
Pov: Zee
Kami tiba di hotel yang dituju, istirahat untuk beberapa saat, pak Jeremmy memintaku untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipresentasikan dihadapan para klien nanti malam.
Sikapnya kembali seperti semula, seolah tak pernah terjadi hal yang tadi kami lalui dalam perjalanan, hanya kini sorot matanya tak setajam biasa.
"Makanlah Zed, setelah itu persiapan berkas kita akan menemui klien pukul delapan malam." ujarnya, saat aku memberikan map yang akan dia pelajari
Aku mengangguk. Lalu kembali ke kamarku untuk mempersiapkan diri agar apa yang kusampaikan nanti sesuai dengan yang diharapkan olehnya.
Hotel kecil dengan pelayanan ramah luar biasa ini mengingatkan pada perjalan pertamaku dengan Jack dulu, dimana aku terjebak di sebuah lift.
Di sana aku tau jika dia benar-benar mencintaiku.
Tapi benarkah? Kini aku meragukan semuanya.
Jack, ada apa antara kau dan Kak Dilara? Kebutuhan hidup yang terus mendesak membuatku harus melupakan masalah itu.
Apakah Kak Dilara tau kalau kau adalah Jack Nicholku, pria yang sudah meruntuhkan tebalnya dinding pertahanan asmaraku yang Syaif saja tidak bisa menembusnya.
Syaif? Ah, aku rindu pria baik itu?
Ponselku berderit.
Di layar tertera "Syaif memanggil"
"Hallo, Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam."
"Zee, apa kabar? Kata Om Hanif kamu menemani tuan Jeremmy rapat ke luar kota, apa benar?" Suara Syaif terdengar khawatir.
"Iya, Bawel, aku sekarang ada di luar kota, dan aku baik-baik saja."
"Kenapa kau tak mengabariku?"
"If, aku buru-buru, aku kan sudah minta ayah untuk mengabarimu, masih marah aja."
"Lain lagi rasanya, tapi syukurlah kalau kau baik-baik saja, firasatku kurang enak."
"Cie main firasat segala kek paranormal." aku terkekeh geli.
"Malah ketawa, geli bener Non?"
"Abisnya kamu lucu."
"Zee, jaga kesehatan, jaga diri, makan tepat waktu."
"Hm!"
"Ya elah, gitu doang jawabannya."
"Iya pak dokter, iya aku akan makan tepat waktu, gak makan pedas, gak ngelamun, gak...!"
"Gak mikirin si Jack brengsek itu." Syaif menyela.
__ADS_1
"Ah kok bahas dia sih, aku jadi ilfil deh."
"Ingat sepulang dari sana aku mau kamu terus terang ada apa sebenarnya antara kau dan dia."
Aku terdiam.
Apa iya aku harus menceritakan segalanya pada Syaif? Lalu bagaimana jika Kak Dilara tau Jack itu kekasihku?
"Zee, kok diam?"
"Syaif, bisakah kita tidak membahas masalah aku dan Jack sekarang?"
"Oke, baiklah, aku akan ikuti semua keinginan kamu nona besar." Syaif terkekeh.
"Nona besar?"
"Iya Nona besar, ngambek dan manjanya itu yang besar."
"Syaif."
Dia tergelak.
"Zee, aku membayangkan wajahmu yang cemberut, lucu pastinya."
"Hm!"
"Eh iya, bagaimana perjalanan pertama dengan calon mertua?"
"If, aku gak nyangka, Tuan Jeremmy bersikap semanis ini padaku."
"Manis bagaimana?"
"Zee, jangan becanda."
"Aku tidak becanda if, ini serius, kami dibegal. Mereka pake topeng dan bersenjata tajam, bahkan mereka meledakan ban mobil tuan Jeremmy."
"Zee, seriuskah apa yang kau ucapkan saat ini?"
"Ya, tapi kami baik-baik saja, Tuan Jeremmy memang benar-benar hebat."
"Ya ampun, dibegal Romannya bahagia amat, aku baru juga nemu orang kek begini." suara Syaif terdengar kasar.
"Bukan bahagia If tapi aku kagum bagaimana cara tuan Jeremmy menyelesaikan masalah itu, dia tenang sekali, If."
"Pantas kau tidak menelponku."
"Tadinya aku mau menelponmu, berhubung tuan Jeremmy memberikan tenggang waktu untuk melihat situasi saat itu, katanya kalau dia tidak bisa mengendalikan mereka dalam sekian menit, barulah aku boleh menelpon polisi."
"Lalu?"
"Lalu, ternyata tuan Jeremmy bisa menyelesaikan semua masalah malam itu, tanpa kekerasan."
"Begitu ya?"
"Satu lagi If, dia sholat setelah melihatku melakukannya."
__ADS_1
"Serius? Apa dia muslim?"
"Awalnya aku juga berpikir begitu."
"Bagus dong kalau kamu bisa membuat dia lebih dekat pada yang maha kuasa."
Terdengar ketukan di pintu kamar.
"If, sudah dulu ya, aku ada tamu."
"Oke, hati-hati, Jaga diri baik-baik."
"Iya, iya, laki kok bawel."
"Kamu bandel kalo gak dibawelin."
"Oke Syaif. Oke!"
Telpon terputus.
Aku membuka pintu, seorang pelayan hotel berdiri di ambang pintu.
"Nona Zee?"
"Iya saya Zee."
"Anda diminta menemui tuan Jeremmy bersama rekan kerjanya di lantai dasar. Mereka menunggu anda."
"Terima kasih. Katakan saya akan segera datang."
Pelayan itu mengangguk. Lalu bergegas pergi.
Ah, bisa marah tuan Jeremmy, mungkin tadi dia menelpon atau mengirimkan pesan.
Saat aku mengecek ponsel tak satupun pesan darinya kutemukan.
Setelah merapikan pakaian dan sedikit mengenakan make up, aku pun bergegas menemuinya.
Benar saja, di sebuah kafe tuan Jeremmy melambaikan tangannya.
"Hai Zed, kemarilah! Duduk di dekatku." pria itu menunjuk sebuah kursi di sampingnya.
"Terima kasih pak."
"Kenalkan, Ini sekretarisku namanya Entah apa tapi aku lebih senang memanggilnya Zed." dia tersenyum.
Aku melirik laki-laki hampir sebaya dengannya, namun berkulit agak hitam, dan bertubuh agak gemuk. Sorot matanya tajam.
"Kenalkan, saya Yanuar Riyadi." pria itu mengulurkan tangan.
"Saya Zee, Sekretaris Tuan Jeremmy." ujarku sopan, kami berjabat tangan.
Tunggu Yanuar Riyadi? Sepertinya aku tak asing dengan orang ini? Tapi siapa, dimana aku bertemu dengannya?
Bersambung!
__ADS_1
🌸 Hayo siapa Yanuar Riyadi? 🌸
Tunggu kisah selanjutnya ya gaess.