
Pov: Zee
Tergesa aku memasuki ruangan, karena Jack hari ini datang telat, ada banyak berkas yang harus kubereskan.
Laporan dan jadwal rapat Jack dalam seminggu ini, aku sudah mengetiknya dengan rapi, menandai waktu yang terdekat, soalnya Jack pelupa, dia harus selalu diingatkan.
Dasar anak itu, baru kemaren semangat kerja hari ini sudah kacau lagi. Orang kaya moodnya kadang sering banget berubah.
"Zed, hariku akan selalu penuh dengan semangat dan gairah jika kau ada di sisiku."
Rayuannya memang terdengar konyol dan sedikit lebay, tapi entahlah aku selalu suka apa yang dia lakukan, termasuk dengan hal-hal gila khas dirinya.
Tapi Aneh, beberapa hari dia tak mengabari aku tentang kondisi saat ini. Biasanya dia selalu bertanya tentang kabarku.
Si konyol itu juga tak masuk kantor dua hari ini, alasannya membingungkan.
Dasar bocah labil!
Tapi ada yang aneh hari ini, beberapa karyawan menatapku dengan tatapan aneh, mereka berbisik-bisik menjengkelkan.
Sebetulnya bukan hal aneh si, semenjak kejadian di lift itu, aku selalu jadi bahan gosip di kantor, ternyata jadi pacar boss tak seenak yang orang bayangkan.
Mereka selalu menilai apa yang aku lakukan baik itu benar maupun salah hanya karena Jack.
Mereka menghormatiku karena adanya Jack.
Tiba-tiba Syaif menelpon.
"Zee, matikan ponselmu sekarang, tunggu aku di depan kantor, jangan tonton televisi atau apapun, aku mohon." suara terdengar Sarat rasa khawatir.
"Kenapa, If?" tanyaku heran.
"Jangan banyak tanya, dengar saja kata-kataku. sebentar lagi aku sampai di sana. "
"Tapi If!"
__ADS_1
"Dengarkan dan ikuti saja perintahku kali ini." ucap Syaif tegas.
"Oke."
Tanpa bicara lagi, segera kumatikan ponsel setelah Syaif menutup telponnya.
Aku bergegas keluar kantor, rasa penasaran menyeruak.
Ayah, mama, atau kak Dilara?
Ada apa ini?
Atau Jack? Dimana kamu sekarang?
"Mbak, Ini mbak kan?" seorang sekuriti menghampiriku. Saat aku tiba di depan kantor.
Pria itu menyodorkan ponselnya.
Mataku terbelalak, tenggorokanku tercekat.
Terbayang wajah teduh ayah, lalu raut mama dan Kak Dilara yang begitu membenciku.
Apa ini jawaban apa yang selama ini kucari? Ayahku bukan ayah, dan aku adalah anak yang dilahirkan karena mama diperkosa? Tuhan!
Syaif, inikah yang kau takutkan? Hingga kau menyuruhku mematikan ponsel dan tak menonton televisi? Kini Aku tau semuanya if, aku tau semuanya sekarang.
Air mataku mengalir deras, lututku goyah.
Mataku berkunang-kunang, dadaku sesak serasa ditimpa ribuan batu besar.
"Mbak, mbaknya gak apa-apa kan?" sekuriti itu menguncang bahuku.
Samar kudengar suara.
"Mbak, ya Ampun mbaknya pingsan."
__ADS_1
"Tolong, si Mbak ini pingsan!"
"Zee, ini aku, sadarlah, Zee."
"Tolong bantu pak, saya akan membawanya ke rumah sakit.
dunia gelap lalu muncul bayangan masa kecilku yang buruk.
Masa kecil yang jauh dari kata bahagia, hanya ayah yang ada di sisiku, mencurahkan segala cinta dan kasih sayang yang dimilikinya padaku.
Dan pria baik itu bukan ayahku.
Om Hanif bukan ayahku, aku bukanlah Gadiza Zidninya.
Tuhan! Sepahit inikah kenyataan hidup yang harus kulewati.
Zee, lihat kini siapa dirimu? Ini yang kau cari bukan? Inilah penyebab Mama sama sekali tak menaruh kasih itu padamu.
Dan Kak Dilara, benar kata-kata yang diucapkannya padaku selama ini, aku bukan adiknya, aku yang menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka.
Lalu ayahku? Apakah benar aku lahir dari perlakuan pria bangsat itu pada mama?
Ayah, kenapa tak kau ceritakqn hal ini padaku dari dulu?
Ayah, aku bukan putrimu, tapi kenapa kau begitu menyayangiku?
Mama, aku tak meminta kau melahirkanku, mengapa tak kau bunuh saja aku saat bayi, atau tak kau aborsi saja saat aku masih berbentuk janin?
Kepalaku terasa berat. Tak bisa lagi menampung kenangan yang pernah ada dan terjadi dalam hidupku.
Samar, Aku mencium aroma harum sesuatu, ya aku mengenalnya, ini aroma tubuh Syaif.
Syaif, dia ada di sini sekarang.
Aku ingin berkata, "Jangan tinggalkan aku, If, jangan, aku mohon!"
__ADS_1