
Pov: Syaif
Hari ini harus Kukatakan pada Zee semuanya, jika aku dan Om Hanif telah menyusun rencana untuk mengutarakan rahasia ini nauh-jauh hari sebelumnya. Termasuk mencari keberadaan ayah Zee, yang ternyata sudah bebas tujuh tahun yang lalu dari penjara.
Kabar terakhir yang kudengar dia pindah dan tinggal di Kalimantan.
"If." Gadis itu membuka matanya, menatap selang infus yang melingkar di lengannya.
"Ini aku, Zee."
"Aku di mana?"
"Di sini bersamaku."
"Kepalaku berat, dadaku sesak, If, rasanya seperti tertimpa batu besar."
"Kan ada aku, batunya sudah kusingkirkan." kudekap tubuh mungilnya.
"Jangan pergi, kumohon!" dia terisak.
"Tidak akan pernah, aku ada di sini." kuusap lelehan bening itu, mengecup dahinya pelan.
"Mengapa aku dilahirkan if, jika mereka tak menginginkan keberadaanku?"
"Jangan berkata begitu, kasian ayahmu dia sangat tulus menyayangimu, Zee."
__ADS_1
"Ayah, dia bukan ayahku, if." napasnya tersenggal.
"Dia ayahmu, ayah yang sangat mencintaimu, demi kamu dia rela dibenci anak kandungnya sendiri."
"Ayah!"
Zee berkali-kali mengucapkan nama ayahnya.
"Sabar Zee, semuanya akan baik-baik saja, dunia ini diisi dengan beragam cerita dan kisah hidup untuk mewarnainya, tapi yakin lah, jika semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan, bukankah Tuhan kita maha pengasih dan penyayang?"
"Syaif, aku yakin selama ada ayah dan kamu, aku akan bisa melewati semua ini."
"Harus! Aku tau kamu hebat, dulu kau bisa melewati semuanya, dan kini aku lebih yakin lagi, kau wanita hebat, Zee."
Pintu diketuk.
"Zee, Sayang." raut pria dengan sejuta kekhawatiran muncul dari balik pintu.
"Ayah!"
Mereka berpelukan. Menumpahkan rasa di dada.
Tak terasa air mataku ikut jatuh.
Pemandangan luar biasa, penyatuan hati berbalut kasih antara anak gadis dan ayahnya, tak terhalang apalun, walaupun mereka bukan tak memiliki garis darah, hanya ketulusan terlihat di sana.
"Ayah, maafkan, Zee."
__ADS_1
"Ayah yang seharusnya minta maaf, sayang, ayah menyembunyikan segalanya darimu."
"Ayah, aku minta maaf, karena selama ini menuntut banyak hal dari ayah dan mama, aku anak tak tahu diri." Zee mendekap erat Om Hanif.
Pria itu mengusap rambutnya.
"Sayang, lihat ayah! Dunia ini luas, banyak hal yang akan bisa membuatmu bahagia, banyak jalan yang bisa kau tempuh, ayah yakin kamu akan menemukan kebahagiaan itu."
"Iya ayah, Zee akan bahagia untuk melihat ayah bahagia, untuk menebus rasa bersalah Zee pada ayah."
"Kamu tak bersalah sayang, kamu hanya anak yang kurang beruntung karena hadir di tengah keluarga kami. Nanti kau akan tau siapa ayah kandungmu, kau takmusha khawatir ayah dan Syaif akan segera mempertemukanmu dengannya. Kami sedang mencari keberadaannya."
"Aku sangat beruntung karena punya ayah sehebat ini, aku tak butuh ayah yang lain. Jangan pertemukan aku dengan laki-laki bejad itu."
"Dia ayahmu, Sayang, kamu berhak tau dan berhak pula mengenalnya."
"Ayah, terima kasih, telah menerimaku sebagai anakmu, aku tak bisa membalas semua yang sudah ayah berikan padaku. Untuk saat ini aku tak butuh ayah yang lain." kembali dia memeluk ayahnya.
"Dengar kan, Om, anak ini selalu tak berhenti mengucapkan terima kasih." selaku.
Om Hanif tersenyum.
"Tuh dengar kata-kata Syaif, kamu terlalu banyak mengucapkan terima kasih."
Zee tersipu. Rasanya lega melihat raut wajahnya yang berangsur ceria.
"Mana Zedku?" seorang pria menerobos masuk.
__ADS_1
Suasana hening.