
Pov: Zee
Syaif membawaku ke sebuah rumah besar dengan gaya arsitektur Eropa.
Rumah siapakah ini? Apa ini rumah Jack? Tapi kenapa bangunan besar ini terlihat sangat sepi.
Lalu Syaif, sepertinya dia kenal dengan pemilik rumah ini.
Benar saja setibanya di sana Syaif langsung memasuki rumah itu dengan tergesa.
"Jack!" Suara Syaif terdengar lantang.
Benar dugaanku, rumah besar ini milik Jack. Hatiku berdebar seketika.
"Nadia, ini aku Syaif, apa kau ada di rumah?" Syaif mengetuk pintu kamar.
Tak berapa lama seorang wanita membuka pintu kamar, wajahnya pucat, dia mengenakan pakaian yang terlihat acak-acakan.
"Nad, dimana Jack? Aku membawa Zee, mereka harus bicara."
"Jack pergi ke klub Antoni, dia mau membuat perhitungan dengan orang-orang jahat itu, aku sudah melarangnya Syaif!"
"Jack ke klub itu sendirian?"
Nadia mengangguk.
"Astagfirullah! Mungkin dia dalam bahaya saat ini." Syaif menoleh padaku.
Aku tertegun.
"Bahaya apa Syaif, apa yang terjadi dengan Jack?" tanyaku khawatir.
"Tenang Zee, di sini saja ya, temani Nadia, aku akan mencari Jack."
"Tapi If,"
"Percayalah padaku, aku akan membawa Jackmu kembali,"
"Syaif."
"Nadia, ini Zee, pacarnya Jack, aku titip dia di sini, sementara aku mencari Jack ke klub itu."
Nadia mengangguk.
Setelah bicara serius dengan Nadia Syaif tergesa pergi, dia hanya memintaku tenang.
Apa yang tengah terjadi sebenarnya? Apa Jack dalam bahaya, kenapa Syaif terlihat sangat khawatir padanya?
Aku dan Nadia saling bertatapan, kami mengingat-ngingat apakah kami pernah bertemu sebelumnya.
"Kamu Zee? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" wajahnya perlahan berubah tenang.
"Ya, sepertinya iya, tapi aku lupa dimana."
"Tidak masalah, yang penting kini kita doakan saja semoga Jack bisa kembali dengan selamat."
"Ada apa sebenarnya? Apa Jack dalam bahaya?"
"Semuanya Salahku Zee, Jack pergi ke sana demi aku."
__ADS_1
"Memangnya kau kenapa?"
"Jack hanya ingin mencari tau siapa yang berani melakukan hal memalukan padaku malam itu, dia mau memberikan pelajaran pada Antoni dan teman-temannya yang sudah menggagahiku di klub miliknya."
"Apa? Kau ... kau diperkosa?" tanyaku gagap.
Nadia mengangguk, matanya basah, duka kembali menyelimuti wajah cantiknya.
Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Aku begitu trauma mendengar kata 'PERKOSA'
Terbayang kejadian naas itu dulu pernah menimpa mama dan membuat hidupku hancur.
"Maafkan aku Nad, aku tak bermaksud berkata sekasar itu!"
"Tak apa Zee, semua memang kenyataan, dan Jack, hanya Jack yang peduli padaku selama ini." Nadia tersedu, aku memeluknya.
Kami menangis bersama.
Ya Allah lindungi pria itu, aku belum sempat bicara apapun padanya.
Jack, kembalilah dengan selamat, aku mohon, kita akan bahas masalah yang sebenarnya, jujurlah padaku, aku akan menerima apapun keputusan yang kau buat nanti.
Aku mencintaimu, lebih dari apapun, tapi demi kak Dilara aku akan merelakan cinta ini tak punya arti.
Mungkin sudah takdirku harus terus berkorban untuk orang-orang yang aku sayangi.
🌸 🌸 🌸
Pov: Syaif
"Mana bos kalian?" tanyaku pada seorang wanita.
"Dimana bos kalian?" gertakku.
"Bos ada di lantai atas, di kamar dua puluh lima, tadi ada seorang pria muda yang juga mencarinya."
Tanpa bicara aku langsung menuju ruangan yang ditunjukkan pelayan yang terlihat bingung itu.
Pikiranku mulai cemas, semoga saja Jack masih dalam keadaan baik-baik saja.
Benar kata Nadia, klub ini berisi orang-orang mesum yang menjijikan.
Tanpa rasa malu mereka bercinta di sembarangan tempat. Wajar jika klub ini pengamanannya sangat ektra, untung Nadia memberikan kode tertentu agar bisa masuk ke klub ini.
Laki-laki dan perempuan bercumbu mungkin sudah wajar, tapi di sini ada banyak pasangan sejenis yang masuk bercinta, tanpa rasa malu. Mereka memandangku dengan tatapan aneh, mungkin mengira aku tamu baru yang juga punya kelainan **** seperti mereka, Naudzubillah!
Akhirnya tiba juga di lantai tiga, aku mencari kamar nomor dua puluh lima, Terdengar keributan di dalam, aku membuka pintu tanpa permisi.
Ya Tuhan, Jack terkapar bersimbah darah. Sedangkan pria yang mengelilingi terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Jack!" aku menghampirinya, tapi Jack tak bergerak, mungkin dia pingsan, karena aku melihat dadanya masih berdetak.
Darah membasahi pakaian, sebuah luka terlihat di perutnya.
Jack bertahanlah, kita akan secepatnya ke rumah sakit.
"Mana yang bernama Anto?" tanyaku dengan kasar.
Mereka tak menjawab. Hanya saling memandang.
__ADS_1
"Mana si bang*** Itu?" tanyaku geram.
"Apa yang kalian lakukan pada Jack?"
"Siapa kau? Aku Anto, apa maumu, jangan sok jadi pahlawan."
"Jadi ini orang yang rela mengorbankan sahabatnya pada orang lain?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan banyak bicara, aku sudah tau semuanya, dan tunggu saja kalian akan membusuk di penjara."
"Penjara? Jangan macam macam denganku, ***!" Anto terlihat kesal.
Aku tak peduli. Bergegas untuk mengangkat tubuh Jack dan membawanya ke rumah sakit.
Dua orang pria maju. Mereka hendak menyerangku atas perintah Anto.
"Lawan aku sekarang, jangan pikir aku takut pada kalian."
Para pria tukang pukul bayaran itu menyeringai. Mereka menyiapkan pisau yang terlihat berkilau tertimpa cahaya lampu.
Mungkin pisau itu pula yang mereka pakai untuk melukai Jack.
"Sebentar lagi polisi akan datang ke tempat terkutuk ini, dan kalian akan mampus di penjara. Kaum Sodom!" gertakku dengan kasar.
Mereka mundur mendengar ucapanku, lalu melirik ke arah bosnya.
"Bos kalian juga sama, dia akan di penjara juga, jangan takut." kataku, menatap tajam para pria yang mulai ketar ketir ini.
Benar saja Anto terlihat kaget, dia langsung panik.
"Jangan main-main denganku, kau belum tau siapa aku!" hardik Anto, masih terlihat garang.
"Kau yang belum tau siapa aku?" aku tertawa, tak berapa lama terdengar ruangan ambulan dan sirene mobil polisi.
Anto dan semua yang ada di sana kalut.
Mereka kebingungan, lalu bergerak meninggalkan ruangan, tapi telat sebagian polisi sudah tiba di sana.
"Angkat tangan, letakan senjata, ambil posisi tiarap!" teriak seorang polisi sambil mengangkat pistol.
Anto CS tak berdaya, mereka pasrah. Mereka diborgol satu persatu.
Letnan Adiyaksa tersenyum padaku.
"Terima kasih, Klub ini sudah lama jadi incaran kami, terkait narkoba dan perdagangan manusia."
"Sama-sama Pak," balasku.
Lalu petugas kesehatan datang dan langsung membawa Jack ke dalam ambulan, aku mendampinginya. Semoga Jack masih bisa bertahan.
Kuhubungi Kak Laras agar segera memberitahukan keluarga Jack tentang apa yang terjadi.
Tak lupa Zee, dia shock mendengar Jack terluka.
Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan hidup untukmu, Jack, Bertahanlah!
Bersambung.
__ADS_1