Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Dia Zee Bukan Zed atau siapapun!


__ADS_3

Pov: Syaif


"Hallo, Jack!"


"Syukur kamu masih ingat namaku, Bro!" dia terkekeh di seberang sana.


"Iya lah aku ingat, nomorku aku simpan kok." Jawabku malas.


"If, apa Laras tinggal di rumahmu sekarang?"


"Iya, dia tinggal disini, selama masih punya baby, ibu tak mengijinkannya pulang."


"So her husband?"


"Suami kak Laras tugas di Bandung, dia pulang dua minggu sekali."


"Kakakmu hebat, dia punya attitude yang baik. Aku suka prinsipnya."


"Keluarga kami dididik untuk berprinsip, tangguh dan gak cengeng, plus tanggung jawab."


"Percaya, semuanya ada di sosok Kakakmu, jujur aku kagum padanya."


"Bagus lah kalau begitu."


"Tapi aku ragu kamu punya jiwa dan watak seperti kakakmu?" nada suara Jack seperti mengejek.


Ya, keluargaku memang bukan orang kaya sepertimu, Jack. Tapi kami selalu diajarkan untuk saling menghormati, menyayangi, dan menghargai.


Toleransi dan kebersamaan menjadi tolak ukur dalam keharmonisan keluarga kami. Aku bahagia menjadi bagian dari mereka, Ayah, ibu dan kedua kakakku.


Dan kau Jack, kau memang kaya raya, hartamu berlimpah, perusahaanmu seabrek, tapi prinsip saling menghargai serta kasih dalam keluargamu itu zoonk. Kasihan!


"Belum tau aja loe!" balasku.


"Bohong if, aku tau banyak tentangmu, Zed menceritakan semuanya, di matanya kamu pria sempurna. Aku iri padamu.


Aku tersentak.


Iyakah? Zee berkata semanis itu tentangku?


Lalu kenapa dia memilih si Tengil aneh dan menjengkelkan ini?


Zee, aku tak paham jalan pikiranmu.


"Syaif, lelaki baik di mata Zed itu cuka kamu."


"Jangan bilang kau cemburu?"


"Aku cemburu, sangat cemburu."


"Ada apa Jack, aku mau ke rumah Zee hari ini."


"Seandainya aku bisa sebebas itu datang ke sana?"


"Apa masalahnya? Kak Laras memintaku untuk tetap menyuruh Zee bekerja di kantormu."


"Maksudnya?"


"Ya, Zee akan jadi sekretaris ayahmu."


"Apa itu tidak membahayakan Zed?" nada suaranya terdengar khawatir.

__ADS_1


"Kau yang tau ayahmu, aku hanya menjalankan tugas dari kak Laras, lagian mana bisa kakaku menjerumuskan Zee."


"Ya sudah If, aku pun percaya Dadku tak seburuk yang aku sangka."


"Oke its good!"


"Sampaikan salam rinduku padanya."


"Ngomong aja sendiri."


Jack terkekeh, lalu menutup telponnya.


Menyebalkan!


🌸 🌸 🌸


"Apa itu tidak akan jadi masalah, If?" tanya Zee, saat kuutarakan apa yang dikatakan kak Laras padanya.


"Tidak, Zee, mana mungkin kakakku mau kau punya masalah kan?"


"Iya sih, oke If, aku coba besok masuk kerja kembali. Panggilan dari perusahaan juga sudah ada, cuma belum kutanggapi."


"Kau harus tetap bekerja, agar pikiranmu tidak fokus pada satu hal."


"Iya sih."


"Aneh dari tadi iya sih mulu jawabannya." aku mencubit dagu gadis itu.


"Iya kah?" Zee tersenyum.


"Ga sadar ya?"


"Jack kirim pesan, katanya dia kangen sama kamu."


"Kenapa dia gak telpon?"


"Tanya aja sendiri l, aku kurang tau." jawabku sedikit ketus.


"Kok gitu jawabnya?" bibir mungil itu mengerucut.


Gemas aku dibuatnya. Tapi kini seolah ada jarak diantara kami.


"Gitu gimana?"


"Ya gitu?"


"Kamu aneh Zee!"


"Kamu yang aneh."


"Masa?"


"Iya."


Kami tertawa akhirnya, kepencet hidung Zee.


"Sakit Syaif." dia cemberut.


Aku suka raut wajahnya kalau sudah seperti ini.


Seandainya tidak ada Jack!

__ADS_1


"If, besok anterin aku ke kantor ya?" pintanya dengan mata penuh harap.


"Oke tuan putri." aku mengangkat jempol.


Lalu pamit padanya.


"If." serunya, saat kunyalakan mesin mobil. Dia berdiri di samping mobil. Aku membuka pintu kembali.


"Terimakasih." matanya berkaca.


"Sama-sama. Jangan norak ah." kuusap kepalanya.


"If."


"Apa?"


Zee terdiam.


Aku merengkuhnya.


"Tetaplah jadi Syaifku. Aku tak mau kehilanganmu if."


"Kau juga tetap jadi Zeeku, aku tak peduli ada seribu Jack di dekatmu."


"Kau bukan Jack, tapi kau Syaifku. Banyak hal yang tidak bisa kudapatkan dari orang lain, bahkan dari Jack sekalipun." ujarnya bergetar.


Si galak bisa terdengar tulus seperti ini.


"Tersenyumlah, kau gadis hebat yang aku kenal." kuacak poni di dahinya.


Dia mengangguk. Lalu kukecup kening itu.


Air matanya meleleh. Tuhan! Jaga dia untukku!


Perih rasanya mengingat kedekatan kami selama ini, Syaif kau egois, sangat egois!


"Aku pulang dulu, besok kuantar kau ke kantor, jangan lupa makan, istirahat, besok kau akan bekerja."


Lagi dia mengangguk.


"Hati-hati Syaif."ucapnya, melepaskan lenganku.


"Tetap sehat untukku. Untuk persahabatan kita."


"Baiklah."


"Ya sudah, aku pulang ya!" sekali lagi aku pamit padanya.


Dia tersenyum. Namun matanya tetap berkaca, entah apa yang ada si hatinya saat ini. Yang jelas aku sangat ingin memeluknya.


Tapi ini bukan saat yang tepat, maafkan aku Zee.


Aku melambaikan tangan, dia membalasnya, ah, kenapa seberat ini meninggalkan dia?


Perlahan sosoknya makin menjauh dan tak terlihat.


Kau Gadiza Zidni, Zee, bukan Zed atau siapapun.


Aku berharap Tuhan tetap menjadikannya begitu.


 

__ADS_1


__ADS_2