya, kubiarkan dia bermain dengan benaknya yang pasti dipenuhi oleh banyak tanya yang aku sendiri pun tak tau jawabannya apa.
Tatapan mata Zee nampak kosong, dadanya turun naik, sesekali terlihat menarik nafas panjang dan berat.
Raut itu begitu terlihat lelah, aku tak tega melihatnya.
Zee, apa yang bisa kulakukan agar kamu bisa ceria lagi seperti biasa, harus bagaimana aku bersikap.
Andai saja bisa, aku ingin dia membagi beban itu denganku, agar sedih, kecewa dan sesal itu tak begutu terlihat di raut cantiknya, tak tega menyaksikan wujud kusut masainya saat ini, jujur saja hatiku begitu tersayat, sakitnya sama seperti saat mendengar ketika dia dengan polosnya mengatakan jika benar-benar mencintai Jack Nichol. Pria itu benar-benar membawa banyak masalah untuk Zee-ku.
Zee-ku? Sepertinya sekarang tidak lagi, dia punya seseorang yang begggitu dekat di hatinya, Jack, Ya dia adalah Jack Nichol, pria yang kini entah dimana keberadaannya.
Zee, betapa aku ingin saat ini kita kembali ke masa lalu, di mana saat ini kita tak dibebani beban berat yang membuatmu begitu terluka dan sakit.
Dulu, saat kau mengadu sedih karena perlakuan ibumu yang pilih kasih, tak bisa menyayangimu aku akan mudah menenangkan semuanya, dan mamaku pasti akan membawa kita ke toko es krim yang ada di sebrang rumah kita untuk membelikanmu beberapa buah eskrim vanilla kesukaanmu itu, dan wajahmu akan kembali ceria, puluhan kali kata terima kasih akan kau ucapkan pada aku dan mama, lalu mama akan mencium kita bergantian, Ah, andai masa itu bisa diulang.
Andai pula sedihmu kini bisa kembali ditukar dengan beberapa buah eskrim vanilla? Aku akan rela menghabiskan sisa uang dan tabungan yang kupunya untuk membelinya, agar bisa kulihat senyum itu mengembang di sana, di raut cantikmu itu.
"Zee, makan dulu ya," pintaku, memecah kesunyian diantara kami.
"Tak usah If, aku tidak lapar," tolaknya.
"Tapi kamu harus makan zee, kamu punya maag, bahaya kalau telat makan lagi,"
"Tapi aku tidak selera, If, aku tidak lapar,"
"Tak harus menunggu lapar untuk makan, Zee, ayolah, kita cari makanan kesukaanmu ya, atau makanan ringan, roti bakar atau ...."
"Syaif, please! Aku tidak nafsu sama sekali,"
__ADS_1
"Tapi Zee, seberat apapun masalah yang tengah kamu hadapi kamu harus tetap makan, agar bisa menghadapinya, bayangkan kalau tengah begini kamu sakit, mau gimana coba?"
"Bagai mana aku bisa makan, sedangkan aku tidak tau dimana Jack sekarang berada," keluhnya, gadis itu memalingkan wajahnya dari pandanganku
Aku meraih tangannya, kugenggam erat jemari dingin itu.
"Zee, percaya padaku, Jack pasti baik-baik saja, tuan Jeremy pasti akan melakukan hal apapun untuk kesembuhan putra kesayangannya, aku janji akan bantu kami untuk mencari info tentang hal ini, tapi kamu janji harus tetap sehat, kamu harus tetap makan, aku tak mau kamu sakit, karena kalau kamu sakit aku ... aku ...." tak bisa kulanjutkan kata-kataku itu, lidahku kelu.
"Kenapa If, kamu kenapa kalau aku sakit?" tanyanya, berbalik menatapku.
"Aku ... aku repotlah, secara kamu kalau sakit manjanya enggak ketulungan," aku gelagapan, lalu menjawab sekenanya saja, pertanyaannya tadi.
"Kamu pasti bohong, aku tau bukan itu jawabannya," keluhnya.
Andai saja aku bisa menjawab apa yang ada di pikiranku saat ini, ingin kukatakan padanya jika aku akan lebih sakit jika dia sakit, aku bisa mati kalau ada hal buruk yang terjadi padanya, tapi semua hanya tersimpan di hati ini.
Ah, Zee, andai tidak ada seorang Jack diantara kita, pasti aku tidak akan setkaut ini sekarang, aku takut jika suatu saat kamu pergi tak lagi ada dan bisa kutemui.
Cinta memang rumit, sakit dan membawa banyak derita jika jatuh bukan pada orang yang tepat.
Mengapa juga pak Jeremy harus membawa Jack secara tiba-tiba, rahasia seperti ini? Sedangkan dia tau kalau Zee sangat khawatir pada kondisi putranya itu. Ada apa sebenarnya?
Tiba-tiba aku teringat saat kemarin kami bertemu di rumah sakit, raut pak Jeremmy dan istrinya berubah saat mendapatkan telpon dari seseorang, lalu mereka memintaku untuk membawa Zee pulang dan beristirahat.
Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan, jika tidak pihak rumah sakit pasti akan dengan senang hati mengatakan banyak hal pada kami, tapi kenyataannya mereka benar-benar menutup informasi tentang keberadaan Jack, bahkan nama Jack dihapus dari daftar pasien yang pernah melakukan pengobatan di sana.
Aneh sekali!
Pak Jeremmy pasti punya maksud tertentu akan hal itu, tapi apa? otakku buntu.
Kak Laras, tiba-tiba aku ingat pada kakakku itu, dia cukup dekat dan sangat memahami watak bos besarnya itu, secara kak Laras adalah orang kepercayaan pak Jeremmy, mudah-mudahan darinya aku bisa mendapatkan info yang bisa membantu, agar aku bisa menenangkan Zee untuk beberapa waktu ke depan.
__ADS_1
Nadia, gadis itu pun akan kuajak bicara, dia adalah orang yang sangat dekat dengan keluarga Jack, dan masalah yang terjadi padaJack pun karena dia juga, setidaknya dia pasti punya info yang akan bisa membantuku, sedikit banyak itu akan sangat berguna, sekarang aku hanya harus membuat Zee tenang terlebih dahulu, hingga dia mau makan agar tetap sehat.
Tapi gadis ini cukup keras kepala, membujuknya bukan hal yang mudah, apalagi masalahnya adalah Jack, kekasihnya!
Mengapa hatiku sakit saat sadar jika Zee dan Jack sekarang adalah pasangan kekasih?
Syaif, sudahlah, abaikan dulu hatimu, sekarang fokuslah pada Zee saja, buat dia sadar jika kesehatan itu penting, setidaknya kalau dia sehat kamu akan merasa tenang bukan? benakku berkecamuk hebat.
Tapi benar memang, bahaya kalau Zee terus sedih seperti ini, dia akan sulit makan jika suasana hatinya tengah gundah gulana begini, dan aku tak mau itu terjadi, lambung gadis ini sudah cukup bermasalah, dan pasti keadaan hatinya yang tak baik-baik saja akan berimbas ke sana.
Zee!
Aku menggaruk kepala, yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"If, antarkan aku ke toko ayah, aku ingin peluk ayahku," pinta Zee.
"Oke Nona, apapun yang kau minta, hamba siap laksanakan,"
"Syaif!"
"Iya, Zee, iya, kita ke sana, aku juga sudah lama tak ngobrol dengan om Hanif, kangen nih, hehe ...." aku terkekeh, melihat Zee yang cemberut.
"Kangen ayahku apa kangen anaknya?" tanya Zee perlahan.
"Kangen ayahnya lah, anaknya ngeselin," kataku.
"Syaif, kamu jahat ih," Zee makin manyun, tapi aku suka melihatnya, setidaknya kini dia sudah agak membaik.
"Oke, kita ke toko sekarang, tapi mampir dulu ke restoran padang yang di dekat toko kelontong ayahmu ya, nanti kita makan bareng di sana, siapa tau kalau ada om Hanif nafsu makanmu pulih lagi,"
Zee mengangguk, aku menarik nafas lega.
__ADS_1
Bersambung.