
Pov: Zee
Hari ini cukup melelahkan, tapi syukurlah, para klien kami bisa menerima pemaparan proyek yang kami tawarkan.
Tak percuma aku mempelajari berkas itu siang malam, bertanya pada Kak Laras tentang semua hal yang bisa dilakukan sekretaris saya meeting dengan bosnya.
Dan ternyata Jack bukan bos ya g bertindak semau gue, tingkah tengilnya berubah saat bertemu para klien di ruang rapat.
Grogi? Iya, apalagi saat mata Elang itu menatapku terus menerus, bahkan tak berkedip dalam jangka waktu yang lama.
Jack! Pria aneh yang kukenal.
Lift terbuka, di dalamnya terdapat empat orang, sepasang suami istri dan anaknya yang masih balita.
Bocah perempuan itu terlihat manis saat tersenyum melihatku masuk dan berdiri di sampingnya yang tengah digendong bapaknya.
Awalnya lift berjalan normal namun, tiba-tiba terjadi guncangan hebat. Kami berteriak bersamaan.
"Allahu Akbar."
Kalimat itulah yang spontan keluar dari mulut kami.
Kepalaku terbentur dinding lift, juga si ibu muda dan bayi yang tengah digendongnya.
Panik seketika, tapi kami tak mampu berbuat apa-apa, suara apapun tak lagi bisa kami dengar.
"Astagfirullah!" Aku mengucapkannya berulang-ulang.
Kepalaku terasa pening. Pandangan agak berkunang-kunang.
Balita dan si Bayi mulai menangis, udara pengap dan mulai terasa panas.
Aku mengambil ponsel, mungkin Jack yang akan kuhubungi.
"Mbak, bisa hubungi seseorang?" mata ibu muda itu menatapku.
Bayi digendongannya berkeringat.
__ADS_1
"Tidak adak jaringan mbak." ujarku lemas, tadinya berniat menghubungi Jack.
"Ponsel saya pun begitu." suami si Mbak memperlihatkan ponselnya.
"Kita berdoa saja, semoga pihak hotel segera melakukan pertolongan." jawabku. Penuh harap.
Lima menit, sepuluh menit, hingga lewat dari itu, tetap sunyi.
Kami mulai panik kembali.
Kubuka sepatu dan mencoba mengetuk dinding lift dengan keras.
Pria di sampingku pun turut memukul dinding lift, tapi hasilnya hanya membuat kedua anaknya menangis.
Udara di dalam lift semakin panas.
"Sini sayang, peluk tante ya." kuhampiri bocah perempuan berumur lima tahun itu.
Dia menatapku. Gamang.
"Siapa namanya? Kenalin aku Zee, panggil aja tante Zee." Kusodorkan tangan padanya.
"Aku Shafia." jawabnya, mata bulat beningnya terlihat memerah. Air mata masih menumpuk di sana.
Aku mengusapnya perlahan.
"Adek mau minum?" bocah itu mengangguk. Udara panas di dalam lift membuat tenggorokan kami serasa terdekat.
Kurogoh botol air mineral yang selalu kubawa di dalam tas.
Aku membantunya minum, bocah itu terlihat sangat kehausan.
Dia bersandar di dadaku. Sedangkan ayahnya terlihat menggoyang-goyangkan ponsel, mungkin berharap ada jaringan agar bisa menghubungi seseorang.
"Bisa mas?" tanyaku.
Dia menggeleng.
__ADS_1
Aku menarik napas berat. Tuhan berikan kami kemudahan dalam mencari pertolongan untuk keluar dari musibah ini.
"Mbak, bayinya coba kasih ASI, Siapa tau diem."
"Udah Dek, tapi nolak." raut muka si Mbak mulai memerah, matanya terlihat berkaca-kaca.
Seiring waktu yang terus berjalan, dan suasana di dalam lift makin terasa panas.
"Apa kita akan mati lemas di sini?" ujarnya, lirih.
"Berdoa terus mbak, aku yakin pihak hotel tidak akan terus berusaha agar kita bisa selamat."
"Tapi mana, Dek, sampai saat ini kita belum mendapatkan pertolongan." si Mbak mulai putus asa, seiring tangisan anaknya yang terus menerus.
"Sabar sayang, benar kata mbak Zee kita harus banyak berdoa." pria itu memeluk istri dan kedua anaknya.
Ya Tuhan!
Aku menangis melihat betapa mereka saling menyayangi, suaminya si mbak benar-benar terlihat melindungi istri dan anak-anaknya.
Jikapun kami mati disini, mereka pasti bahagia karena mati secara bersamaan dengan orang yang mereka cintai, sedangkan aku?
Bagaimana dengan ayah? Mama, Kak Dilara, Syaif dan wajah si tengil Jack pun tak luput dari ingatanku.
Ayah, mama, maafkan Zee, maafkan anak yang tak bisa berbakti ini.
Kak Dilara, maafkan Zee kakak, jika hidup Zee hanya jadi perusak masa depan kakak.
Syaif! Aku janji, If, bakal lebih rajin bekerja, bersikap dewasa dan tidak cengeng lagi.
Jack!
Aku tak punya kata-kata untuk dia, aneh! Tapi wajahnya kini jelas terpampang dalam ingatanku.
Jack! Aku di sini, tolong lakukan sesuatu. Bisikku dengan hati yang mulai terasa pilu.
Semoga si tengil itu bisa mendengarnya.
__ADS_1