
Pov: Jack
Aku bergegas meninggalkan rumah sakit, apa yang dilakukan Dad pada Zed sungguh sangat tega sekali, apa maunya sebenarnya? Bukankah sudah kuperingatkan sebelumnya jika jangan sampai mengusik hidup Zedku.
Seburuk itu kah masa lalu Zed?
Pantas saja gadis itu sikapnya aneh, dia seperti punya dua sisi hidup, bahkan aku sama sekali tak menyangka jika Zed seperti yang kulihat untuk pertama kali.
Ketika kami chatt dan bertemu, dia sama sekali seperti bukan orang yang sama.
Sepertinya Zed begitu haus akan kasih sayang, liar dan pandai bercinta, kenyataannya, gadis itu teramat polos, sedikit cenderung cuek terhadap lelaki, buktinya dia tak mudah untuk kutaklukan.
"Dimana tuan Jeremmy Nichol?" tanyaku pada sekretaris Dad.
"Tuan ada di ruangannya, tapi tadi ada tamu, mohon tuan muda tunggu di sini." sekretaris itu menyuruhku masuk ke ruangan tunggu.
Gila saja, mau bertemu ayahku sendiri harus pake acara tunggu-tungguan segala.
"Tidak usah, aku akan masuk, lagian siapa sih tamunya? Sok penting amat."
"Tunggu tuan, tadi bapak berpesan agar tak mengijinkan siapapun masuk ke ruangannya saat ini. Jadi mohon tuan muda tunggu di sini saja." wajahnya terlihat memelas.
"****!"
Aku mengumpat.
Tak kupedulikan lagi ucapan itu, tanpa bicara kuterobos pintu ruang pribadi dadku.
"Dad."
__ADS_1
Nampak dad sedang bicara dengan dua orang pria bertubuh kekar.
"Jack, bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?' gertaknya.
"Aku mau bicara serius, Dad!"
"Bisa nanti di rumah, saat ini dad sedang ada tamu penting."
"Tidak, aku mau sekarang.'
"Keluarlah kalian, nanti aku hubungi lagi."
"Baik pak," mereka mengangguk hormat.
Setelah dua pria itu pergi. Aku kembali menghampiri Dad.
Dad tak menjawab. Hingga pertanyaan itu kuulangi dua kali. Barulah pria berwajah dingin itu menjawab.
"Itu baru awalnya, Jack."
"Awal katamu Dad? Apa Dad tau apa yang terjadi akibat semua perbuatan Dad padanya?"
"Dia pantas mendapatkannya, Jack." Dad menyeringai, tak ada hal yang bisa kutangkap dari wajah dan sinar matanya selain dari napsu dan keserakahan.
"Dad, aku sudah mengingatkan ini sebelumnya."
"Kau pikir aku takut dengan gertakan anak manja sepertimu?"
"Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku pegang kata kata Dad, jangan panggil aku Jack, jika tak bisa membuktikan ucapanku padamu."
__ADS_1
"Lakukan apa yang kau mau."
"Oke, mulai detik ini, aku bukan Jack Nicholmu lagi, kulepaskan nama Nichol dari namaku."
Dad hanya tersenyum sinis.
"Ini semuanya milikmu, aku kembalikan sekarang." kuletakan kunci mobil, dan semua kartu kredit di atas meja.
"Pikirkan kembali Jack, kau bukan aku, kau anak manja yang tak bisa jauh dari kemewahan yang kuberikan."
"Aku tak serendah itu Dad, aku juga punya harga diri, aku berhak menentukan hidupku."
"Silahkan, nikmati hidup yang kau inginkan itu, suatu saat kau akan mengemis padaku agar memaafkanmu dan mengembalikan semua kemewahan itu."
"tidak akan pernah Dad."
"Puaskanlah hidupmu dengan cinta sekarang, dan kau akan lihat wanita pujaanmu itu akan pergi saat tau kau tak punya apa-apa."
"Zedku bukan wanita seperti itu, Dad."
Kutinggalkan kantor mewah itu dengan hati yang dipenuhi amarah.
Terbayang wajah Zed yang terbaring lemah di rumah sakit.
Ah, aku merasakan apa yang tengah dirasa olehnya. Kenyataan pahit akan masa lalunya.
Tega sekali kamu dad, apa kau pikir Zed itu bukan manusia?
"Lihat saja, Dad, aku Jack, akan kubuktikan padamu jika aku bisa hidup tanpa harta dan segala fasilitas hidup yang kau berikan.
__ADS_1