
Pov: Jack
"Selamat malam!"
Apa kabar kamu?"
"Jack, are u there?"
"Are u miss me?"
"Hai apa kau sudah melupakanku?"
Aku terpaku, ada banyak pesan Zed di emailku.
Tuhan, aku mengabaikan gadis ini. Perlahan kuketuk kolom balas.
"Hai, Honey, im here always!" balasku dengan tangan bergetar.
Sepi.
Lima menit kemudian.
"Hai Jack, kamu jahat!"
"Jahat ya? Bukan Dear, aku hanya tak mau mengusik ketenanganmu."
"Basi."
"Serius, aku sangat merindukanmu."
"Rindu macam apa ini?"
"Rindu pada semua hal tentangmu."
"Jack, bisakah kau memelukku sekarang?"
"Aku sedang dan selalu akan mendekap dan memelukmu dengan segenap cinta."
"Oh, Jack! Aku merindukanmu."
Zed mendesah, aku bisa merasakan hembusan napasnya yang lembut.
"Jack!"
"Sayang, kemarilah, biarkan aku mengecup bibir lembutmu."
Lagi-lagi Zed mendesah.
Kami kembali bercinta lewat aksara, hanya bayangan tubuh Zed yang kubayangkan saat ini, Kelinci kecilku yang manis, benar-benar sedang sangat merindu, dia begitu penuh gairah.
Aku mengirimkan foto, dan membalasnya dengan siluet gadis berlingeri menerawang, sangat mempesona.
Gila, benar-benar gila. Aku tak berdaya dibuatnya, gelora jiwa kelelakinku habis dilahapnya kali ini.
__ADS_1
"Jack, Oh!" dia melenguh panjang.
Pertanda dia cukup puas dengan cumbuan yang kuberikan kali ini.
"Zed, tahan dulu, aku masih ingin bersamamu."
"Teruskan Jack, aku pun, ayolah! Lanjutkan, jangan berhenti di sana."
Kini di layar monitor komputer itu seolah sosok Zed tengah terlentang, begitu menantang, darahku mendidih seketika.
Tuhan! Betapa cantiknya Zedku.
"Jack, ayolah, kenapa diam?" manja sekali pertanyaannya.
"Sabar sayang, aku sedang membayangkan tubuhmu berbaring di sink, di depanku."
"Nakal."
"Tapi kamu suka kan?"
"Aku selalu suka pada apa yang ada padamu."
"Begitu pun denganku, jangan menghilang Zed, tunggu akan kubawa kebahagiaan itu untukmu."
"Berjanjilah padaku."
"Aku janji, bukan dia bukan Sya...!" belum sempat pesan itu kukirimkan, Zed off tiba-tiba.
Ada apa dengannya? Dia belum mengucapkan selamat tinggal dan ciuman penutup.
Ah, aku kesal dibuatnya.
Pov: Zee
Mataku terbelalak melihat chat layar monitor Kak Dilara yang terbuka. Jaringan internetnya memang sudah diputuskan tapi isi percakapan masih terpampang jelas.
Tubuhku lemas saat membaca chatting mesra dua orang mahluk di dunia maya, bahkan sebagai wanita aku malu untuk membacanya.
Benarkah Kak Dilara bisa sevulgar ini ketika komunikasi dengan seseorang walaupun hanya di dalam sebuah e-mail?
Kugerakan kursor laptop untuk membuka profil si pengirim pesan.
Tuhan! Wajah itu tak asing bagiku, walau hitam putih dan agak samar. Tak salah lagi, pria berambut gondrong itu Jack, ya dia Jack Nicholku.
Tapi... Kenapa email ini ditujukan pada Gadiza Zidni? Itu emailku kan? Kakak, hanya dia yang tau pasword emailku, karena kami dulu hanya punya satu laptop dan aku sering meminjam miliknya untuk menyelesaikan tugas kuliah.
Lututku bergetar. Dadaku sesak.
Aku memastikan foto itu Jack dengan satu gambar kiriman darinya, Dan disana nampak foto seorang pria yang sangat kukenal.
Dia bertelanjang dada, dengan senyum merekah di bibirnya. Rahang kokoh itu begitu terlihat menggoda.
Namun aku jijik melihatnya.
Shit!
__ADS_1
Jack seakan menyeringai menyeramkan, seolah berkata "Bagaimana Zee, mania bukan?"
Dadaku sesak. Lututku bergetar.
Tuhan! Dia Jack Nicholku.
Apa ini yang menyebabkan kau tak lagi mau bicara padaku Jack?
Ah, kenapa harus begini? Tega sekali kau padaku. Disini aku gelisah, khawatir padamu, sedangkan kamu, bercinta online dengan kakakku.
Gila ini benar-benar gila. Perih hatiku membayangkan mereka bercinta walaupun hanya dalam kata.
Jack, kau bohong padaku, ada hubungan apa antara kau dan kakakku, apa kalian sepasang kekasih?
Kenapa Jack? Lalu apa kak Dilara tau jika aku dan Jack saling mencintai? Kepalaku pusing.
Segera kukembalikan posisi laptop ke semula saat kudengar pintu kamar mandi terbuka.
"Zee, tolong ambilkan handuk kecil kakak di laci." wajah cantik itu terlihat lebih menarik saat basah.
Kakak memang cacat, tapi mama selalu merawatnya, rambut dan wajahnya tak berubah, Kak Dilara mirip dengan mama, kulitnya halus bak pualam.
Aku segera menuruti pintanya, kuserahkan handuk itu padanya.
Kutenangkan hati agara kak Dilara tak curiga.
"Wajahmu pucat sekali, apa kau sakit?" tanyanya, mata bening itu menelisik wajahku.
"Tidak Kak, aku baik-baik saja, cepatlah kak, mama menunggu kita, hari ini jadwal kakak chek up." kilahku.
"Zee, aku sudah sehat, kenapa mama selalu membawaku ke dokter? Katakan pada mama aku bosan minum obat terus-terusan, aku ingin bebas seperti kamu, Syaif dan yang lainnya." Kak Dilara terlihat kesal.
"Kakak gak boleh begitu, justru mama ingin kakak tetap sehat dengan mengontrol kesehatan kakak." aku membantunya mengganti pakaian.
"Zee, bajuku sudah kekecilan, tapi aku tak berani bilang pada mama, apalagi setelah ayah tidak jualan lagi."
"Maksudnya kakak mau baju baru?"
Gadis cantik itu tersenyum malu-malu.
"Baiklah nanti malam kita belanja, aku telpon Syaif dulu, agar dia bisa nganterin kita."
"Zee, terima kasih."
"Sama-sama kak."
Ya, aku harus mengesampingkan urusan pribadiku, ah, biarlah!
Tuhan mungkin sedang ingin menguji hidupku dari berbagai arah. Mungkin Tuhan mau tau seberapa kuatnya aku.
Percayalah, Tuhanku, aku akan baik-baik saja, bagiku takdir-Mu adalah hal yang terbaik.
Seberat apa pun itu.
Aku Zee. Gadiza Zidni. Wanita kuat, wanita yang akan berusaha baik-baik saja dalam dan dengan hal apapun.
__ADS_1
Pict by: Shopia Baequni