
Pov: Jack
Hampir lima Belas menit aku menunggunya, tapi gadis itu belum menunjukkan batang hidungnya.
Apa Zed Semarah itu padaku?
Maaf, Zed, aku terbawa suasana, seharusnya aku tak melakukan hal kurang ajar itu padamu.
Bayangan saat aku menciumnya melintas, betapa gugupnya gadis itu, dan aku yakin itu ciuman pertama kali untuknya.
Tubuh, dan gerakakannya sangat kaku saat merespon dan membalas ciumanku.
Tak kusangka dia akan membalasnya, mungkin dia juga terbawa suasana oleh aksi gilaku itu.
Zed, memang aneh.
Semburat merah tak terlihat kontras di wajahnya. Aku tak bisa melupakan momen indah itu, semoga kau pun begitu, Zed.
Pintu kaca mobil diketuk, gadis itu menjulurkan wajahnya.
Seberapa aku bangkit dan Membuka pintu mobil, menaruh kopernya di bagasi.
Dia menghempaskan tubuhnya di sampingku.
"Siap, Zed." tanyaku.
Dia tak menjawab, wajahnya tak menghadap padaku.
"Zed, aku minta maaf."
"Maaf buat apa?"
"Atas kelancanganku padamu."
"Kau sering melakukan itu pada gadis yang dekat denganmu kan, Jack?"
"Tidak sesering yang kau bayangkan." jawabku sekenanya.
"Aku sudah menduganya."
"Tapi aku tak berniat buruk padamu, aku melakukannya spontan, itu dari hatiku, Zed."
__ADS_1
"Dari hati? Apa maksudmu?"
Kuraih jemari gadis itu, dia tak menolaknya.
"Zed, aku... Aku mencintaimu. Sangat dan sangat." ujarku dengan bergetar. Rasanya lega saat kalimat ini bisa keluar dari mulutku.
"Jangan bohong padaku. Aku mohon!"
"Aku tak membohongimu, percaya padaku, aku mencintaimu, berikan kesempatan padaku untuk membuatmu bahagia." ku kecup jemari itu.
"Jack." matanya nanar menatapku.
"Percayalah, Zed, kau akan jadi wanita terakhir untukku."
"Apa aku bisa percaya padamu?"
"Percayalah, Sayang."
Aku meraih tubuh mungil itu.
"Aku juga mencintaimu, Jack, jangan tinggalkan aku." bisiknya.
Kuangkat wajah sendu itu.
"Percaya padaku, aku memang bukan lelaki baik, tapi aku akan berusaha jadi yang terbaik untukmu."
Zed menyusupkan wajahnya di dadaku. Aku membelai rambutnya.
Kelinci liar ini berubah jadi begitu jinak, kukecup keningnya.
Gadis itu memejamkan matanya.
Lalu sudut bibirnya. Terasa sangat manis.
Kembali dia memeluk tubuhku, aku membalasnya, agar gadis itu merasa nyaman berada di dekatku.
Hayalan itu kini jadi kenyataan, gadis yang sekian lama kucari, kuimpikan kini tengah berada dalam dekapanku, rasanya dunia begitu penuh warna.
Zed, kita akan buka lembaran baru itu, akan kuberikan kau sejuta kebahagiaan yang tidak pernah kau rasa sebelumnya.
Kau harus ingat, bukan Hanya Syaif yang bisa membuatmu bahagia. Tapi aku, Jack Nichol pun akan lebih berusaha untuk itu.
__ADS_1
"Apa saat ini aku sudah jadi pacarmu, Jack?"
Mata bulatnya menatapku, terlihat polos dan menggemaskan.
"Tentu saja, Sayang." aku mencubit hidungnya.
"Itu artinya kau akan mengatur hidupku? Aku dengar biasanya pacar itu ngatur kehidupan pasangannya."
"Bisa jadi, makanya sekarang kamu harus nurut sama aku."
"Nurut? Dalam hal apa?"
"Dalam segala hal, contohnya aku gak suka kamu terlalu dekat dengan pria berbadan besar itu."
"Syaif maksudmu?" dia menatapku, penasaran.
Aku mengiyakannya.
"Hm, lebih baik kita gak usah jadian deh." dengusnya kesal, lalu melepaskan pelukanku.
"Kenapa memang? Kau takut ya jauh dari dia?"
"Siapapun kamu, Jack, tolong jangan jauhkan aku dari Syaif."
"Apakah dia begitu berharga untukmu, Zed?"
"Sangat, Syaif adalah sahabat terbaikku, aku ingin hanya tuhan yang bisa memutuskan tali persahabatan kami."
"Oke,aku hargai itu, aku tak akan melarangmu dekat dengan pria itu, tapi jangan membuatku cemburu, sebab aku bisa gila kalau cemburu."
"Gila? Gila seperti apa?"
"Seperti ini."
Kutubruk tubuh Zed, kulumat bibir itu dengan ganas, dia mengerang, dan meronta, memohon agar aku melepaskannya. Tapi aku tak peduli, kuhujani gadis itu dengan ciuman dahsyat yang tak pernah kuberikan pada siapapun.
Dan Zed?
Aku Yakin kau tak kan bisa melupakannya.
__ADS_1