
Pov: Zee
Hari ini pekerjaan di kantor cukup banyak, apalagi ini hari pertama Kak Laras cuti.
Dia sabar membimbingku dalam bekerja, berkali-kali berkata, "Zee, bekerja itu pake hati tidak cuma pake otak, jangan Sekali-kali bekerja hanya ingin dipandang oleh seseorang yang spesial, semua akan sia-sia saat dia tak mempedulikan kita."
Aku mengangguk.
" Satu lagi, jangan bawa masalah pribadi pada pekerjaan yang kita kerjakan, kerja ya kerja, cukup pahami itu, yang lain akan mengikuti."
"Kakak bisa ya kerja sedisiplin ini?"
"Harus, kerja butuh kesidisiplinan."
Ternyata dengan cutinya Kak Laras pekerjaanku jadi sebanyak ini.
"Zed, istirahatlah." Jack menatapku penuh iba.
"Ini belum waktunya istirahat, Jack." kilahku.
"Tapi kau terlalu capek hari ini."
"Ini resiko pekerjaanku, Jack."
"Tapi aku tak mau kamu terlalu lelah." dia menarik lenganku.
"Hai, kamu bos di sini, seharusnya kamu bangga lihat aku kerja serius, bukan malah nyuruh istirahat sebelum waktunya."
"Tapi Zed."
"Ayolah, ingat kata Kak Laras, kamu harus berubah, Kalau gini terus bisa bangkrut perusahaan orang tuamu ini."
"Ya ampun, Zed, ucapanmu makin mirip dengan Laras, heran aku." dia terlihat kesal.
"Jangan ganggu pak bos, aku sedang bekerja, aku mohon."
"Aku mohon juga, istirahatlah kalau kau merasa capek." ujarnya tak mau kalah.
"Oke." balasku.
Dia mengedipkan mata, terlihat sedikit lucu, apalagi dilakukan oleh seorang bos besar sepertinya.
Jack Nichol, ada apa denganmu, kenapa kau sekhawatir ini padaku?
Kadang aku tak habis pikir padanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ayah aku pulang."
"Jangan berisik, ayahmu sakit, itu karena dia terlalu sibuk mencari duit buat anak gadis kesayangannya." mama membentakku.
"Ayah sakit? Kok mama gak ngabarin aku?"
"Pria itu yang melarangnya. Dia takut mengganggu pekerjaanmu." sungut mama, meninggalkanku.
Aku berlari menuju kamar ayah.
Kubuka pintu kamar perlahan.
Nampak pria itu tengah terbaring lemah. Pantas saja tokonya sepi, bahkan lampu depannya tak menyala.
"Ayah." aku mengahambur ke pelukannya.
"Sayang,kau sudah pulang? Makanlah dulu, pasti kau capek seharian bekerja."
"Ayah kenapa tak mengabariku kalau sakit, aku bisa pulang cepat."
"Ini sakit biasa Zee, ayolah, mandi dulu sana, makan yang banyak biar besok bisa kerja lagi."
"Jangan, kamu baru masuk, bagaimana bisa cuti, apa kata bosmu nanti."
"Tapi ayah."
"Sudahlah, dengarkan kata-kata ayah."
Aku mengangguk, tak bisa membantah lagi.
Malam ini ayah demam, aku tak bisa meninggalkannya, padahal seharian tadi kau sama sekali tak istirahat, demi persiapan acara ke luar kota bareng Jack nanti.
Tapi kondisi ayah sangat tidak memungkinkan untuk ditinggal tidur. Sedangkan mama lebih memilih menemani kak Dilara.
Sesekali ayah mengigau memanggil namaku.
"Zee!"
"Zee!"
Kata itu yang dia ucapkan sepanjang malam. Ayah... Ayah!
Demam ayah semakin tinggi, aku mengompresnya agar sedikit turun.
__ADS_1
Aku bersimpuh di sampingnya. Menggenggam erat jemarinya, Tuhan jangan panggil ayah sekarang, aku belum siap kehilangannya.
"Zee, bangun sayang, kamu harus kerja."
"Ayah bagaimana aku bisa kerja kondisi ayah seperti ini?"
"Ayah sudah baikan, tinggal istirahat lagi, pasti sembuh."
"Tapi ayah."
"Ayolah sayang, dengar kata-kata ayah." dia mengusap kepalaku.
"Baiklah ayah, aku janji pulang cepat hari ini, ayah makan yang banyak ya."
"Mau kemana kamu?"
"Aku masuk kantor ma."
"Lihatlah, anak ini, ayahnya sakit malah tetap milih masuk kerja."
Aku tak menjawab, menatap sepiring nasi goreng di meja makan.
Tiba-tiba aku merasa lapar. Oh my god, kemarin aku lupa makan, pantas pagi ini terasa lapar.
"Eits, mau apa kamu?"
"Makan ma."
"Makan apa? Ini buat kakakmu, kamu sarapan di kantor saja." mama menarik piring dari hadapanku lalu membawanya ke kamar kak Dilara.
Bukan yang pertama mama melakukan ini, tapi tetap saja aku merasa sakit hati.
Mama, kapan kamu menganggapku seperti kak Dilara?
Dengan jari bergetar kupesan ojek online langganan, agar segera bisa tiba di kantor.
Datang ke kantor tak ada lagi waktu buat sarapan, Jack telah menungguku di ruang rapat.
Tuhan kuatkan tubuhku hari ini.
__ADS_1