Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Salah Duga Kembali


__ADS_3

Pov: Zee


Aku menelpon ayah, meredakan rasa khawatir yang dirasanya, suaranya begitu kurindukan.


"Ayah, aku baik-baik saja, ayah jangan khawatir."


"Bagaimana ayah tidak khawatir Zee, ayah melihatmu terkurung di lift itu, ada banyak televisi yang menayangkannya."


"Semuanya sudah berlalu, ayah, aku baik-baik saja sekarang."


"Itu yang ayah pinta, kamu di sana selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa."


"Terima kasih ayah!"


"Zee, ada apa ini? Mengapa banyak wartawan yang sering nongkrong di depan rumah kita, hingga ke toko kelontong ayah? Mereka juga menanyakan seberapa dekat hubungan ayah dan bosmu, Tuan Jack Nichol?"


"Abaikan saja ayah, kata Jack semuanya akan baik-baik saja."


"Tapi tidak ada hal yang buruk diantara kalian bukan?"


"Tidak ada ayah, itu semua hanya karna pernyataan konyol Jack pada media zaat aku terkurung di lift."


"Oke kalau begitu."


"Tenang saja ayah, seiring waktu semuanya akan berlalu."


"Ayah paham itu, tuan Jack bukan orang sembarangan, resiko jadi orang dekat dengan dia pasti akan terseret pada dunianya."


"Ya, ayah, Jack sudah menjelaskan semuanya padaku."


"Ayah berusaha bersikap biasa, tapi tidak dengan yang lain."


"Maksud ayah?"


" Mamamu marah, Zee, Emosi kakakmu mendadak nge-drop setelah tau berita ini, tolong sampaikan pada Jack, segera urus masalah ini, ayah takut kondisi kakakmu makin tidak stabil dengan adanya orang asing di sekeliling kita."


"Baik ayah. Akan aku sampaikan pada Jack. Maafkan aku ayah, Selalu membuat ayah sedih."


"Sayang, itu bukan masalah bagi ayah, tapi ayah pikir mamamu yang terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Sudahlah, jangan pikirkan itu, nikmati pekerjaanmu, hati-hati, ayah menunggu kedatanganmu."


"Oke, ayahku, tapi ingat ayah juga harus jaga kesehatan, janji sama aku kalau ayah akan terus sehat seperti ini."


Ayah tertawa.


"Oke peri baik hati. Akan ayah usahakan."


Obrolan pagi itu kuakhiri, ayah menciumku dari kejauhan, tapi aku bisa merasakan hangatnya.

__ADS_1


Suara seseorang terdengar, ah si tengil itu mengganggu orang saja sepagi ini.


Secangkir Kopi panas mengepul diatas meja, aromanya menguar memenuhi seisi ruangan.


Gairah pagiku bangkit. Namun, gagal saat sosok Jack terlihat duduk di sana dengan sebatang rokok yang menyala.


"Mandilah, Zed, aku menunggumu."


"ini meeting kita yang terakhir kan?"


"Ya, tinggal tanda-tangan persetujuan saja, kau bisa istirahat, setelah itu."


"Apa kita akan langsung pulang?"


"Terserah, kalau kamu masih ingin di sini bersamaku, atau kita akan jalan-jalan ke kota lain?"


"Tidak Jack, Ayah sudah menungguku."


"Oke, bersiaplah, Pak Herman menanyakanmu."


"Maksudnya?"


"Mungkin dia tertarik padamu. Tapi coba saja kalau berani." Jack menjawab ucapannya sendiri.


👇👇👇


Aku sudah rapi, cowok ngeselin itu masih duduk di sofa,hanya kepulan asap rokok terlihat membumbung tinggi, mencari celah udara untuk keluar.


"Pas, kan baju yang kubeli untukmu?"


Aku mengangguk.


Aku baru kali ini memakai pakaian sebagus dan semahal ini.


👇👇👇


Pov: Jack


"Aku ingin bicara Jack." gadis itu mendekatiku, setelah kami usai menandatangani kontrak kerja dengan klien.


"Ada apa, Sayang?"


"Aku sedang tak ingin bercanda Jack."


"Aku pun." balasku.


"Oke terserah kalau begitu."

__ADS_1


"Bicaralah, akan aku dengarkan."


" Oke, aku ingin mengatakan satu hal padamu, tapi tidak di sini."


Gadis itu berjalan menuju kamarnya, darahku berdesir, apa Zed akan mengajakku bercinta? Secara hampir sebulan kami tak pernah saling menyapa di dunia maya.


Ternyata dia merindukanku akhirnya.


Oke, Zed, pelayanan terbaik akan kuberikan padamu, tunggu saja kelinci kecilku yang manis.


Aku bergegas membuntuti langkahnya.


Sesampainya di kamar, gadis itu membuka blazzer, syal dan high-heels-nya.


Dadaku makin berdebar tak karuan, tak sabar dengan hal yang akan terjadi pada kami selanjutnya.


Dengan cepat, aku pun membuka jas, kemejaku.


Ketika aku membuka celana panjang tiba-tiba Zed berkata.


"Jack, apa yang kau lakukan?"


"Aku sedang bersiap-siap sayang, tunggu sebentar." jawabku dengan nafas terengah.


"Hai, jangan gila Jack. Ini kamarmu, kenapa kau mau ganti di sini?"


"Sayang, aku tau maksudmu, kita akan lanjutkan pembicaraan ini di ranjangkan?" aku mengedipkan mata.


"Apa? Ranjang, kau pikir aku PSK? Hello, keluar dari kamarku sekarang."


Wajah manis Zed, berubah seketika. Kilatan amarah terlihat dari sorot matanya.


"Aku kecewa Jack, kecewa." dia bergumam, tapi hanya itu yang mampu kudengar.


Astaga! Aku salah mengartikan kode yang diberikan gadis ini.


Tuhan! Sebelum dia murka lebih parah lagi, aku memilih kembali ke kamarku, setelah sebelum meminta maaf.


Zed, maafkan aku, mungkin ini karena kita sudah lama tak saling menyapa di dunia maya.


I miss u, Zed!


Hayolah, kita kembali melepas rindu itu.


Baru saja kubuka laptop.


Ketukan di pintu kamar menghentikan niatku.

__ADS_1


Mungkin room service, kadang mereka datang di saat yang kurang pas.


 


__ADS_2