
Pov: Syaif
Gadis itu terkulai tak berdaya. Usahaku untuk membuatnya tak mengetahui apa yang terjadi sia-sia.
Zee, kini tau semuanya tentang masa lalu kelamnya, masa lalu yang tentu tak diinginkan oleh semua orang terjadi.
Setahun yang lalu om Hanif menceritakan semuanya padaku, siapa Zee sebenarnya.
Dalam dirinya tak ada darah om Hanif, Zee lahir karena istrinya diperkosa seorang bandar narkoba, yang merampok toko perhiasan milik mereka.
Berkali-kali janjin Zee digugurkan, namun dia kokoh bertahan dalam rahim wanita yang tak menghendaki itu.
Keluarga kecil om Hanif jadi perbincangan hangat masyarakat saat itu, baik di kedai kopi murah hingga di kafe mahal.
Hingga akhirnya mereka memilih meninggalkan kampung halaman, merantau ke Jakarta, memulai semuanya dari awal.
Kemewahan yang pernah mereka miliki musnah sudah, mereka menutup identitas keluarga yang sebenarnya.
Hingga lahirlah bayi mungil yang diberi nama Gadiza Zidni. Sosok itu mampu hidup dalam tekanan yang diterimanya dari anggota keluarga, kecuali om Hanif yang tulus menyayanginya.
Aku tau persis, bagaimana tante Ve memukul Zee, mencubit perut dan paha gadis itu hingga lupa lebam dan membiru.
Belum lagi kata-kata kotor yang diucapkan olehnya, akan membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.
"Dasar anak setan lu, kenapa tuhan tak mengijinkan aku mencabut nyawamu dulu. Bangsat."
Sebagai temannya aku kadang merasa heran, kok ada seorang ibu yang berperilaku demikian, selama ini mama selalu pandai membagi kasih diantara kami anak-anaknya.
Kak Syabil, Kak Laras, dan aku, bagi mama semua berhak mendapatkan kasih dan cintanya.
Tapi tidak dengan Zee, hingga dewasa Zee tak pernah mendapatkan mainan dan baju baru, semuanya selalu bekas Kakaknya Dilara.
Gadis manja itu teramat sangat membenci adiknya, hingga musibah itu terjadi, entahlah, keluargaku menyebutnya Azab, karena mulut Dilara terlalu kotor dan culas, dia pandai memfitnah dan mengkambing hitamkan adiknya.
__ADS_1
Dilara tak pernah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, dan Zee adalah kotoran yang dianggapnya hanya ada untuk merusak nama baik keluarganya.
Dilara semakin membenci Zee saat om Hanif justru lebih menyayanginya dibandingkan dia anak kandungnya.
Zee, gadis yang tak pernah merasakan indahnya masa kanak-kanak, selain bersamaku.
Aku tak bisa berkata apa-apa saat om Hanif mengatakan semuanya padaku, pria setengah tua itu berurai air mata, berkali-kali dia menitipkan anaknya padaku.
"Om titipkan Zee, padamu, If. Hanya padamu! Bahagiakanlah dia, buatlah dia tersenyum setelah sekian lama menangis."
"Kenapa om sangat menyayangi Zee?" tanyaku saat itu.
"Zee, berhak mendapatkan kasih sayang, If, dia tak bersalah, dia tak meminta dan tak memilih lahir dari laki-laki mana dia diciptakan." om Hanif menarik napas berat. Lalu berkata lagi.
"Ingat, If, Zee berhak bahagia, seandainya nyawa om bisa ditukar dengan kebahagiaannya, maka akan om berikan padanya."
Aku tak menjawab.
Zee, betapa kulihat dia begitu bahagia saat menyebut nama Jack Nichol.
Mungkin bukan aku yang akan membuatnya bahagia, tapi aku akan berusaha untuk menjaganya.
Kini, semuanya gamblang sudah, tak ada lagi yang harus disembunyikan, entah siapa yang tega membuka masa lalu kelamnya.
"Ayah." gadis itu mengigau.
"Syaif, jangan tinggalkan aku."
Aku tertegun. Di bawah alam sadarnya gadis itu menyebut namaku.
"Tidak akan, Zee, aku tak akan pernah meninggalkanmu." kudekap tubuh lemah itu.
Kuusap butiran air mata di pipinya.
__ADS_1
Mobil kulajukan kembali hingga tiba di sebuah rumah sakit.
👇👇👇
"Mana Zedku?" seorang pria menerobos masuk ke ruang rawat dimana Zee terbaring dengan semua selang infus di lengannya.
"Mana Zedku?" ujarnya gusar.
"Disini tak ada Zedmu, dia Zee, bukan Zed." balasku, mencoba menahan diri.
"Aku mau bertemu dengannya, dia calon istriku."
"Jangan egois, Jack. Bersikaplah dewasa, kau hanya membuat luka lama gadis itu kembali berdarah, dan kau tak akan bisa mengobatinya."
"Ada apa sebenarnya ini?"
"Tanyakan pada ayahmu, siapa yang mengatakan dan meminta membuka rahasia keluarga Zidni dibuka kembali?"
"Maksudmu yang melakukan ini adalah Dadku?"
"Siapa lagi? Sebelum mengenalmu tak ada yang peduli siapa Zee bukan?"
Jack tertunduk, rahangnya mengeras.
"Dad, sudah Kukatakan jangan usik Zedku, tapi kau mengabaikannya." tangan pria itu mengepal. Matanya tajam menatapku.
"Syaif, aku titip Zedku, tenang saja kali ini tak ada yang akan bisa mengganggu kehidupan gadis ini lagi."
Dia berlalu meninggalkanku.
Tau dari lagi mana dia namaku. Apakah Zee yang mengatakannya?
Â
__ADS_1