
Pov: Jack
Zed dunia maya dan Zed realita begitu jauh perbedaannya. Tapi entahlah tak bisa kupungkiri, aku terjerat cintanya, bukankah aku jatuh cinta pada sosok Zee karena berharap dia adalah Zed dunia mayaku. dan Tuhan mengabulkan semua doaku itu.
Desah sahdu, rintihan mendayu, begitu penuh hasrat dan sarat pengharapan, Zed dunia mayaku begitu menggoda.
Aku berharap semoga di dunia nya dia pun begitu, tapi first kissing kami dulu meragukan harapku. Zed sekaku kanebo kering saat pertama kali aku memberikannya ciuman.
Bahkan dia tak membalas untuk beberapa saat, tergolong bisa jadi bukti jika dia baru itu melakukannya. Dasar wanita, hanya pintar dalam berteori, prakteknya kosong.
Kelinci manis itu tersenyum, seolah tau jika aku sedang memikirkan sosoknya.
"Zed!"
Tuhan! Dia menghilang.
Ini hanya ilusi ternyata, apakah karena terlalu merindukannya? Kenapa aku tak bisa sejantan Syaif?
Aku sudah berjanji jika aku tak bisa mengungkapkan siapa dalang dan untuk apa tujuannya membuka masa lalunya aku tak akan menemui gadis itu.
"Jack!" kali ini bukan suara Zed.
Astaga, Mom sudah berdiri di samping kursi tempatku duduk.
"Sayang, sudah kuduga kamu sedang melamun."
"No,Mom, aku gak ngelamun, tapi sedang berpikir memecahkan masalah yang sedang dihadapi Zedku."
"Haduh! Gadis itu ternyata sudah bisa mencuci otak anak bujang mommy satu-satunya ini. Bahaya!"
"Ah, sudhalah Mom, lama-lama makin mirip Daddy deh kelakuannya." aku meninggalkan Mom yang tersenyum, lalu membuntutiku.
"Kamu tidak tau ya, Mom sedang bahagia?"
"Bahagia? Kenapa? Dapet mobil baru?"
"Hust! Ini bukan urusan mobil, atau yang lainnya, ini tentang gadis yang dulu pernah mom ceritain ke kamu dan Dad waktu itu."
Aku mengerutkan dahi, mencoba mengingatnya, tapi Zonk. Gak penting pula.
"Zee, Dia berhasil mom temukan Jack, dia bekerja di kantor dadmu."
"Zed kah?" aku terbelalak.
"Haish! Zee, Jack Zee, bukan Zed, mama sebal mendengar nama itu."
__ADS_1
"Iya, Dia Zed mom."
"Ampun deh kamu, ini Zee, kata Dadmu namanya Gadiza Zidni, dia anak baik, manis, ramah, dan pastinya dia penolong buat Mom, aduh mom berharap dia bisa jadi menantu di rumah kita."
"Zed kan maksud Mom?"
"Tuhan, tolong! Kenapa otakmu isinya Zed semua, ini Zee, Jack, Zee Gadiza Zidni, bukan Zedmu."
"Ya iya mom, dia Zedku!"
"Bukan, Jack, ini Zee mommy, dia gadis baik-baik, bukan wanita yang hobi bercinta di dunia maya."
"Mom!" aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
Ini yang gila aku apa mom sebenarnya?
Ada berapa Gadiza Zidni sebenarnya?
"Jack, Mom berharap kau berjodoh dengan dia, ya Tuhan mom masih ingat betapa lembut pijitan gadis itu di kaki Mom saat itu."
"Ya Tuhan mom, aku mau dijodohkan dengan gadis tukang pijat?"
"Apalah itu, Jack, mom sudah jatuh cinta padanya."
"Ya nikah aja sama dia?"
"Nanti Mom, tadi mom bilang dia bekerja di kantor Dad kan?"
Mommy mengangguk.
"Perlahan kubuka galeri ponsel dan kutunjukan poto Zed pada Mommy. Bemar saja mommy langsung historis.
"Jack, dia Zee mommy, kenapa kau menyimpan potonya?" jeritnya.
"Ya ampun mom, dia Zedku, calon istriku."
"Zed? Bukan Jack, dia Zee, jangan samakan dia dengan gadis cabulmu do dunia maya itu. Mom ga suka tau!" mata mom mendelik padaku.
Tuhan! Ada apa lagi ini?
Yang otaknya bermasalah siapa sebenarnya? Aku atau Mommy?
"Tunggu Jack, dia Zed?"
Aku mengangguk pasrah!
__ADS_1
"Oh, tidak, kalau begitu dia juga Zee?"
Kembali aku mengangguk.
"Seriuskah?"
Aku Lagi-lagi mengangguk. Menunggu ekspresi mom selanjutnya.
"Jack, jangan bilang mereka orang yang sama!"
"Sayangnya iya Mom, mereka dua jiwa satu tubuh. Dan aku mencintainya."
"Tuhan! Kenapa aku punya anak begini kotor, sehingga bisa merubah anak sebaik Zee menjadi cabul seperti ini?"
Ternyata mom menyalahkan aku. Oke mom belum jadi mantu saja Zed, sudah bisa memengaruhi hati Mommy.
"Bawa Zee ke rumah! Mom tunggu kalian datang."
"Tapi mom, Dad tak menyetujui hubungan kami."
"Mom akan urus semuanya, nyantai saja. Cepatlah pinang dia, mom sudah tak tahan ingin menimang cucu, Jack!"
"Ampun, mom, kami masih muda."
"Muda dari Hongkong! Kami sibuk bercinta online dengan dia, mana bisa punya anak."
"Sudahlah mom, jangan dibahas, Zed tidak tau kalau itu aku."
"Jack, jangan panggil dia Zed, mom tidak suka."
"Tapi aku suka."
"Terserah, yang penting segera bawa Zee ke rumah."
"Siap Delapan enam Jendral!" Aku mengangkat tangan.
Mom menubrukku, tetiba dia menangis.
"Berbahagialah sayang, maafkan mom ya, tidak bisa jadi ibu yang baik buat kamu, mom tidak bisa meluluhkan hati Dadmu."
Ah, kenapa jadi begini? Padahal aku lebih suka kami berdebat, wajah mom terlihat lucu.
Kalau begini aku jadi ikut sedih dibuatnya.
"Mom, itu ibu terbaik untukku."
__ADS_1
"You are too, Honey!" wanita cantik itu mengecup keningku berkali-kali.