Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Terima kasih Tuhan!


__ADS_3

Pov: Zee


Mataku basah, kutatap nanar tubuh Jack yang terhalang kaca.


Melintas apa yang pernah kami lalui dulu, kebersamaan indah walau sesaat.


"Gue sayang, loe! Plis jangan tinggalin gue, Zed!"


Konyolnya dia selalu bilang sayang di manapun. Romantis, sedikit lebay tapi jujur aku suka caranya.


Jack!


"Aku mau kopi buatanmu setiap pagi, aku mau makan masakanmu setia hari." bisiknya, di setiap waktu saat kusuguhkan secangkir kopi untuknya.


"Aku tak terlalu pandai memasak, Jack! Pasti rasa masakanku akan sedikit aneh."


"Sesuatu yang diolah dengan cinta pasti punya cita rasa yang luar biasa, Zed! Semuanya akan terasa istimewa saat kau yang membuatnya."


Lebay made on!


Tapi raut wajahnya menyiratkan jika cowok tengil ini tidak sedang ngegombal.


"Zed, tau tidak jika aku tak akan bisa tidur sebelum aku menyebut dan membayangkan wajahmu?"


"Halah, gak usah berlebihanlah, aku bukan abg yang bakal melayang saat mendengar gombalan kamu." aku mencibirnya.


"Ah, orang jujur kok dibilang gombal!" Jack nampak kecewa.


"Lagian kamu kek gak ada kerjaan aja, mau tidur ngayal trus nyebutin namaku."


"Ya kerjaanku kan cuma ngayalin kamu." dia terkekeh. Wajahnya ceria.


Aku menoyor jidatnya, dia membalas dengan mencubit daguku.


Ah, bahagia itu sederhana ini bagi orang yang tengah jatuh cinta.


Jack!


Sadarlah, aku menunggumu, kita lalui kembali hari indah itu bersama, aku janji tak akan memaksakan apapun padamu.


"Zed!"


Sebuah suara menghancurkan segala hayal tentang Jack dari otakku.


Pak Jeremmy berdiri di depanku dengan raut wajah kalut yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Pak!" tenggorokanku tercekat.


"Zed!"


Pria itu memelukku.


"Sabar ya, Jack akan baik-baik saja, cintanya padamu akan membuatnya kuat menghadapi kematian sekalipun."


Pak Jeremmy mengusap rambutku.


Aku menangis di sana di dada pria yang dulu begitu kutakuti.


"Jack akan sadar kembali kan pak?"


"Pasti, doa, harap dan cintamu akan mengubah jalan hidup Jack, sayang! Yakinlah kalian akan bisa melewati semuanya."


Aku melepaskan pelukannya, mengangguk, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi.


"Kau mencintai Jack, anakku kan?"


Sekali lagi aku mengangguk.


"Cintailah dia, sepanjang hidupmu, raih bahagia itu bersamanya, kuat, sabar, ikhlas menjalani segalanya, halangan berbentuk apapun akan bisa kalian lewati."


"Terima kasih pak!" ujarku dengan bibir bergetar.


"Tante sedang ke ruangan dokter, Pak, mungkin sebentar lagi kembali."


Tak berapa lama, mommynya Jack dan Syaif datang, wajahnya terlihat sedikit lega.


Awalnya dia marah pada pak Jeremmy, tapi aku dan Syaif meyakinkan jika ini murni bukan kesalahan papanya Jack.


Pasangan suami istri itu berpelukan erat.


"Maafkan aku." berkali-kali papanya Jack mengatakan itu pada istrinya.


"Aku juga minta maaf!" sang Istri pun berkata demikian.


Mereka mencoba saling menguatkan, terlebih saat para perawat membawa Jack ke ruang operasi.


Dokter meminta kami mencari donor darah untuk Jack.


Pak Jeremmy dan Syaif punya darah yang sama, tanpa ragu Syaif memberikan separuh darahnya untuk Jack.


"Terima kasih, If!" hanya itu kata yang bisa kuucap padanya.

__ADS_1


"Tenang Zee, untuk kebahagiaanmu apapun akan kulakukan, sekalipun nyawa ini taruhannya." tegasnya.


Luar biasa! Pria ini begitu sempurna.


"Terima kasih, aku tak akan bisa membalas apa yang sudah kau berikan padaku."


"Balaslah dengan kebahagiaanmu, cukup itu saja."


Tuhan!


Terima kasih telah menciptakan manusia seperti ini.


Terima kasih telah menjadikan dia sebagai sahabat laki-laki terbaik dalam hidupku.


Syaif! Kau selalu jadi pahlawan untukku.


🌸 🌸 🌸


Pov: Syaif


Wajah Zee mulai berangsur pulih, senyum terkembang di sana, apalagi saat aku beres mendonorkan darah pada Jack.


Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih, begitu pun dengan kedua orang tua Jack.


Ah, jika mereka tahu, semua yang kulakukan hanya demi kebahagiaan Zee seorang. Melihatnya hidup bahagia adalah impian terindahku. Terlepas siapa yang akan mendampingi hidupnya nanti.


"Bagaimana kabar Nadia? Kasian anak itu." mamanya Jack mengingatkanku jika gadis itu pun tengah ada dalam perawatan.


"Tante dan Om akan melihatnya dulu, Zed, tetaplah di sini, Jangan tinggalkan Jack, dia butuh kamu di sisinya." Wanita itu menatap Zee.


"Baik tante." jawab Zee. Merapatkan tubuhnya padaku.


Lalu keduanya berlalu untuk menemui Nadia, aku menarik napas panjang.


Baru saja aku dan Zee duduk, dua orang polisi datang bermaksud menemuiku untuk mencari keterangan.


Zee nampak khawatir, lenganku dicengkramnya.


Lewat tatapan, kucoba menenangkan hatinya.


Bersambung.


"*Cinta bukan sekedar rasa sayang dan keinginan untuk saling memiliki, namun cinta adalah untaian kata saling mendoakan dalam sujud panjang tanpa mengharap pujian"


Shopia Baequni

__ADS_1


✍️✍️✍️*


__ADS_2