
Pov: Jack
Kelinci Kecil ini terlihat manis, mengenakan kemeja putih, jeans hitam, serta Sneaker yang terlihat pas di kakinya.
Sebenarnya dia tidak terlalu cantik, tetapi ada aura yang terpancar dari wajahnya, dan itu membuatnya terlihat berbeda dari wanita yang selama ini kutemui.
Selama ini, ratusan wanita mengantri hanya untuk bisa kukencani, mereka rela menjatuhkan harga dirinya hanya demi bisa jadi pacarku, bahkan rela tidur bersama tanpa kuminta.
Tapi Zed, wanita mayaku ini telah berhasil mengikat hati dan rasaku.
Bahkan aku semakin tak berdaya ketika berjumpa wujud aslinya. Dia lebih mempesona lagi.
"Bisa tidak jangan menatapku seperti itu, Jack."
"Gak dosa kan, aku liatin kamu?"
"Dosa sih enggak, tapi aku risih tau."
"Nyantai aja, Zed?"
"Jujur Jack, sikapmu itu membuatku tak nyaman, gosip di kantor mulai menyebar, kalau aku ini ada fair sama kamu."
"Bagus itu."
"Apanya yang bagus?"
"Itu, gosipnya."
"Jack, aku serius."
"Aku lebih serius lagi, Zed."
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa hari ini kau sudah siap?" kualihkan perhatiannya.
"Siap buat ngadepin sikap konyol kamu, di kantor aja aku sudah pusing apa lagi ini, selama seminggu aku harus terus bersama kamu, bisa-bisa aku stroke dadakan."
"Kalau kamu stroke, aku mau kok ngerawat kamu, mandiin, nyuapin, trus nemenin kamu ti...!"
"Jack!"
"Gitu aja marah."
__ADS_1
Matanya mengerling, terlihat menyeramkan, tapi aku suka.
Ah, aku selalu suka apapun yang kau lakukan, entah terlepas itu hal menarik atau pun menyebalkan.
"Senyumlah, Zed, cepat ubanan kau nanti."
"Aku akan cepat tua kalau terus dekat denganmu."
"Serius?"
"Ayolah Jack, hentikan, aku lelah, pekerjaanku banyak."
"Oke nyonya besar. Silahkan istirahat."
Lalu kami terdiam.
"Zed menutupi tubuhnya dengan Jacket, sekilas menatapku.
Aku mengangguk, mempersilahkannya untuk berbuat yang dia mau.
Kesalnya sedikit mereda, rautnya normal kembali.
"Kecilkan pendinginnya sedikit, Jack, mukaku terasa panas."
"Hm!" gumamnya.
Aku tersenyum, agar dia bisa rileks dalam perjalanan panjang ini.
Sesekali dia menarik napas panjang. Lalu kuputar musik perlahan, matanya mulai menyipit, meredup, dan gadis itu pun terlelap.
Tidurlah Zed, cintaku, kelinci manisku. Tunggu lah, suatu saat aku akan bisa mendekap tubuh mungilmu itu, tanpa penolakan lagi dari pemiliknya.
Wajah pulas itu makin terlihat menarik, rambutnya tergerai panjang. Terlihat tanpa dosa, ada gurat kesedihan yang tak terteka di sana.
Zed, apa sebenarnya yang sedang kau hadapi? Mengapa kau tak mau berterus terang padaku? Apakah hanya si macho Syaif yang kau percaya?
Puas rasanya menatap wajahnya hari ini. Dan aku merasa itu sebagai sebuah keberuntungan.
Wajah Syaif melintas, pria tegap itu membuat hilang napsu makanku. Terlebih Zed terlihat sangat akrab dengannya.
Sahabat! Itu yang Zed katakan, tapi tetap aku merasa cemburu melihat kedekatan keduanya.
👇👇
__ADS_1
Pov: Zee
"Ini kunci kamarnya tuan?" resepsionis belia itu memberikan kunci pada Jack.
"Jack, kamar kita beda kan?"
"Sepertinya tidak, karena akan ada banyak hal yang tentunya harus kita kerjakan bersama." ujarnya tersenyum.
Gayanya sok boss banget. Padahal iya dia memang bos besar.
"Tapi itu tak mengharuskan kita satu kamar." ujarku, gusar.
"Tak apalah, tidak akan ada yang tau kan kalau kamu dan aku satu kamar dan tidak ada yang akan mempermasalahkannya."
"Aku enggak mau."
"Zed, kamu tau, di luar sana gadis gadis berharap bisa satu ranjang denganku."
Muka pria itu terlihat penuh percaya diri, huh! Sombong sekali dia.
Tanpa bicara pun aku tau itu, siapa wanita normal yang akan menolak seorang putra tunggal dari konglomerat yang terkenal dengan perusahaan propertinya itu.
Jack boleh berbangga diri, tapi maaf aku tak tertarik pada semua itu, Jack.
"Tapi aku tidak. Ingat Jack, kalau kau memaksa aku harus satu kamar denganmu, maka aku akan pulang kembali ke Jakarta hari ini." gertakku.
Dia tertawa hebat, hingga hampir semua mata para pegawai hotel pun menatap kami.
"Kau kira aku semesum itu, Zed."
"Semua orang juga akan berpikiran sepertiku jika melihat mukamu, Jack."
"Ya Tuhan, tidak adakah kata-kata yang lebih manis dari itu, Zed?"
Aku menggeleng.
"Mana kunci kamarku?"
"Ini."
"Terima kasih." Kutarik koper milikku, dan meninggalkan pria itu termagu sendiri.
Â
__ADS_1