Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Titik Terang


__ADS_3

Pov: Jack



Malam ini Nadia mengajakku bertemu, gadis manja ini tengah dilanda masalah besar. Produk kosmetik yang dikelolanya ternyata mengandung bahan berbahaya.


Padahal dia hanya membantu memasarkan produk saja, tidak terlibat dalam proses pembuatan. Tapi pihak kepolisian tidak bisa begitu saja menerima pernyataan Nadin.


Tiba di kafe, muka Nadin terlihat kusut, pada yang aku tau kini dia sudah berubah, gadis yang banyak berkecimpung di bidang sosial ini lebih tegar dan dewasa.


Mau tak mau aku ikut prihatin padanya, dulu pun dia sangat peduli padaku. Kalau Daddy marah dia yang akan menenangkannya.


"Jack!" Nadin memelukku erat. Menumpahkan tangis di dadaku.


"Stt! Tenanglah, liat tuh orang-orang ngeliatin kita," bisikku.


"Bodo amat, peduli apa dengan mereka, toh mereka gak tau gimana perasaanku saat ini." Nadin malah semakin kencang memelukku.


"Oke, ayo peluk sepuas hati kamu."


"Jack! Orang kalau dikasih hati malah minta jantung. Padahal kau mau kerja sama dengan mereka hanya karena melihat sisi kemanusiaan saja, mereka bilang produk aman, dan keuntungan dari penjualan produk sepuluh persen untuk para penderita kanker." Nadin menyeka air mata.


"Anggap aja itu teguran, agar kamu lebih berhati-hati." kuusap rambut pirangnya.


"Kamu senang ya aku begini?"


"Kata siapa? Sensitif amat, Non." kuusap air mata di sudut mata coklatnya.


"Sekarang beda, di otak kamu penuh dengan Zed, zed, dan Zed! Entah aku ada di mana sekarang?" gadis itu membuang muka.


"Sejak kapan kamu baperan?"


"Sejak aku tersingkir karena Zedmu."


"Kamu dan Zed itu sama, sama-sama punya arti spesial di hatiku."


"Aku enggak percaya, buktinya kamu gak pernah lagi ngehubungin aku."


"Aku lagi punya masalah serius, Nat, bukan karena aku gak peduli sama kamu."


"Masalah apa?"


"Zed."


"Tuh kan, dia lagi?" Nadin cemberut.


"Ya, Zed punya masalah besar, dan kamu tau siapa yang membuat masalah dalam hidupnya?"


Nadin menggeleng.


"Daddy!"


"Daddy-mu?" Nadin terbelalak.


"Ya, Dad membongkar masa lalu Zed, dan mengundang media untuk memberitakannya. Gila kan?"


"Ya ampun! Dad-mu bisa sekejam itu?" Nadin tak percaya.

__ADS_1


"Masa lalu yang selama ini disembunyikan oleh keluarga Zed, tentang dia yang lahir karena mamanya diperkosa seorang perampok dan juga bandar narkoba."


"Ya ampun! Benarkah? Kemana saja aku hingga tak tau berita seperti ini?"


"Zed, terpuruk hingga harus dirawat di rumah sakit, dia shock."


"Tega sekali Dadmu, Jack!' Nadin memegang tanganku.


"Ya, bahkan dia pun kini mengusirku."


"Serius Jack?"


"Kamu gak liat aku tadi naik apa?"


Nadin menggeleng.


"Ojol." bisikku.


"Serius? Ya Tuhan seorang Jack Nichol naik ojol, apa kata dunia?"


"Buktinya dunia baik-baik saja." aku nyengir.


Nadin ikut tersenyum.


"Maafin aku Jack, ternyata kondisi kamu lebih memprihatinkan dari pada aku."


"Aku laki-laki Nat, hal ini pasti akan bisa kuhadapi."


"Bagus itu."


"Jack, pakai saja mobilku."


"Ya gak bisa begitu, kamu butuh kendaraan untuk operasional kamu, katanya sedang mengungkap kasus besar, masa naik ojol."


"Hm! Aku pikirkan nanti."


"Terus kamu tinggal di mana sekarang?"


"Di apartemen, masih ada satu minggu lagi sewanya, aku lagi nyari tempat tinggal yang terjangkau kantongku saat ini."


"Jack, jangan bilang begitu, aku sedih mendengarnya."Nadin berkaca-kaca.


"Biasa aja Nat, hidup itu kadang diatas kadang di bawah, kita harus siap dengan segala kondisi."


"Oh my God! Jack Nicholku sedewasa ini sekarang."


Nadin kembali memelukku.


Aku tersenyum. Gadis aneh! Apa yang istimewa denganku?


"Maafkan aku Jack, kamu yang sabar, tinggalah bersamaku."


Aku menggeleng.


"Ayolah!"


"Akan kupertimbangkan nanti, Nat."

__ADS_1


"Sip!" dia mengangkat jempol.


Ponsel Nadin berdering.


Cekatan dia membuka pesan WhatsAppnya.


"Dia lagi." gumamnya kesal.


"Siapa?"


"Pemilik kosmetik *** itu mengancamku."


"mengancam bagaimana?"


"Dia melarangku berkata macam-macam pada polisi, dia bilang aku tenang saja, dia yang akan membereskan semuanya."


"Loh,harusnya kamu senang dong?"


"Senang bagaimana Jack, aku yakin, mereka ini sindikat pembuat kosmetik palsu dengan menggunakan merk-merk terkenal,"jelas Nadin.


"Lalu?"


"Mereka pake topeng atas nama sosial biar aman, ah Jack, semuanya gila memang."


"Hati-hati Nat, aku khawatir padamu."


"Aku baru satu kali bertemu pria ini, tapi aku yakin dia bajingan besar."


"Maksudnya?"


"Pria ini tak tersentuh hukum, Jack, entahlah apa yang dimilikinya, hingga dia punya banyak perusahaan berbahaya."


Nadin menyodorkan ponselnya.


Seraut wajah muncul.


Aku seperti mengenalnya. Tapi dimana?


Oh! Apakah ini dia? Tuhan, terima kasih jalan itu mulai terbuka.


"Jack." Nadin mengguncang bahuku.


"Aku minta nomor ponselnya."


"Siapa?"


"Bajingan itu."


"Untuk apa Jack?"


"Nanti kujelaskan jika sudah ada titik terang dari masalahnya."


Nadin bengong.


Aku memaksanya segera pulang.


Harus kutemui Syaif segera.

__ADS_1


 


__ADS_2