
Pov: Jack
"Zed!" Aku memeluknya.
Tak peduli pada pandangan dua orang yang tengah berada di sisi gadis itu.
Ya, om Hanif dan Syaif, si pria berbadan tegap itu menatapku heran.
"Maafkan aku Zed, semua ini kesalahanku." bisikku di telinganya.
"Jack." Zed menatapku.
"Tapi aku akan menyelesaikan semua masalah ini, Dadku hanya salah paham saja. Dia hanya ingin tau siapa gadis yang tengah dekat dengan anaknya. Dad tak berniat membuka masa lalumu." aku berusaha menjelaskan semuanya agar Zed dan keluarganya tidak salah paham.
"Oh, jadi ini kelakuan keluargamu?" Syaif menarik tanganku. Membawaku keluar kamar, Kini kami berhadapan.
"Iya, dadku memerintahkan anak buahnya untuk mencari tau siapa gadis yang akan jadi pendamping hidupku, dia tak mau aku salah memilih."
"Lalu bagaimana sekarang, apa kata ayahmu? Apa dia setuju setelah melihat kenyataan hidupnya?"
Aku menggeleng.
__ADS_1
"Aku sudah menebaknya, apa isi otak orang kaya seperti kalian."
"Iya, tapi aku janji akan membereskan semuanya. Aku sudah menekan dadku agar menyetujui hubungan kami."
"Membereskan semuanya? Apa yang mau kau bereskan? Apa kau tau Perasaan Zee, masa lalunya yang kini terkuak pada khalayak? Kamu pikir hidup seseorang itu hanya sebatas uang dan jabatan bukan? Orang sepertimu cuma pantas jadi sampah." dia menunjuk mukaku.
Aku ingin marah, tapi aneh tak bisa sama sekali, pria di depanku ini begitu penuh wibawa, benar apa yang dikatakan Zed, Syaif sangat bijaksana, semua terlihat dari cara bicara yang tenang dan tak terburu napsu, beda sekali denganku.
Aku mulai mengagumi sosoknya, pantas Zed sangat menyayangi pria tegap ini.
"Kau tau betapa aku dan om Hanif mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan apa yang terjadi padanya? Untuk apa? Itu semua agar tak melukai hatinya. Tapi kini semua orang membicarakan gadis itu, mereka tau siapa dan karena apa Zee dilahirkan." Syaif menatapku geram.
"Lihat sekarang, apa akibat dari perbuatan keluargamu padanya, dia kehilangan kepercayaan diri, dia merasa seolah-olah menjadi manusia yang tidak diharapkan kehadirannya di dunia, sedangkan kami selama ini berusaha agar dia bahagia, tersenyum dan bisa merasakan jika masih banyak orang yang mencintainya di dunia ini."
"Maafkan Dadku. Aku tak tau semuanya akan seperti ini, tapi aku sudah melarang dad untuk ikut campur masalah pribadiku."
"Itu masalah kau dan ayahmu, dan aku tidak mau tahu itu. Sekali lagi ayahmu mengusik gadis itu, maka jangan sebut aku Syaif jika tidak bisa membuatnya menyesal." ancamnya dengan raut wajah menekan.
"Jika Dadku kembali berulah, bukan hanya kau Syaif, tapi aku juga akan melawannya, karena bagiku Zed adalah segalanya."
"Buktikan padaku, jika kau benar-benar mencintai Zee, akan kurelakan dia bersamamu jika kau mampu membahagiakannya, tapi jika tidak, aku akan merebutnya darimu, dan itu bukan hal yang sulit buatku, pengecut!" Syaif meninggalkanku. Gontai aku mengikutinya masuk kembali ke ruangan.
__ADS_1
"Jack." Zed memanggilku.
"Iya sayang." aku mendekatinya.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa Zee, istirahatlah, ini urusan laki-laki." Syaif meraih tangan Zed.
"Apa kalian bertengkar?"
"Apa kau pikir dia bisa melawanku?" Syaif menatap Zed. Lalu melirik ke arahku. Sikapnya menyebalkan sekali.
Sepertinya aku harus belajar karate agar bisa mengimbanginya, ah, mengapa dulu ajakan Sam untuk nge-gym selalu kuabaikan? Coba kalau aku juga rajin olahraga, pastinya akan lebih gagah dari dia.
"Jack, kau tidak apa-apa kan?" kembali Zed bertanya.
Sepertinya dia sangat khawatir padaku.
"Aku baik-baik saja sayang, jangan khawatir." bisikku agak keras, berharap Syaif mendengarnya, aku ingin dia tau jika Zed begitu mengkhawatirkanku.
__ADS_1