Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Bertemu Tante Cantik


__ADS_3

Pov: Zee


"Ayah, hari ini aku pulang telat, selain lembur, mengambil chek up medis ayah, aku juga akan punya kejutan buat ayah."


Kukirimkan pesan itu melalui WhatsApp,agar ayah tak menungguku dan merasa khawatir.


"Baik sayang, hati-hati." ayah membalas tak lama kemudian.


Rencanaku hari ini akan membeli beberapa piyama buat ayah, serta sandal rumah yang nyaman untuknya, lalu buah-buahan segar, agar kondisi ayah tetap bugar.


Hm! Pertama mari kita cari pakaian terlebih dahulu.


Aku tiba di sebuah mall besar, uang dari Bos Jack hari ini lumayan jumlahnya.


Pria aneh itu mungkin sedang kerasukan jin baik, tingkahnya makin hari makin aneh, selain sering menatapku lama dia juga sangat memanjakanku saat bekerja.


Aneh memang! Seolah-olah dia mengenalku lama.


"Zed! Jangan lupa makan." Pesan itu selalu dikirimkan saat waktunya makan siang. Gila bukan?


Apa benar kata Kak Laras kalau dia otaknya kurang sesendok? Tapi terlihat tidak begitu, Jack sangat digilai para gadis, oh iya, mungkin karena kekayaan yang dimiliki ayahnya.


"Dia hanya akan jadi pengemis kalau ayahnya bukan tuan Jeremy Nichol."


Terngiang kata-kata kak Laras.


"Aduh!" seorang wanita di depanku terjatuh, akibat serius main ponsel, dan hillsnya tersangkut di besi penutup lubang pembuangan air.


Wanita berumur 40 tahun, Dengan gaya sosialita banget.


"Tante kenapa?' aku mendekat padanya, sementara orang-orang tersenyum melihat tingkah wanita cantik ini. Tubuhnya harum luar biasa.


Dia mengaduh. Aku jadi tak tega melihatnya.


"Aku bantu berdiri ya, Tan." aku membantunya berdiri dan mencari tempat duduk.


Wajahnya mengernyit menahan sakit. Kuusap kakinya pelan.


"Sepertinya tante terkilir." ucapku pelan.


"Rasanya sakit sekali." lagi-lagi dia menahan sakit, lalu memijit kakinya.

__ADS_1


Kakinya nampak merah, kalau dibiarkan pasti akan membiru.


"Tante tunggu di sininya, aku beli obat gosok atau apalah, agar kaki tante tidak terlalu sakit."


"Terima kasih, maaf merepotkanmu, sayang."


Aku tersenyum, bergegas mencari obat yang kubutuhkan.


Tak berapa aku kembali.


"Tante luruskan kakinya ya. Maaf akan sedikit sakit, tapi nanti terasa lebih enak."


Aku memijat kaki mulus wanita cantik ini.


"Ah!" dia menahan jeritannya.


"Maaf tante." aku memelankan pijatan. Jadi keingat ayah, yang sering minta di pijat kalau terlalu lelah bekerja.


"Gimana rasanya? Coba gerakan sekarang?"


"Aih, rasanya tidak sesakit tadi." dia berseru gembira.


"Tuhkan tante, sakit awalnya saja."


"Cuma bisa begini tan."


"Sekarang mana ada remaja mau nolong orang yang lagi kena musibah kayak guni, liat saja tadi mereka malah ngetawain tante kan?"


"Itu perasaan tante saja, mungkin mereka sungkan, penampilan tante seperti selebritis." ujarku.


"Kamu bisa saja, terima kasih, sayang."


"Sama-sama tante cantik."


Wanita itu terlihat sangat senang.


"Kamu mau belanja juga?"


Aku mengangguk.


"Abis gajian ya?"

__ADS_1


"Belum tan, tapi saya dapat lotre dari si bos." aku tersenyum.


"Lotre? Apa masih ada jaman sekarang?"


"Anggap saja begitu tante, bos ngasih aku bonus, gak tau bonus apa, maklum saja dia agak sedikit begini." kuletakan jari telunjuk di dahi dengan posisi agak miring.


"Nakal kamu."


"Iya tan, bosku aneh."


"Pasti tua gitu ya?'


"Enggak tan, masih muda, ganteng sih, cuma tingkahnya kadang nyebelin gitu."


"Jadi penasaran."


"Jangan tan, nanti ikut error kayak aku."


"Tapi sepertinya kamu suka sama dia?"


"No, no... Bukan aku yang suka tapi sepertinya dia yang tergila-gila padaku."


"Bisa aja kamu."


Kami tertawa.


Tante ini ramah, sepertinya kami cocok.


"Tante juga mau belanja, minggu depan anak tante ulang tahun, ini mau nyari hadiah buat dia."


"Oh, gitu ya." si Tante mengangguk.


"Ya sudah tan, aku pamit dulu ya, tante udah mendingan kan?"


"Udah, Sayang, terima kasih banyak."


"Sama-sama tante cantik."


Aku pamit mencium tangannya, dia mengusap kepalaku, aku terharu.


Mama saja tidak pernah memperlakukan aku semanis ini.

__ADS_1


"Hati-hati sayang." ujarnya sebelum aku meninggalkannya.


 


__ADS_2