
Pov: Zee
"Assalamualaikum, selamat malam, ayah aku pulang."
"Dari mana kamu jam segini baru pulang?" mata Mama mendelik.
"Aku lembur, Ma, tapi udah ijin sama Ayah."
"Kamu pikir rumah ini apa, bisa kau masuki kapan saja." gertaknya, terlihat sangat kesal.
"Aku tidak main, Ma, aku kerja."
"Wow, udah kerja ya sekarang, pantesan berani bantah ucapan mama?"
"Bukan begitu, Ma, aku... "
"Dasar anak tak tau diuntung, baru bisa kerja segini aja udah berani ngangkat muka sama orang tua, susah kalau turunan penjahat, akan jadi penjahat juga ujungnya." Mama menggerutu.
Sakit rasanya setiap kali mama mengucapkan kata-kata itu.
Anak penjahat! Siapa yang penjahat? Ayahkah?
"Ma. Maafkan Zee, lain kali enggak lagi."
"Halah! Janji aja banyak, dasar penjahat kecil."
Mama meninggalkanku yang terpaku.
Penjahat kecil! Terdengar sadis dan sangat mengerikan.
Air mataku jatuh. Entah ke berapa kalinya mama menyebutku penjahat kecil. Aku tak tau arti dan maksudnya.
"Hai, anak ayah sudah pulang!" suara ayah terdengar.
__ADS_1
"Ayah." aku memeluk pria itu.
"Kenapa sayang? Apa kau baik-baik saja?"
Aku menggeleng.
"Kenapa mama selalu menyebutku penjahat kecil?"
"Hustt! Sudah jangan dipikirin sayang, mamamu sedang emosi saja. Maksudnya pasti gadis kecil mama."
Itu selalu penjelasan ayah, tapi sekarang aku sudah besar, tak bisa menerima hal itu dengan mudah.
"Ada apa dengan mama? Apa benar aku anak adopsi kalian?" aku menangis.
"Siapa yang bilang begitu? Akan ayah sumpal mulutnya. Ayah terdengar berang.
"Tapi itu kenyataan kan ayah?"
"Tapi kenapa mama tidak menyayangiku?" tangisku makin menjadi.
"Kalau mama tidak menyayangimu kau tidak bisa sebesar ini, ingat sayang, tangan mama yang merawat dan membesarkanmu, jangan berkata lagi dia tidak menyayangimu."
"Tapi ayah!"
"Stt! Lupakan itu sayang, ayo mana piyama ayah? Sini ayah pakai sekarang." tangan ayah sibuk membuka paper bag, lalu mencoba piyama dan sandal yang kuberikan.
"Wow, bagus sekali sayang!" Ayah berseru senang.
Terlihat lucu sekali penampilan ayah malam ini.
"Ayah!" aku memukul dada pria itu.
"Mana buahnya, hmm ini anggur kesukaan ayah." dia melahap anggur itu tanpa dicuci terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ayah jorok ih, itu belum dicuci."
"Tidak ada orang yang mati makan anggur belum dicuci sayang." ayah tergelak.
Aku memeluk tubuhnya.
"Terima kasih ayah."
"Ayah yang berterima kasih padamu, pada Tuhan, yang telah menganugrahkan anak gadis sebaik kamu pada ayah."
"Ayah, tetaplah begini, jadi ayahku, selamanya."
"Pasti, Zee, pasti." dia mengusap kepalaku.
"Eh ini apa?"
"Itu hadiah buat Syaif ayah."
"Waduh, dia dapat juga rupanya."
"Iya." aku tersenyum malu.
"Sepertinya dia akan mengalahkan posisi ayah di hati kamu, sayang."
"Tidak akan, tak akan ada yang bisa menggantikan ayah di hati aku."
"Oke, ayah pegang janjimu."
Kami tertawa.
Terima kasih Tuhan! Tolong biarkan pria baik ini hidup seribu tahun lagi.
__ADS_1