Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Kesempatan ke dua


__ADS_3

Pov: Jack


"Hai girl!"


"Zed!"


Tak ad balasan darinya.


"Zed, how are you, girl?"


Aku memanggilnya kembali tapi tetap tak dibalas, bahkan dia tak membaca emailku.


"Seharusnya tadi bapak tak mengatakan itu pada dia." suara Laras terdengar keras.


"Biar jadi pelajaran saja, biar dia tau tak mudah membuat orang simpati pada hal-hal remeh semacam itu, aku sudah kebal menghadapi para pencaker seperti dia."


"Tapi tak semua orang menganggap hal yang berhubungan dengan orang tuanya itu becanda pak. Tolong pahami itu." lagi-lagi Laras terdengar kesal.


Ada apa ini? Biasanya wanita hamil itu cukup tenang.


Semuanya mengganggu konsentrasiku.


Oh aku lupa kalau mereka sedang wawancara para pelamar sekretaris pribadiku.


"Ada apa ini? Hingg Kalian berdebat hebat kayak gini?"


"Ini pak, seorang gadis berulah, dia tak terima waktu saya koreksi, akhirnya mengundurkan diri." pak Frans meletakan map biru dengan emosi.


"Oh."


Laras mengusap wajahnya. Raut wajahnya terlihat kesal.


Mataku tertumbuk pada cover map itu, sebuah nama serta foto tertera di sana.


"Gadiza Zidni." aku membaca nya perlahan.


"Zidni? Zed! Oh no, dia rupanya." tak sadra aku berteriak.


"Laras dimana gadis itu?"


"Dia sudah pergi pak, Frans yang mengusirnya."Jawab Laras sedikit acuh.


"Frans, bawa gadis itu kembali, terima dia bekerja, kalau sampai kau tak berhasil membawanya kembali, jabatanmu taruhan nya."


"Tapi pak."


"Tidak ada tapi-tapian, cepat kejar gadis itu!"


Setengah berlari pak Frans berlaru dari ruangan.


Zed! Semoga kita bisa bertemu, Tuhan bawa gadis itu padaku sekarang.


Aku mondar mandir dengan gelisah.


Siluet Cantik wajah Zed mereka melintas, pantas dia tak menjawab sapaku pagi ini.


Laras menatapku bingung.


"Apa bapak kenal gadis itu?"

__ADS_1


"Ya, dia temanku."


"Teman?" Laras mengerutkan dahi.


"Ya, apa perlu kujelaskan?"


"Tidak, saya tak sekepo itu."


"Baguslah. Tak baik juga mengorek rahasia pribadi orang lain. Apa kau juga kenal dia?"


"Ya, dia sahabat adikku."


"Benarkah? Bisa aku bertanya sesuatu?"


"Tak baik mengorek rahasia pribadi orang lain, Pak." Laras melengos.


Yap! Kena skak gue!


Rasa penasaran menumpuk, ingin rasanya bertanya lebih jauh pada Laras, tapi percuma saja wanita itu bisa mengeluarkan taringnya.


Dasar. Sekretaris kejam!


"lanjutkan wawancaranya, Laras, kabari aku kalau Frans datang."


Dia hanya mengangguk.


Menyebalkan!


 


Pov: Zee


Terseok aku berjalan menuju pintu keluar. Jalan gedung ini cukup rumit bagi yang pertama kali datang.


Maafkan Ze, ayah.


Mungkin lain kali, Zee akan lebih bisa mengontrol emosi. Tapi mereka tak menghargai kasih diantara kita ayah.


Mereka tidak tau betapa berharga seorang ayah bagiku.


Bahkan dibandingkan dengan mama aku akan tetap memilih ayah. Ya hanya ayha saja.


Tiba-tiba!


Syaif!


Aku menggelengkan kepala, kenapa dia muncul dadakan begini?


"Zee...!"


"Zee,kamu itu...!"


Terbayang dia ngomel padaku dengan muka masam, lalu mencubit hidung dan pipiku.


"Doyan makan, kerja emoh."


Syaif!


Muka menyebalkan cowok itu kini nongkrong di mataku lagi, bahkan mulai bertaring, laksana vampir.

__ADS_1


"Tapi, If." aku membela diri.


"Makanya tahan emosi, itu godaan, namanya juga nyari kerja, pasti banyak cobaannya." terngiang kata-kata yang bakal dia ucapkan.


Syaif! Hentikan, aku mohon!


Zee!


Cukup If!


"Nona Zee."


Lah itu bukan suara Syaif.


Aku membalikkan badan.


Sosok menyebalkan itu kini berdiri tak juah dari tempatku.


"Nona, maafkan saya, sekarang saya mohon nona kembali ke ruang interview."


"Saya tidak mau." jawabku ketus.


"Saya mohon, Nona, saya minta maaf, jika nona tersinggung dengan ucapan saya tadi."


Aku menggeleng.


Syaif seolah berkata. "Zee, ayolah, ini kesempatan bagus, kapan lagi kau bisa bekerja di tempat bonafide ini?"


"Oke, Syaif, Oke!" jawabku kesal.


"Maaf nona, saya Frans bukan Syaif." jawab pria di depanku.


"Saya tidak bicara dengan anda."


Dia terlihat bingung.


Mungkin mengira aku stres gara-gara keluar dari wawancara hari ini.


Shit! Aku tak sabodoh itu, Tuan!


"Ayolah, bos besar menunggu anda."


"Bos besar?" giliran aku yang bingung pangkat tiga.


"Iya, kalau nona tidak Kembali, saya dan Laras akan di pecat!"


"What?"


"Iya, Nona."


"Apa hubungannya saya dan pekerjaan kalian?"


"Saya tidak tau nona, hanya bos besar yang bisa menjawabnya."


"Baiklah kalau begitu, dengan syarat anda tidak lagi berargumen menyebalkan seperti tadi."


Dia mengangguk. Lalu berjalan mendahuluiku dan memberi isyarat agar aku mengikutinya.


Semoga ini impian yang kembali dan jadi kesempatan ke dua dalam hidupku.

__ADS_1


Ayah, doakan Zee kembali untuk kali ini.


 


__ADS_2