
Pov: Jack
Zed terlihat lelah, kubaringkan tubuhnya di atas kasur, menyelimuti, setelah itu aku memberinya minum. Gadis itu tak banyak bicara.
Aku duduk di pinggir pembaringan, menatap wajah yang terlihat masih dibalut trauma itu.
"Jack! Apa kau masih di sini?" gumamnya.
"Aku di sini, Zed," kugenggam jemarinya agar dia yakin jika aku tak akan meninggalkannya.
"Jack, terima kasih."
"Jangan terlalu sering mengatakan terima kasih, Zed, itu terdengar konyol."
"Benarkah?"
"Ya."
"Apa aku selalu terlihat begitu di matamu?"
"Tidak, bagiku kau selalu jadi gadis yang paling istimewa."
Rautnya memerah.
Apa Zedku bahagia mendengarnya?
Perlahan matanya mulai terpejam, desahan napas halus terdengar dari hidungnya.
Kusentuh pipi yang tadi sempat merona, sedikit hangat. Lalu bibir menggemaskan itu,Ya Lord! Kuatkan aku untuk tak berbuat nakal kali ini.
Tak puas kupandangi raut milik gadis maya yang selalu membuatku kalah dalam urusan asmara, aku merebah pasrah dalam dekapan hangat yang dia tawarkan.
Kami bergumul, lalu terkapar penuh kepuasan. Walau hanya dalam dunia maya.
Tak akan ada yang menyangka jika gadis seperti Zed pandai bercinta walau hanya di dunia maya, sedangkan di dunia nyata gadis ini terlihat galak dan menakutkan.
Dia seolah memiliki kepribadian ganda, setiap chat dengannya aku selalu mendapatkan energi positif dan kepuasan batin luar biasa.
Zed!
Kau semakin membuatku jatuh cinta!
Kulirik ponsel yang tergeletak di atas meja, aku mengingat sesuatu, bukankah tadi zed menelpon seseorang? Apakah itu aku?
__ADS_1
Segera kubuka ponselku, dan benar saja, ada puluhan panggilan tak terjawab pada ponselku darinya.
Ternyata kau ingat padaku, Zed, bahkan di saat menegangkan dalam hidupmu.
Lalu sebuah pesan di WA pun tak luput dikirimnya padaku.
"Jack, jika sesuatu terjadi padaku hari ini, tolong sampaikan pada Ayah, Mama dan kakakku, aku minta maaf, jika selama ini hanya jadi penghancur kebahagiaan keluarga, seperti apa yang selalu dikatakan mama dan kakak padaku. Maaf aku belum bisa membahagiakan mereka, ayah khususnya."
Anak ini memang aneh, hobi sekali minta maaf, itu tindakan konyol menurutku.
Tapi membaca pesan ini aku jadi teringat saat ada di rumah itu, akan kakaknya yang berkata 'Bajingan Kalian' apa bisa seorang kakak bersikap sekasar itu pada adiknya?
Coba aku punya adik atau kakak, mungkin aku bisa memahami apa yang tengah terjadi dalam keluarga Zed.
Momy dan Dady selalu menyayangiku, walaupun sikap Dad cenderung kasar, tapi dari matanya aku tau dia hanya inginka yang terbaik untukku.
Hanya aku yang sedikit telat menyadari itu, imbasnya aku dan Dady sering sekali berseteru. Kadang hingga berhari-hari kami tak bicara. dan Momy akan jadi penengah yang hebat.
Wajah wanita cantik itu membayang di mataku.
"Jack jagalah calon mantu mom dengan baik."
Hais! Mengapa suara itu yang kudengar.
Menyebut namanya saja membuat darahku mendidih.
Apa aku harus berbadan setegap itu agar Zed tetap fokus padaku, hanya padaku.
Tapi bukankah Zed berkata jika Syaif itu seorang atlet taekondo? Ah, apa harus aku juga belajar itu? Oke, Zed jika itu keinginanmu.
Kusentuh beberapa angka di ponselku.
"Hallo, Jo! Bisa tolong carikan aku tempat latihan taekondo paling bagus di Jakarta?"
"Buat apa Bro?"
"Jangan banyak tanya, jawab saja bisa atau tidak?"
"Ya bisa lah, buat loe apa sih yang enggak bisa."
"Oke, gue tunggu kabar selanjutnya, setelah beres acara dengan klien ajak gue ke tempat itu."
"Oke, kapan loe balik ke Jakarta?"
__ADS_1
"Tergantung keputusan rapat dengan partner bisnis gue lah."
"Oke, gue tunggu juga kabar loe balik, silahkan nikmati waktu loe bersama sekretaris itu Jack." Jo tertawa.
"Maksud loe apa, kampret?"
"Ya, itu terserah loe, bro, cuma loe yang tau, secara loe big bos, dia sekretaris yang masih lajang kan?"
"Dasar, pikiran loe kotor banget sih, Jo."
"Efek ajaran loe kan, Jack."
Kami tertawa.
"Zed, beda Jo, aku tak bisa berbuat aneh padanya."
"Jangan bilang loe jatuh cinta pada gadis itu, Bro."
"Sepertinya begitu, gue sendiri heran, kenapa harus dia?"
"Kemakan karma kan loe, dulu kata loe gadis lokal itu gak ada yang menarik, ukuran cinta mereka hanya isi dompet, dan tiba-tiba loe sekarang bilang jatuh cinta pada sekretaris loe, yang mukanya lokal banget." Jo tergelak.
"Busyet! Maaih inget aja loe kata-kata gue itu."
"Gue inget banget lah."
"Zed emang lokal, tapi kwalitas interlokal." ujarku.
Jo kembali terbahak.
Ah, cinta kadang memang sekonyol ini. Aku tak peduli lagi pada ungkapan yang pernah aku katakan sebelumnya tentang cewek lokal sekelas Zed.
Tapi, gadis ini memang beda, aku patut memperjuangkan cinta dan hatinya.
Lihat saja, kalian akan terkejut dengan apa yang bisa kulakukan agar dia mau menerima cintaku ini.
Apapun, Zed, apapun akan kulakukan untukmu, hanya untukmu, akan kujadikan kau wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Tunggu saja saatnya, bukan Syaif yang bisa melakukan itu, hanya aku, ya hanya aku.
Bersambung gaess!
__ADS_1