
penampakan Syaif! Tenang aja di part selanjutnya kita bakal aksi jantannya.
Pokoknya bakal bikin Zee dalam dilema
Pov: Jack
"Hai, Zed, im coming.'
"Zed, kau baik-baik saja?"
Emailku tak dibalasnya hingga pagi hari.
Ah, dia membuatku khawatir saja.
Kekasih mayaku ini sering bertingkah menggemaskan, tapi syukurlah aku bisa menemuinya di dunia nyata pagi ini.
Zee dan Zed!
Tak sabar melihat kelinci kecil ini datang ke kantor.
Jarum jam menunjuk pada angka 8 tapi Zed belum datang juga.
Tumben gadis ini telat.
"Selamat pagi semuanya, maaf, telat." suara serak terdengar.
"Zed." aku berbisik.
Semua mata memandangnya.
Gadis itu terlihat kuyu, matanya sembab, dengan wajah pucat.
Ah, kenapa dia? Apa sakit karena kemarin terlalu lelah, ingin rasanya mendekat padanya lalu berkata, "Zed, kenapa kamu, Sayang?"
Setelah semua tim lengkap maka rapat perencanaan proyek baru yang akan kutangani pun dimulai.
Semua mendengarkan dengan seksama, lumayan dengan bimbingan Laras aku bisa juga berinteraksi dengan mereka. Hingga bisa komunikasi lancar dalam rangka proyek baru yang akan kami garap nanti.
Zed sering mengusap dahinya. Bahkan dia terlihat sangat tegang hari ini. Dahinya pun sering mengernyit seperti menahan sakit.
Gadis itu membuat konsentrasiku buyar.
Rapat kupersingkat, sesekali kulirik raut gadis itu yang semakin pucat.
"Zed, ke ruanganku segera." ucapku sebelum meninggalkan ruang rapat.
Dia hanya mengangguk.
Tak berapa lama.
"Permisi, ada apa pak?" wajah pucat itu nongol di balik pintu.
"Masuk zed."
Dia berdiri di depanku, tubuhnya terlihat gemeteran.
"Zed, kamu sakit?"
Dia menggelengkan kepala.
"Saya... Saya!"
Lalu, "Bruk!" tubuh itu pun ambruk, aku menangkapnya, dia pingsan di pangkuanku.
Kaget, bingung dan takut serta tak percaya jika gadis mayaku akhirnya bisa kusentuh dan kupeluk.
__ADS_1
"Zed." kugoyangkan bahunya. Dia tak bereaksi.
Segera kubaringkan di atas sofa, bergetar kutelpon Frans agar memanggil dokter.
Kau baik-baik saja kan, sayang?
Padahal aku panik luar biasa melihat kondisinya seperti ini.
Kubelai lembut rambutnya, lalu bibir mungil itu, pipi serta dahinya tak luput dari sentuhanku.
Zed!
"Pak, ini dokternya." Frans berdiri di sampingku.
"Oh, tolong periksa dia, dok, pingsan tiba-tiba." ujarku kalut.
Dokter segera memeriksa kondisinya, lalu berkata.
"Dia hanya kecapean, butuh istirahat, dan berilah makan, sepertinya dia belum makan apapun dari kemaren."
Ya, ampun Zed, apa yang kamu lakukan hingga lupa makan? Geramku.
Kelinci nakal ini, Lagi-lagi berhasil membuatku panik parah hari ini.
"Berikan obat lambung ini, setelah dia sadar, sebentar lagi."
Dokter itu pun pamitan.
Aku dan Frans mengangguk bersamaan.
"Bawakan makan ke sini Frans, cari bubur atau apa saja."
"Baik pak." Frans pamit keluar.
"Zed, Sayang, kau baik-baik saja." kudekap tubuhnya.
"Jack, lepaskan aku." dia memberontak.
Aku tak peduli lagi.
"Jangan seperti tadi, aku bisa mati juga kalau kau mati."Bisikku.
Zed terlihat bingung.
"Aku kenapa?"
"Kamu tadi pingsan."
"Pingsan?"
"Ya, kata dokter kau tak makan apapun dari kemaren."
"Ya, aku lupa makan."
"Jangan ulangi lagi, hari ini kau harus makan yang banyak."
"Jack, kenapa kau peduli padaku?" dia menatapku penasaran.
"Nanti kau akan tau."
Frans datang dengan membawa beberapa menu makanan.
"Ini pak pesanannya, saya lanjut kerja lagi."
Aku mengiyakan.
__ADS_1
"Makanlah, Zed."
Kusodorkan makanan itu padanya.
Tuhan! Lahap benar dia menyantap bubur dan sepiring nasi goreng, sedikit lucu saat menyaksikan dia mengunyah.
Lalu minum teh hangat.
Zed, apapun yang kau lakukan kenapa terlihat seksi di mataku?
"Apa benar kau selapar ini, Zed?"
Dia mengannguk.
"Sudah kubilang jangan terlalu sibuk bekerja, kamu ngeyel gak mau denger."
Kusodorkan tissue, dia mengelap mulutnya, mencoba bangkit, namun segera kularang.
"Istirahatlah dulu, aku sudah menyuruh Mirna menggantikan tugasmu hari ini."
"Maafkan aku Jack, aku bukan karyawan yang baik." raut wajahnya terlihat menyesal.
"Sudahlah, tapi kata dokter sepertinya tadi malam kau juga tidak tidur? Kenapa Zed? Apa pekerjaan kantor terlalu membebanimu?"
"Bukan, Jack. Ayahku sakit. Dia demam, aku menjaganya semalaman."
Semalaman? Pantas dia tak membalas emailku.
"Kenapa hari ini kau kerja? Istirahat saja di rumah, kau bisa mengabariku."
"Ayah melarangku Jack, dia tak mau aku lalai tugas, sementara aku masih baru di kantormu."
"Dasar, kelinci nakal, kalau sakit kau juga repot kan?" kuusap dahinya. Dia tak mengelak.
"Istirahatlah, aku akan menunggumu."
"Jack maafkan aku, aku selalu jadi beban untuk orang lain, ayah, Mama, Syaif juga kak Dilara, kini aku juga membebanimu." mata gadis itu berkaca.
Ya Lord! Mengapa aku ikut merasakan sakit hanya dengan melihat dia menangis? Jatuh cintakah ini?
"Sudahlah, jangan pikirkan itu kau bukan beban buatku, kau tau Zed, aku... Aku!"
Kalimat itu tertahan di kerongkongan.
Pengecut kamu Jack!
"Jack, kenapa tidak dengan mama? Kenapa mama sangat membenciku?" dia terisak hebat, kini air matanya turun deras.
Tubuhnya bergetar, dia terlihat sangat rapuh. Seolah aku melihat bidadari kecil ini sangat dan begitu terluka.
"Kenapa mama tak bisa menyayangiku seperti dia menyayangi kakak, apa salahku, aku tak pernah meminta dilahirkan bukan? Tuhan, kenapa nasibku seburuk ini?" dia berkata lirih.
Ada perih luar biasa dari nada suaranya. Aku tau sekarang Zed, kau anak kurang beruntung.
Beban terlalu berat dalam hidupmu, aku bisa tau dari pandangan matamu yang kosong.
"Kenapa aku tak mati saja?" Zed mendekap erat tubuhku. Aku yakin dia tak menyadarinya.
Aku balas memeluknya erat, meletakan kepalanya di dadaku, seperti dalam impianku selama ini.
"Menangislah, Zed! Ada aku di sini, aku akan menjagamu, memberikan kebahagiaan untukmu semampuku.
Di sinilah di dadaku, kebahagiaan itu ada dan hanya untukmu. Dan aku akan bisa melakukannya semuanya untukmu.
__ADS_1