Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Pertarungan Sengit


__ADS_3

Pov: Jack


Aku tiba di club malam milik Anto, Antonius Piere. Kami pernah satu sekolah saat SMA, termasuk teman lumayan dekat, namun, saat tau aku diusir dari rumah oleh Daddy dia bersikap seolah-olah tidak mengenalku.


Kurang ajar memang! Lelaki ini lupa jika dulu aku yang mengenalkan clubnya ini pada rekan kerja dan orang-orang besar lainnya. Dasar kacang lupa kulitnya.


Dia pikir aku siapa? Walaupun aku sekarang tak punya apapun, kalau hanya sekedar menghancurkan club malam miliknya bukan hal yang sulit.


Tiba di sana, langsung katanyakan di mana pria itu berada.


"Mana bosmu?" tanyaku pada seorang wanita berbaju sangat seksi dan dandanan ala ala penari club malam lainnya.


"Bos tidak ada di sini malam ini." ujarnya, acuh.


"Jangan bohong, atau kuledakan tempat ini sekarang, kau tau apa yang aku bawa di balik jacket ini?" tanyaku sambil menunjuk sesuatu di balik jacket.


Wanita itu kaget, karena melihat wajahku yang terlihat begitu serius. Mungkin dia mengiraku ***.


"Bos ada di ruangannya di lantai tiga, kamar nomor dua puluh lima." ujarnya dengan bibir bergetar.


"Bagus kalau kau bohong, jangan salahkan aku, jika aku meledakkan bom yang aku bawa ini lebih cepat dari waktu yang sebelumnya."


Wanita itu buru-buru menjauh dariku, wajahnya pucat pasi.


Sesampainya di lantai tiga langsung kutuju kamar nomor dua puluh lima.


Pintu tak terkunci, aku langsung membukanya tanpa basa basi.


Gila, pemandangan menjijikan terpampang di sana.


Anto dan dua pria sedang asyik bercinta, mereka dalam keadaan telanjang bulat.


"***!" kutendang meja kecil di dekat pintu.


Mereka yang kaget akan Kehadiranku langsung menutup tubuhnya yang terbuka. Wajah ketiga pria itu merah padam.


Terutama Anto, mungkin dia malu jika sekarang aku tau kalau dia seorang gay. Menjijikan.


"Jack!" dia berteriak memanggil namaku.


"Ya aku Jack, aku datang kesini mencari keadilan untuk Nadia, ***!" kukepalkan tinju dan menyodorkan ke muka Anto yang merah padam.


"Nadia! Aku tak ikut campur masalah itu." Anto mengenakan G string-nya.

__ADS_1


Ya ampun! Warnanya pink persis punya perempuan.


Aku tergelak.


"Heh, jadi banci kau sekarang?" aku menunjuk celana dalam lucu itu.


Anto tertunduk malu, rupanya dia berperan sebagai wanita dalam aksi tadi.


"Gila loe Nto, bodi aja macho, tatto-an, dan bertampang garang, taunya nge-pink juga." aku ngakak, sengaja ngejek laki-laki tak tau terima kasih itu.


"Mau apa kau datang kesini?"


"Masih bertanya, ***!" kucengkram lehernya.


Dua pria teman kencannya mundur.


"Tenang Jack, dengarkan dulu penjelasanku." Anto mencoba melepaskan cengkraman itu.


"Aku tak bisa tenang jika kau belum menjelaskan dan menunjukkan wajah bedebah yang malam itu menggagahi Nadia." kuhempaskan tubuh pria konyol itu hingga tersungkur di lantai.


"Salah jika kau bertanya tentang Nadia padaku, aku tak tahu menahu masalah itu." Anto bangkit dengan terhuyung.


"Jangan berlagak goblok loe, gue tau semuanya, Nadia sudah menceritakan dengan jelas!" geramku.


"Tapi Jack, gue jujur gak ikut campur masalah malam itu."


"Jangan macam macam denganku Jack, aku tak mau ada keributan di sini."


"Tak mau ada keributan? Tapi kau biarkan kejadian memalukan terjadi di depan matamu? Malah kau yang menfasilitasi mereka untuk melakukan hal bejad itu pada Nadia. Dasar mahluk tak tau malu." dengusku penuh kebencian.


"Baiklah jika kau menginginkan kekerasan aku akan melayanimu. Jack Nichol!" Anto memencet sebuah tombol yang menempel di dinding.


Dua pria yang tadi bercinta dengannya mulai bersikap waspada. Setelah sebelumnya hanya jadi pendengar pembicaraan kami.


Tak berapa lama masuklah lima orang laki-laki bertubuh tegap menghampiri kami.


Mereka siap siaga menyerang, hanya menunggu aba-aba dari bosnya saja.


"Kau pikir aku takut pada mereka? Tidak sama sekali tidak." aku tersenyum.


"Kau yang memaksaku berbuat kasar Jack."


"Manusia tak tahu terima kasih sepertimu bisa melakukan apa saja untuk melindungi dirinya, pantas tadi kau pakai cd berwarna pink, pantas, cocok dengan pribadi dan sikap loe yang tak tau malu." geramku.

__ADS_1


Anto memberikan aba-aba pada para bodiguard yang sudah mengelilingiku.


Aku memasang kuda-kuda, bersikap waspada akan hal terburuk apapun yang akan terjadi padaku. Intinya malam ini aku harus memberikan pelajaran pada laki-laki **** ini.


Seorang pria mulai menyerang dengan menghadiahkan tendangan pertamanya. Aku mengelak. Dan membalas serangannya dengan menyediakan bogem ke arah wajahnya.


"Buk!" hantaman telak itu pas kena muka pria berbadan paling kurus diantara mereka.


Tak sia-sia ternyata, Zed menyuruhku ikut latihan bela diri selama lima bulan terakhir ini.


Pria itu terhuyung, hidungnya mengeluarkan darah kental. Dia mengernyit menahan sakit.


Kini dua pria maju dan menyeringai padaku.


Aku mengganti kuda-kuda, menenangkan hati, karena ketenangan bisa membuat musuh keder.


Keduanya menyerangku secara bersama dan membabi buta. Aku berusaha menangkis, menghindar dan berusaha menyerang balik.


Anto sudah mengenakan pakaian lengkap, dia menonton anak buahnya mengeroyokku.


Dasar banci kaleng!


"Bug!" tinju salah seorang pria mengenai perutku.


Rasanya sakit luar biasa. Aku menarik napas. Mencoba menahan rasa itu, dan tetap fokus, dan tiba juga kesempatanku untuk membalas serangan tadi.


Pukulan keras pas mendarat di dada pria yang tadi berhasil menonjol perutku.


Dia terhuyung, matanya nanar menatapku penuh kebencian dan amarah.


"Prok, prok!" Anto bertepuk tangan dua kali.


Kini kelima pria tegap itu bersiap menyerangku, dan mengeluarkan senjata tajam setelah mendengar Anto bertepuk tangan. Rupanya itu sebuah kode.


Ya Tuhan lindungilah aku kali ini. Jika aku harus mati izinkan aku mati dalam keadaan ksatria, mencari keadilan untuk sahabatku, Nadia.


Baku hantam tak bisa terhindar lagi, lima pria itu tak memberiku kesempatan, bukan hanya aku yang bisa menyerang mereka, tapi mereka yang berjumlah lebih banyak membuat pertahananku oleng, konsentrasi yang kupertahankan bayar, akibatnya berkali-kali pukulan mereka bersarang di badanku.


"Bug!" tendangan keras menimpa dadaku. Lalu "Srut!" sepertinya ada benda yang masuk ke perutku, sedikit perih. Aku merabanya, terasa ada sesuatu yang hangat.


Aku tersungkur, berusaha bangkit, namun sulit ternyata. Semuanya terasa berputar,


Wajah Mom dan Dadku melintas mereka tersenyum ke arahku, lalu Zed, dia melambaikan tangan, memintaku datang padanya.

__ADS_1


Sayang tubuhku terasa kaku. Dunia perlahan gelap.


Bersambung!


__ADS_2