
Pov: Syaif
Aku menarik napas berat.
Entah jawaban apa yang bisa kuberikan pada pria di sampingku ini. Secara naluri, menurutku dia baik, tapi ego sebagai laki-laki menentang itu.
Bukankah dia yang sudah merenggut Zee dariku? Mengalihkan perhatian gadis manis itu sekarang?
Zee tak lagi hanya tunduk, manja padaku, tapi di hatinya kini ada pria bernama Jack Nichol, pria asing yang baru beberapa bulan dikenalnya.
Bahkan dengan mudahnya dia mengganti nama Zee menjadi Zed! Nama yang aneh menurutku, tapi sepertinya Zee menyukainya.
"Aku turun di sini saja, bro!"
Aku menghentikan mobil di sebuah bangunan apartemen mewah.
"Loe tinggal di sini?"
Jack mengangguk.
Ya, sebagai orang kaya dia bisa tinggal dimana saja, termasuk di apartemen yang sewanya gila-gilaan ini.
Mungkin juga sudah dibelinya, sebagai putra dari keluarga borjuis sah sah saja baginya.
"Boleh aku minta nomor telponmu?" Jack terlihat penuh harap.
"Untuk apa?"
"Ayolah bro, mungkin kita bisa berteman. Atau suatu saat aku butuh kamu, bisa juga kamu yang butuh aku."
Gila,nada bicaranya cukup sopan, aku dan kamu, bukan gue dan elo.
Ada apa ini?
"Oke, ini nomor gue." kusebutkan beberapa nomor, dia mengetik cepat di ponsel pintarnya.
__ADS_1
"Oke, aku misscall dan itu nomorku, save ya. Thanks tumpangan hari ini."ujarnya.
Aku mengangguk.
"Syaif jangan lupa sampaikan salamku pada Kakakmu Laras."
"Oh, iya. Nanti aku sampaikan." akhirnya aku ber aku juga.
" Dari mana kamu dek, bagaimana kabar Zee, apa dia sudah balik dari klinik?" Kak Laras langsung memberondongku dengan pertanyaan.
"Dari rumah om Hanif, kak, Zee baik-baik saja, dia udah pulang ke rumah."
"Alhamdulillah, kalau gitu."
"Kakak sudah masuk kerja?"
"Sudah, ini hari pertama kakak masuk kantor, dan kerjaan, wihh bejibun banget dek." ujarnya, menghela napas panjang.
"Susah mencari perusahaan dan boss seperti pak Nichol, dia itu menghargai profesionalitas dan semangat jerja kita, tak peduli kita siapa, ketika kita bisa ya dia akan mengapresiasinya."
"Beda dengan anaknya. Ngeselin."
"Jack maksudmu, dek?"
"Ya, siapa lagi, iya dia kirim salam buat kakak. Sok akrab gitu lah!"
Lagi-lagi kak Laras tersenyum.
"Cinta merubah Syaifku menjadi seperti anak kecil yang tak mau berbagi mainan." lirihnya, mengusap kepalaku.
"Jack lah yang kekanak-kanakan, manja, dan sombong."
"Atas dasar apa kamu menilai Jack seperti itu? Atas dasar sesama lelaki atau saingan dalam hal asmara? Jangan bilang kamu cemburu sama tuan Jack." Kak Laras tersenyum menatapku.
__ADS_1
"Cemburu? Biasa aja kak, aku sebal saja sama tingkah bocah songong itu."
"Jack sebenarnya orang baik, cuma dia terlalu dimanja sama Mommynya, sikap yang berbalik didapat dari Daddynya m, tuan Jeremy Nichol."
Aku tak menjawab.
"Tapi aneh sih, tiba-tiba dia baik dan perhatian sama Zee, seolah sudah mengenalnya."
"Serius kak?"
"Dia tipe lelaki yang kurang peduli sama wanita, dan menganggap mereka itu mainan satu malam, tapi sikapnya pada Zee, luar biasa, kakak liat videonya waktu Zee terkurung di Lift, luar biasa!"
"Lalu apa yang membuat Jack tergila-gila pada Zee?"
Kak Laras menggedikan bahu.
"Sudahlah jangan dipikirin, iya, kasian juga dia sekarang, kata tuan Nichol, Jack mengembalikan semua milik Daddynya, termasuk mobil, kartu kredit, apartemen dan pastinya ini." Kak Laras menjetikan jari jempol dan telunjuknya.
Aku tertegun.
Pantas dia tadi numpang mobilku. Rupanya ini yang terjadi, apa semua karena Zee?
"Tenang sayang, sahabat dan kekasih itu punya makna berbeda di hati wanita, kau dan Jack. Kalian dibutuhkan saat ini oleh Zee. Dan ingat ada istilah mantan kekasih tapi mantan sahabat itu tidak ada, sahabat abadi di sini." Kak Laras menempelkan telapak tangannya dadaku.
Aku mengangguk.
"Jadilah ksatria, kau Syaif, adik terhebatku, kami selalu bangga padamu, jangan kotori pikiranmu dengan prasangka buruk pada laki-laki yang dicintai sahabatmu, sayang."
"Terima kasih banyak, Kak." aku memeluk tubuh kak Laras.
"Jack sedang berusaha jadi orang baik, bantu dia untuk lebih baik lagi. Kakak yakin kamu bisa."
Aku mengangguk.
Dadaku terasa enteng, Kak Laras memang bijaksana. Pantesan tuan Jeremmy tak mengijinkannya berhenti kerja, susah mencari sosok sepertinya.
__ADS_1